Penetapan Mahar Dalam Perspektif Hukum Islam Dan Tradisi Lokal Masyarakat Bawean

Authors

  • Mirsa Gulam Zaki Institut agama islam hasan jufri bawean
  • M. Halilurrahman Institut Agama Islam Hasan Jufri Bawean
  • Abdul Halim Institut Agama Islam Hasan Jufri Bawean

DOI:

https://doi.org/10.59944/jipsi.v5i4.1921

Keywords:

Mahar, Hukum Islam, Tradisi Bawean

Abstract

Mahar merupakan kewajiban dalam perkawinan Islam yang pelaksanaannya tidak hanya berlandaskan ketentuan syariat, tetapi juga dipengaruhi oleh tradisi masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis penetapan mahar berdasarkan hukum Islam dan implementasinya dalam tradisi masyarakat Bawean. Penelitian menggunakan metode normatif-empiris dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Data normatif diperoleh melalui kajian Al-Qur’an, hadis, Kompilasi Hukum Islam, pendapat ulama, dan literatur ilmiah. Data empiris dikumpulkan melalui wawancara dengan informan yang terdiri atas dua warga Kecamatan Tambak, tiga tokoh masyarakat Sangkapura, Kepala KUA Sangkapura, dan satu pegawai KUA Sangkapura. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif dengan membandingkan ketentuan hukum Islam dan praktik penetapan mahar dalam masyarakat Bawean. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat ketentuan adat mengenai nominal mahar yang baku. Penetapannya dilakukan melalui musyawarah keluarga dengan mempertimbangkan kemampuan ekonomi calon mempelai laki-laki, kondisi sosial, dan kesepakatan bersama. Selain mahar, terdapat tradisi uang seseh dan penongkok (seserahan) yang merupakan pemberian adat dan memiliki kedudukan berbeda dari mahar. Praktik tersebut pada prinsipnya sejalan dengan hukum Islam karena mengutamakan kerelaan, kemudahan, dan kesepakatan serta dapat dikategorikan sebagai ‘urf ṣaḥīḥ sepanjang tidak bertentangan dengan syariat dan kemaslahatan.

Kata kunci: Mahar; Hukum Islam; Tradisi Bawean; ‘Urf Ṣaḥīḥ; Perkawinan Islam.

References

Akbar, S., & Sainun. (2024). Eksistensi Mahar dalam Perkawinan : antara Simbol Status Sosial dan Kewajiban Agama The Existence of Dowry in Marriage : Between Symbol of Social Status and Religious Obligation. Intizar, 30(30), 1.

Azizah, N., Fahrun Dama, & Sutopo, S. (2025). Penetapan Jumlah Mahar yang Disesuaikan Waktu Pernikahan Menurut Hukum Islam. HOKI : Journal of Islamic Family Law, 1(1), 39–48. https://doi.org/10.55352/hki.v1i1.545

Djawas, M., Agama, I., Negeri, I., & Selatan, S. (2023). The Integration between Syara’and Ade’in Wedding Tradition of Bugis Bone, South Sulawesi: Islamic Law Perspective. Al-Ihkam: Jurnal Hukum Dan Pranata Sosial, 18(2), 342–364. https://doi.org/10.15408/sdi.v20i2.387

Faisal. (2022). EKSISTENSI MAHAR DALAM PERKAWINAN MENURUT KHI DAN FIQH ISLAM. SYARIAH: Journal of Islamic Law.

Khairuddin. (2024). Mahar Dalam Islam: Hukum, Tuntutan, dan Realitas Sosial. Journal of Dual Legal Systems, 1(2), 87–102. https://doi.org/10.58824/jdls.v1i2.222

Khoir, A. M. M., & Naufal, F. (2024). Konsep Mahar Perkawinan Dalam Perspektif Empat Mazhab Dan Relevansinya Pada Era Kontemporer Di Indonesia. Juris Prudentia: Jurnal Hukum Ekselen, 6(2), 12–24. https://journalpedia.com/1/index.php/jhe/article/download/1706/1743

Kamaruddin, K. (2022). The early marriage of the Tolaki Konawe community in theperspective of critical Islamic law. Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam Dan Kemanusiaan, 22(2), 255–269. https://doi.org/10.18326/ijtihad.v22i2.255-269

Liza, N. (2022). Asal - Usul Pulau Bawean.

Majma‘ al-Fiqh al-Islami al-Dawli, “Qarār bi Sya’n al-‘Urf,” Qarār No. 47 (5/9), Kuwait, 15 Desember 1988.

Suhardi, Ahmad Rabi’ul Muzammil, Agus Syahrani Pr. “PERISTILAHAN ADAT PERNIKAHAN PADA MASYARAKAT MADURA DI WAJOK HILIR, KABUPATEN MEMPAWAH,” 2022

Santoso, D., Jafar,W. A., Nasrudin, M., Asmara, M., & Fauzan, F. (2022). Harmony of religion and culture: fiqh munākahat perspective on the Gayo marriage custom. Ijtihad: Jurnal Wacana Hukum Islam Dan Kemanusiaan, 22(2), 199–218. https://doi.org/10.18326/ijtihad.v22i2.199-218

Suroh, S. (2021). Pemberian Mahar dan Uang Hantaran pada Pernikahan Adat Suku Rejang Bengkulu Utara (Prespektif Sosiologi Agama). Jurnal Manthiq, 4(1), 1–6. https://doi.org/10.29300/mtq.v6i1.5178

Soleha, N. F., Ikhwanudin, I., & Prasetiawati, E. (2024). Mahar Perspektif Tafsir Al-Ibriz dan Al-Misbah. CENDEKIA: Jurnal Studi Keislaman, 10(2), 214–228. https://doi.org/10.37348/cendekia.v10i2.436

Yulanda, W., Tjoetra, A., & Lestari, Y. S. (2021). Perbedaan Adat Hantaran Gampong Madat & Rot Teungoh Kabupaten Aceh Selatan. Society, 1(1), 13–20.https://doi.org/10.15408/sdi.v20i2.387.

Ahmad, Masyarakat Kec.Tambak, Wawancara, Bawean, 05 Agustus 2026

Fajar, Masyarakat Kec.Tambak, Wawancara, Bawean, 05 Agustus 2026

Hatta, Tokoh Masyarakat Sangkapura. Wawancara, Bawean, 15 Juli 2026.

Indranuddien, Hasan. Kepala KUA Sangkapura Bawean. Wawancara, Bawean 15 Juli 2026.

Masykur. Pegawai KUA Sangkapura Bawean. Wawancara, Bawean 15 Juli 2026.

Downloads

Published

2026-10-26