Analisis Yuridis Penyelesaian Sengketa Internal DPRD Kabupaten Bandung Melalui Pendekatan Alternative Dispute Resolution
DOI:
https://doi.org/10.59944/jipsi.v5i1.742Keywords:
Juridical Analysis, Internal Disput, Alternative Dispute Resolution, DeliberationAbstract
Internal disputes within regional legislative institutions, specifically the Regional House of Representatives (DPRD) of Bandung Regency, constitute a phenomenon that potentially hinders institutional performance and public service. This research aims to juridically analyze the resolution of internal disputes within the Bandung Regency DPRD through an Alternative Dispute Resolution (ADR) approach. The research method employed is normative-empirical juridical, utilizing statutory and case study approaches. The results of the study indicate that internal disputes within the Bandung Regency DPRD encompass leadership conflicts, struggles for positions within council organs, and differences in political stances among factions. The ADR approach, through mechanisms of negotiation, mediation, and deliberation for consensus (musyawarah mufakat), has proven more effective than litigation in resolving internal institutional disputes within the DPRD. Law Number 30 of 1999 concerning Arbitration and Alternative Dispute Resolution provides the legal foundation for the application of ADR, while the principle of deliberation for consensus enshrined in Pancasila serves as the fundamental philosophy for dispute resolution. The primary obstacles to the implementation of ADR include factional sectoral egos, the absence of specific regulations governing the resolution of internal DPRD disputes, and a weak culture of political compromise. This research recommends the necessity of formulating ADR-based guidelines for resolving internal DPRD disputes, which should be integrated into the council's rules of procedure.
References
Abidin, Z., & Dulnasir. (2022). Dua sisi proses penyelesaian sengketa: Upaya mewujudkan keadilan pemilu (Studi kasus di Bawaslu Kabupaten Purwakarta). Muttaqien: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic Studies, 3(1), 1–18.
Aermadepa. (2019). Penyelesaian sengketa proses pemilu oleh Bawaslu, tantangan dan masa depan. Justitia: Jurnal Ilmu Hukum dan Humaniora, 6(1), 1–12.
Amriani, N. (2012). Mediasi alternatif penyelesaian sengketa perdata di pengadilan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Angga. (2020). Mediasi pertanahan sebagai model alternatif penyelesaian sengketa hak ulayat. Kosmik Hukum, 20(2), 114–120.
Anshori, A., et al. (2017). Negotiation intermediaries dan identifikasi penyelesaian sengketa hak atas tanah masyarakat adat Cek Bocek Salesek Reen Sury di Kabupaten Sumbawa. Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan, 5(1), 105–119.
As'Adi, E. (2012). Hukum acara perdata dalam perspektif mediasi (ADR) di Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Asshiddiqie, J. (2015). Pengantar ilmu hukum tata negara. Jakarta: Rajawali Pers.
Awaludin, et al. (2024). Kewenangan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten/Kota dalam penyelesaian sengketa proses pemilihan umum di Lombok Tengah pada pemilihan umum tahun 2019. Ganec Swara, 18(1), 1–15.
Budiardjo, M. (2018). Dasar-dasar ilmu politik (Edisi revisi). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Devi, I. (2019). Sengketa verifikasi partai politik pada Badan Pengawas Pemilihan Umum. Jurist-Diction, 2(3), 1–20.
Ekon, et al. (2023). Bentuk penyelesaian sengketa proses pemilihan umum. IBLAM Law Review, 3(2), 1–14.
Erick, & Ikhwan. (2022). Mekanisme penyelesaian sengketa pemilihan umum di Indonesia. Jurnal Analisis Hukum, 5(2), 1–16.
Fuad. (2017). Quo vadis pembaharuan hukum pertanahan nasional: Urgensi pembentukan peradilan khusus pertanahan. Lentera Hukum, 4(3), 169–184.
Fuady, M. (2003). Arbitrase nasional: Alternatif penyelesaian sengketa bisnis. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Giyono. (2022). Implementasi pemilihan umum legislatif di Kabupaten Cirebon. Jurnal Yustitia, 8(1), 1–14.
Harahap, M. Y. (1997). Beberapa tinjauan mengenai sistem peradilan dan penyelesaian sengketa. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Hendrianto. (2021). Pilihan sengketa ekonomi syariah: Konsep melalui litigasi dan non litigasi. Al-Amwal: Journal of Islamic Economic Law, 6(1), 1–15.
