Penerapan Kaidah Fiqh Al-Yaqīn Lā Yazūlu Bi Al-Syakk Terhadap Status Kehalalan Produk Impor Tanpa Label Halal
DOI:
https://doi.org/10.59944/amorti.v5i3.1106Keywords:
Al Yaqin La Yazulu Bi As-Syak, Fiqh, Produk Impor, Lebel Halal, Jaminan Produk Halal, Fatwa MUIAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan kaidah fiqh Al-Yaqīn Lā Yazūlu bi al-Syakk (keyakinan tidak dapat dihilangkan oleh keraguan) terhadap status kehalalan produk impor yang tidak memiliki label halal, serta mengkaji relevansi dan titik temunya dengan regulasi jaminan produk halal di Indonesia, khususnya Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif (library research) dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan fiqh, di mana bahan hukum dianalisis secara kualitatif normatif melalui pola berpikir deduktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan kaidah ini terhadap produk impor tanpa label halal tidak dapat dilakukan secara seragam, melainkan harus memperhatikan posisi epistemik produk dalam spektrum yaqīn–zann–syakk. Pada produk yang bahan bakunya bersumber dari komoditas netral, ketiadaan label halal merupakan kekosongan administratif, bukan indikasi keharaman substantif, sehingga hukum asalnya tetap halal. Sebaliknya, pada produk olahan dengan komposisi kompleks yang asal-usul bahannya tidak dapat dipastikan, ketiadaan label mencerminkan keraguan substantif yang menuntut penerapan prinsip iḥtiyāṭ (kehati-hatian). Penelitian ini juga menemukan bahwa kewajiban sertifikasi halal dalam UU JPH dapat dipahami sebagai bentuk institusionalisasi prinsip iḥtiyāṭ dalam sistem hukum negara, bukan sebagai pertentangan terhadap kaidah fiqh, melainkan sebagai instrumen yang saling melengkapi dalam mewujudkan kepastian hukum dan perlindungan bagi konsumen Muslim di Indonesia.
References
Afidah, W., & Irawan, A. D. (2021). Perlindungan konsumen terkait peredaran produk impor tanpa label halal di Indonesia. Era Hukum: Jurnal Ilmiah Ilmu Hukum, 19(2), 285–298. https://doi.org/https://doi.org/10.24912/erahukum.v19i2.12188
al-Burnu, M. S. (2002). Al-Wajiz fi Idhah Qawa’id al-Fiqh al-Kulliyyah. Muassasah ar-Risalah.
al-Suyuthi, J. (1998). Al-Asybah wa al-Nazhair. Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah.
Al-Zuhaili, W. (1996). Usul al-fiqh al-Islami. Dar Fikr.
Andirja, F. (2018). Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah Al-Kubra: Muqaddimah & Kaidah 1. https://firanda.com/qawaid-fiqhiyyah-al-kubra-muqaddimah-kaidah-1/
Anwar, A. F. A. F., & Salikin, A. D. (2023). Qaeda Al-Yaqinu Laa Yuzaalu Bisyak and Its Implementation in Fiqh Law. Jurnal Legisci, 1(1), 1–15. https://doi.org/https://doi.org/10.62885/legisci.v1i1.13
Aulia, M., & Hanifah, A. (2021). Analisis kesesuaian UU No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal pada pangan impor di Indomaret wilayah Kabupaten Kuningan. Al-Mizan: Jurnal Hukum dan Ekonomi Islam, 5(2), 125–138. https://doi.org/https://doi.org/10.33511/almizan.v5n2.127-146
az-Zarqa, M. A. (1989). Syarh al-Qawa’id al-Fiqhiyyah. Dar al-Qalam.
az-Zuhaili, W. (1989). Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (Jilid I, IV, V). Dar al-Fikr.
Azis, I. (2022). Fiqh Rules About Belief and Doubt. International Journal on Advanced Science, Education, and Religion, 5(3), 120–127. https://doi.org/https://doi.org/10.33648/ijoaser.v5i3.238
Bakry, M., Ilham, M., Musyahid, A., Mundzir, C., & Ramli, A. R. (2022). Reflections of contemporary Islamic law to the spirit doll phenomenon: A sadd al-żarī’ah perspective. Samarah: Jurnal Hukum Keluarga Dan Hukum Islam, 6(1), 20–35. https://doi.org/10.22373/sjhk.v6i1.12974
Hopipah, E. N., & A.T. (2023). Kaidah al-Yaqinu Laa Yuzaalu Bisyakkin: Keyakinan tidak dapat dihapuskan dengan keraguan. Journal Idrisiyyah, 3, 86–103.
Idrus, A. M. (2017). Rahasia hukum Islam terhadap pengharaman pengguguran janin. DIKTUM: Jurnal Syariah dan Hukum, 15(1), 26–42. https://doi.org/10.35905/diktum.v15i1.423
Khallaf, A. W. (2005). Ilmu Usuf Fikih. Toha Putra.
Muslim An-Naisabury, I. A. H. (1433). Shahih Muslim.
Rastiawaty, D. (2023). Tinjauan hukum penerapan sertifikasi halal berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Jurnal Ilmiah Publika, 11(1), 60–72.
Sa’adah, T. F., & Rullyansyah, S. (2022). Implementasi UU Nomor 33 Tahun 2014 Terhadap Status Kedaruratan Halal Obat dan Kosmetika. Camellia: Clinical, Pharmaceutical, Analytical and Pharmacy Community Journal, 1(1), 13–18. https://doi.org/https://doi.org/10.30651/cam.v1i1.13357
Siddiqi, M. N. (2007). Muslim Economic Thinking: A Survey of Contemporary Literature.
Syaripudin, A., & Syafi’ie, M. (2023). Kaidah al-Yaqīn Lā Yazūlu bi al-Syak dan penerapan dalam mengambil hadis ahad. AL-QIBLAH: Jurnal Studi Islam dan Bahasa Arab, 2(3), 370–391.
Tanjung, R. R., Adly, M. A., & Firmansyah, H. (2025). Relevansi kaidah Al-Yaqin La Yuzalu Bi Al-Syakk di era ekonomi digital.
Triyanto, W. A. (2017). Sertifikasi jaminan produk halal menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014. Lex Administratum, 5(1), 150–162.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (2014).
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (1999).
Widjaja, G., & Yani, A. (2003). Hukum Tentang Perlindungan Konsumen. Gramedia Pustaka Utama.
Zaidan, A. K. (2015). Al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh. Muassasah ar-Risalah.


























