Guru Agama sebagai Teladan Inklusivitas Toleransi Antarumat Beragama Berbasis Asta Cita Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.59944/jipsi.v5i4.2060Keywords:
Religion teachers, social learning theory, religious inclusivity, interreligious tolerance, Asta Cita, multi-religious schoolsAbstract
Keberagaman agama di Indonesia menuntut sekolah menjadi ruang yang menumbuhkan toleransi, dan guru agama berada pada posisi strategis sebagai figur teladan bagi siswa. Namun, penelitian tentang keteladanan guru agama umumnya masih berfokus pada konteks sekolah dengan siswa berlatar agama tunggal, sehingga peran guru di sekolah multiagama dan kaitannya dengan kerangka kebijakan nasional belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis peran guru agama sebagai teladan inklusivitas dalam penguatan toleransi antarumat beragama di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi Cengkareng berdasarkan poin kedelapan Asta Cita Indonesia. Penelitian kualitatif deskriptif ini menggunakan wawancara semi-terstruktur secara daring terhadap tiga guru agama (Buddha, Katolik, dan Kristen Protestan) yang dipilih melalui purposive sampling, kemudian dianalisis dengan analisis tematik Braun dan Clarke (2006) berbantuan NVivo. Hasil analisis menghasilkan 12 kode yang dikelompokkan menjadi empat tema: inklusivitas dimaknai sebagai penerimaan dan penghormatan terhadap keberagaman; guru menjadi teladan melalui konsistensi perilaku dan keluasan wawasan; toleransi didukung lingkungan sekolah dan diwujudkan melalui praktik lintas agama; serta tantangan dalam menumbuhkan toleransi yang sebagian besar berasal dari luar kelas. Para guru belum mengenal Asta Cita sebagai kerangka kebijakan, meskipun nilai toleransinya tercermin dalam praktik sekolah. Temuan ini memberikan gambaran empiris tentang bagaimana keteladanan guru berperan dalam konteks sekolah multiagama, sekaligus menjadi masukan bagi sekolah dan pembuat kebijakan dalam merancang penguatan toleransi berbasis Asta Cita. Temuan ini bersumber dari persepsi tiga guru sehingga perlu dilengkapi data dari siswa dan observasi.
References
Allport, G. W. (1954). The nature of prejudice. Addison-Wesley.
Archibald, M. M., Ambagtsheer, R. C., Casey, M. G., & Lawless, M. (2019). Using Zoom videoconferencing for qualitative data collection: Perceptions and experiences of researchers and participants. International Journal of Qualitative Methods, 18, 1–8. https://doi.org/10.1177/1609406919874596
Asror, M. (2022). Implementasi pendidikan multikultural dalam upaya mengembangkan sikap toleransi santri di pondok pesantren. Mindset: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1(1), 42–53. https://doi.org/10.58561/mindset.v1i1.26
Awaru, A. O. T., & Bandaso, E. G. (2023). Peran guru dan orang tua dalam mengimplementasikan pendidikan multikultural. Comserva, 3(3), 1147–1154. https://doi.org/10.59141/comserva.v3i03.846
Baidhawy, Z. (2005). Pendidikan agama berwawasan multikultural. Erlangga.
Bandura, A. (1977). Social learning theory. Prentice Hall.
Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa
Campbell, S., Greenwood, M., Prior, S., Shearer, T., Walkem, K., Young, S., Bywaters, D., & Walker, K. (2020). Purposive sampling: Complex or simple? Research case examples. Journal of Research in Nursing, 25(8), 652–661. https://doi.org/10.1177/1744987120927206
Casram, C. (2016). Membangun sikap toleransi beragama dalam masyarakat plural. Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya, 1(2), 187–198. https://doi.org/10.15575/jw.v1i2.588
Darlis, D. (2017). Mengusung moderasi Islam di tengah masyarakat yang multikultural. Rausyan Fikr: Jurnal Studi Ilmu Ushuluddin dan Filsafat, 13(2), 225–255. https://doi.org/10.24239/rsy.v13i2.226
Desimila, D., & Suryana, D. (2023). Upaya guru dalam menanamkan karakter anak usia dini melalui pendidikan multikultural. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7(2), 2474–2484. https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i2.2001
Fadli, M. R. (2021). Memahami desain metode penelitian kualitatif. Humanika, 21(1), 33–54. https://doi.org/10.21831/hum.v21i1.38075
Faridah, N. (2013). Toleransi antarumat beragama masyarakat perumahan. Komunitas: International Journal of Indonesian Society and Culture, 5(1), 60–71. https://doi.org/10.15294/komunitas.v5i1.2368
Ilahi, M. T. (2013). Pendidikan inklusif. Ar-Ruzz Media.
Nashihin, M. I., Kamaludin, F. S., & Ulum, B. (2025). Pengembangan kegiatan proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) berorientasi moderasi beragama. Al-Liqo: Jurnal Pendidikan Islam, 10(1), 94–119. https://doi.org/10.46963/alliqo.v10i1.2692
Nowell, L. S., Norris, J. M., White, D. E., & Moules, N. J. (2017). Thematic analysis: Striving to meet the trustworthiness criteria. International Journal of Qualitative Methods, 16(1), 1–13. https://doi.org/10.1177/1609406917733847
Pettigrew, T. F., & Tropp, L. R. (2006). A meta-analytic test of intergroup contact theory. Journal of Personality and Social Psychology, 90(5), 751–783. https://doi.org/10.1037/0022-3514.90.5.751
Pitaloka, D. L., Dimyati, D., & Purwanta, E. (2021). Peran guru dalam menanamkan nilai toleransi pada anak usia dini di Indonesia. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 1696–1705. https://doi.org/10.31004/obsesi.v5i2.972
Pratiwi, P. S., Seytawati, M. P., Hidayatullah, A. F., Ismail, I., & Tafsir, T. (2021). Moderasi beragama dan media sosial (studi analisis konten Instagram & TikTok). Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 6(1), 83. https://doi.org/10.29240/jdk.v6i1.2959
Rahmah, N., Edwanto, M. N., Widiastuti, A., Wulandari, T., & Rokhim, H. N. (2024). Tantangan guru dalam mengintegrasikan pendidikan inklusif dalam konteks multikultural: Peran dan pengelolaan guru. Jurnal Citra Pendidikan, 4(1), 1453–1457. https://doi.org/10.38048/jcp.v4i1.2954
Saumantri, T. (2023). Aktualisasi moderasi beragama dalam media sosial. MODERATIO: Jurnal Moderasi Beragama, 3(1), 64. https://doi.org/10.32332/moderatio.v3i1.6534
Sirajuddin, S. (2022). Literasi moderasi beragama di Indonesia. Zigie Utama.
Syahfitri, S., Lubis, M. S. A., & Armanila, A. (2024). Penerapan bermain peran dalam mengembangkan moderasi beragama berbasis toleransi pada anak usia dini. Jurnal Raudhah, 12(1), 102. https://doi.org/10.30829/raudhah.v12i1.3493
Syahputra, A. (2024). Peluang dan tantangan moderasi beragama di era digital. INTEGRASI: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan, 1(2), 64. https://doi.org/10.61590/int.v1i02.90
Titin, T., Malau, T. W., & Utara, I. (2024). Dialog antaragama dan kontribusi tokoh agama dalam penyelesaian konflik dan implementasinya untuk memperkuat toleransi. Magistra, 2(1), 1–18. https://doi.org/10.62200/magistra.v2i1.70

