Huda, N. (2016). Hukum tata negara Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
Kaban, M. (2017). Pentingnya penyuluhan hukum penyelesaian sengketa di luar pengadilan (mediasi). Abdimas Talenta: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 2(1), 1–10.
Lature, A. (2021). Akses konsumen terhadap keadilan dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Jurnal Pemuliaan Hukum, 3(2), 1–18.
Listyaningrum. (2022). Upaya penyelesaian sengketa hak atas tanah di kawasan Wonorejo Kabupaten Blora. Jurnal Multidisiplin Indonesia, 1(2), 1–10.
Madda, et al. (2022). Problematika pengawasan tindak lanjut putusan Bawaslu dan DKPP dalam penegakan hukum pemilu. Jurnal Konstitusi, 19(3), 1–22.
Manan, B. (2003). DPRD, DPR, dan MPR dalam UUD 1945 baru. Yogyakarta: FH UII Press.
Margono, S. (2004). ADR dan arbitrase: Proses pelembagaan dan aspek hukum. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Marzuki, P. M. (2017). Penelitian hukum (Edisi revisi). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Maulana, et al. (2022). Kepastian hukum penyelesaian sengketa oleh Majelis Adat Setikar Kampung dalam sistem peradilan Indonesia. Ius Civile: Refleksi Penegakan Hukum dan Keadilan, 6(2), 1–14.
Meiranda, et al. (2023). Upaya hukum terhadap penyelesaian sengketa tanah ulayat di Kabupaten Kampar. Jurnal Analisis Hukum, 6(1), 1–12.
Miswardi. (2020). Kajian ekonomis penyelesaian sengketa bisnis melalui ADR (Alternative Dispute Resolution). Ekonomika Syariah: Journal of Economic Studies, 4(1), 1–10.
Mpesau. (2021). Kewenangan Badan Pengawas Pemilu dalam penanganan pelanggaran administrasi. Audito Comparative Law Journal, 2(2), 1–15.
Muliyono, et al. (2023). Settlement of the crime of beating through penal mediation to prevent social conflict in Manokwari. Delictum, 2(1), 1–12.
Mulyana. (2022). Peningkatan status hukum kesepakatan perdamaian oleh mediator di luar pengadilan menjadi akta perdamaian. Adhaper: Jurnal Hukum Acara Perdata, 8(1), 1–18.
Norliza'Aini, et al. (2019). Analisis penyelesaian sengketa Partai Solidaritas Indonesia studi putusan Badan Pengawas Pemilu Kota Bandar Lampung. Cepalo, 3(1), 1–12.
Patongloan, A. J. (2019). Penyelesaian sengketa batas antar daerah. Jurnal Akta Yudisia, 4(1), 1–16.
Purnamasari. (2020). Kekuatan mengikat keputusan arbitrase ICSID dalam penyelesaian sengketa penanaman modal. Acta Comitas, 5(1), 1–14.
Rahmadi, T. (2017). Mediasi: Penyelesaian sengketa melalui pendekatan mufakat. Jakarta: Rajawali Pers.
Sahabuddin. (2020). Konsep peradilan sengketa pemilihan kepala daerah. Paulus Law Journal, 2(1), 1–15.
Saputra. (2020). Penerapan sanksi pelanggaran administratif pemilu bagi penyelenggara pemilu. Pleno Jure, 9(1), 1–14.
Soekanto, S. (2015). Pengantar penelitian hukum. Jakarta: UI Press.
Syarifudin. (2020). Bimbingan teknis tentang peran pengawasan dalam penyelesaian sengketa pada pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2020 di Kota Metro. Dedikasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 1(1), 1–10.
Usman, R. (2013). Pilihan penyelesaian sengketa di luar pengadilan. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Yasin, & Koenti. (2022). Faktor-faktor yang mempengaruhi putusan Pengadilan Tata Usaha Negara dalam sengketa pemilu. Kajian Hasil Penelitian Hukum, 5(1), 1–14.
Zain, & Basuki. (2019). Problematika pendaftaran partai politik peserta pemilu di era UU No. 7 Tahun 2017. Wacana Hukum, 25(1), 1–12.

























