Makna Kultural dan Nilai Kearifan Lokal dalam Lagu Rakyat Bima 'Putri Mambora' Serta Implikasinya Bagi Pendidikan Karakter: Kajian Antropolinguistik
DOI:
https://doi.org/10.59944/jipsi.v5i4.1901Keywords:
Antropolinguistik, Kearifan Lokal, Lagu Rakyat Bima, Makna Kultural, Putri Mambora.Abstract
Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur performansi, sistem partisipasi sosial, dan lapisan signifikasi nilai kearifan lokal dalam lagu rakyat Bima Putri Mambora serta implikasinya bagi pendidikan karakter. Menggunakan pendekatan antropolinguistik teori Robert Sibarani (2024), penelitian kualitatif ini menguji 19 baris data lingual dalam empat bait teks lagu melalui teknik simak, catat, kodifikasi unit data (PM-B1-L1 hingga PM-B4-L19), serta rekapitulasi distribusi fungsi. Hasil analisis berdasarkan tiga lapisan signifikasi menunjukkan bahwa pada Lapisan Luar, teks lagu berfungsi edukatif-historis merekam memori kolektif (carita mantoi) krisis sosial masa lampau lewat konsep kematian sosial sukarela (voluntary social death). Pada Lapisan Tengah, polarisasi akibat ego maskulinitas destruktif kaum lelaki (menana mone) diredam melalui norma moral gender yang berakar pada martabat tertinggi (kara wawo), kemurnian batin (pengasara), dan prinsip kepemimpinan adil (ncuhi) yang menempatkan perempuan berdaulat sebagai aktor utama pemutus konflik. Pada Lapisan Inti, ditemukan dominasi dimensi penciptaan kedamaian (sebanyak 5 data) melalui komitmen sterilisasi ruang kosmos (horu dana ro rasa) dan tabu adat tertinggi (mboho ra'a di sarei). Dimensi ini berkelindan dengan dimensi peningkatan kesejahteraan (peace-generation welfare-core sebanyak 1 data) yang disimbolkan oleh transformasi vegetasi kakando (rebung) sebagai penanda ketahanan pangan mandiri. Di samping kontribusi teoretis tersebut, analisis ini berimplikasi langsung terhadap internalisasi 18 nilai pendidikan karakter Kemendikbudristek, khususnya dalam mengukuhkan nilai toleransi, cinta damai, peduli sosial, dan peduli lingkungan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tradisi lisan Putri Mambora berfungsi aktif sebagai instrumen regulatif komunal yang menggariskan bahwa integritas, keselamatan, dan kehormatan wilayah harus selalu diutamakan di atas privilese individu
References
Bima ‘Putri
Mambora’ : Kajian Antropolinguistik..)
Palmer, G. B. (1996). Toward an Anatomy of Cultural Linguistics. University of Texas Press.
Ramlan, & Lubis, T. (2022). Peran Bahasa dalam Representasi Identitas Perempuan. Jurnal Budaya dan
Sastra. (Data Vol/No disesuaikan).
Rita Fiantika, F., Wasil, M., & Jumiyati, S. (2022). Metodologi Penelitian Kualitatif. Global Eksekutif
Teknologi.
Sibarani, R. (2004). Antropolinguistik: Antropologi Linguistik dan Linguistik Antropologi. Penerbit Poda.
Sibarani, R. (2015). Pendekatan Antropolinguistik terhadap Kajian Tradisi Lisan. Retorika: Jurnal Ilmu
Bahasa, 1(1), 94-107.
Sibarani, R. (2024). Antropolinguistik: Sebuah Pendekatan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Sudaryanto. (2015). Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Sanata Dharma University Press.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Tarigan, K. E., & Lubis, T. (2022). Indexicality of Minyak Karo in North Sumatra: An Anthropolinguistic
Perspective. Tradition and Modernity of Humanity, 2(1), 8–25.
Wahyuni, N., & Fauqi, A. (2021). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Daring Menggunakan Rawa
Mbojo pada Matakuliah Vocabulary untuk Mengembangkan Kreativitas Mahasiswa. JIIP - Jurnal
Ilmiah Ilmu Pendidikan, 4(6), 508-514.
Wibowo, S., & Lubis, T. (2022). Naming Paya Badau at Taman Cadika Pramuka Medan: Semiotic
Narrative Analysis. Tradition and Modernity of Humanity, 2(1), 47-55.
Widani, N. N., Lumanauw, N., & Suktiningsih, W. (2021). Indeksikalitas Makanan Tradisional dalam
Upacara Pawiwahan Masyarakat Desa Tibuneneng. Humanitatis: Journal of Language and
Literature, 8(1), 35-52.
Zamhari, A., Hamipah., Elpiana., dkk. (2025). Bahasa Sebagai Cerminan Kebudayaan Bangsa Indonesia.
Inovasi Pendidikan Nusantara, 6(1), 127- 143.
Zainal. (2023). Pemikiran Geertz tentang Simbol Budaya sebagai Sistem Makna. Jurnal Analisis Sosial.
(Data Vol/No disesuaikan).
Zulkarnain, Lubis, T., Ramlan, Dardanila, Hasrul, S., Shaumiwaty, & Saputra, N. (2021). Nandong as a
Culture-Based Effort to Overcome Food Security Toward COVID-19 Pandemic Situation in
Simeulue Island. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 807(2), 022007.

























