Resiliensi Sosial dan Kesejahteraan Spiritual Lansia: Analisis Program LATANSA Sinergi BAZNAS dan Masjid Baitun Nur di Kota Mojokerto
DOI:
https://doi.org/10.59944/amorti.v5i4.750Keywords:
resiliensi sosial; kesejahteraan spiritual; lansia; pemberdayaan; LATANSAAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran program LATANSA dalam meningkatkan resiliensi sosial dan kesejahteraan spiritual lansia di Kota Mojokerto. Program LATANSA merupakan hasil kolaborasi antara BAZNAS Kota Mojokerto dan Masjid Baitun Nur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi pengelola BAZNAS, pengurus masjid, fasilitator program, dan lansia yang berpartisipasi dalam program. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, kemudian diuji melalui triangulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program LATANSA berperan dalam meningkatkan resiliensi sosial lansia melalui penguatan interaksi sosial, dukungan emosional, dan pembentukan jaringan sosial yang inklusif. Program ini juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan spiritual melalui aktivitas keagamaan, seperti pengajian, dzikir, dan pengajaran nilai-nilai Islam yang memberikan ketenangan jiwa dan makna hidup. Keunggulan program terletak pada integrasi dimensi sosial dan spiritual melalui pendekatan berbasis komunitas religius. Faktor pendukung meliputi kolaborasi antarlembaga, dukungan komunitas, fasilitas mobil jemput, layanan kesehatan, alat terapi kaki, serta pemberian dua saset susu kambing pada setiap pertemuan. Adapun hambatan yang dihadapi mencakup keterbatasan tenaga pendukung, perbedaan tingkat partisipasi lansia, dan sistem evaluasi yang belum didasarkan pada indikator yang terukur. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengungkapan pendekatan pemberdayaan lansia yang mengintegrasikan resiliensi sosial dan kesejahteraan spiritual melalui sinergi lembaga zakat dan komunitas masjid. Secara praktis, temuan penelitian ini dapat menjadi bahan evaluasi dan pengembangan program LATANSA maupun program pemberdayaan lansia berbasis komunitas religius, khususnya melalui penguatan aspek manajerial, tenaga pendukung, dan sistem evaluasi berbasis indikator yang terukur.



























