Semiotika Peirce pada Gerak Tari Lalayon Masyarakat Desa Gemia, Halmahera Tengah
DOI:
https://doi.org/10.59944/jipsi.v5i3.1513Keywords:
semiotika Peirce tarian lalayon komunikasi nonverbal Gerak tari Nilai keislamanAbstract
Tarian Lalayon merupakan tarian pergaulan tradisional masyarakat Gamrange (Weda, Patani, dan Maba) yang hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Desa Gemia, Kecamatan Patani Utara, Kabupaten Halmahera Tengah. Sebagai bagian dari kesenian rakyat, tarian ini menyimpan sistem tanda yang sarat nilai sosial, budaya, dan spiritual, namun belum banyak dikaji secara mendalam dari sudut pandang semiotika, khususnya pada gerak tangan dan kaki penarinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna semiotik yang terkandung dalam gerak Tarian Lalayon pada masyarakat Gemia dengan menggunakan pendekatan semiotika triadik Charles Sanders Peirce, yaitu representamen, objek, dan interpretant, serta trikotomi tanda berupa ikon, indeks, dan simbol. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi terhadap tokoh adat, pelaku tari, dan masyarakat pendukung tarian di Desa Gemia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak tangan dan kaki dalam Tarian Lalayon memuat makna berlapis: gerak tangan dari luar ke dalam (Patani) dimaknai sebagai simbol merangkul sesama, sedangkan gerak dari dalam ke luar (Weda dan Maba) dimaknai sebagai simbol memberi kasih tanpa pamrih; larangan bersentuhan antarpenari dan batas ketinggian tangan menegaskan nilai kesucian dan penghambaan kepada Allah SWT; sementara gerak kaki memaknai kesabaran, keberanian memulai langkah hidup, dan keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Temuan ini menegaskan bahwa Tarian Lalayon berfungsi sebagai media komunikasi nonverbal yang mewariskan nilai persatuan, kasih sayang, dan spiritualitas Islam tanpa bergantung pada bahasa verbal.
Keywords: semiotika Peirce, tarian lalayon, komunikasi nonverbal, Gerak tari, Nilai keislaman
References
Anggraini, D. A., & Astuti, F. (2020). Nilai-nilai pendidikan karakter dalam gerak tari piring di Sanggar Pelangi Ranah Minang di Kota Padang. Jurnal Sendratasik, 10(1), 156–167. https://doi.org/10.24036/jsu.v9i2.110531
Aristy, I. F., Azhari, I., & Zuska, F. (2018). Komodifikasi tari piring Minangkabau di Sumatera Utara. Jurnal Antropologi Sumatera, 16(2). https://doi.org/10.24114/jas.v16i2.20711
Christian, S. A. (2017). Identitas budaya orang Tionghoa Indonesia. Jurnal Cakrawala Mandarin, 1(1), 11. https://doi.org/10.36279/apsmi.v1i1.11
Derung, T. N. (2017). Interaksionisme simbolik dalam kehidupan bermasyarakat. Jurnal Kateketik dan Pastoral, 2(1). https://doi.org/10.53544/sapa.v2i1.33
Eco, U. (2000). Teori semiotika: Signifikasi komunikasi, teori kode, serta teori produksi tanda (I. R. Muzir, Terj.). Kreasi Wacana.
Fadli, M. R. (2021). Memahami desain metode penelitian kualitatif. Humanika: Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum, 21(1), 33–54. https://doi.org/10.21831/hum.v21i1.38075
Fauzuna, H. (2020). Makna simbol Karapan sapi. Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah, 1(1). https://doi.org/10.19105/meyarsa.v1i1.3242
Hasim, R., Hasim, D., & Amelia, R. (2023). Ternate Sultanate palace: A multifaceted hub at the crossroads of culture and politics. International Journal of Current Science Research and Review, 6(12), 7619–7626. https://doi.org/10.47191/ijcsrr/v6-i12-18
Irianto, A. M. (2016). Komodifikasi budaya di era ekonomi global terhadap kearifan lokal: Studi kasus eksistensi industri pariwisata dan kesenian tradisional di Jawa Tengah. Jurnal Theologia, 27(1), 212–236. https://doi.org/10.21580/teo.2016.27.1.935
Khairunnisa, K., & Darmawati, D. (2022). Makna gerak tari Piriang Suluah di Sanggar Aguang Kelurahan Sigando Kecamatan Padangpanjang Timur Kota Padangpanjang. Jurnal Sendratasik, 11(2), 165–180. https://doi.org/10.24036/js.v11i2.114567
Kirana, M. W. (2023). Identifikasi makna komodifikasi tari piring melalui perspektif komunikasi nonverbal. PRASI, 18(1), 40–49. https://doi.org/10.23887/prasi.v18i01.60759
Koentjaraningrat. (2015). Pengantar antropologi. Rineka Cipta.
Kusumadinata, A. (2015). Peran komunikasi dalam menjaga kearifan lokal (Studi kasus Sasi di Desa Ohoider Tawun, Kabupaten Maluku Tenggara). Jurnal Sosial Humaniora, 6(1), 23–32. https://doi.org/10.30997/jsh.v6i1.496
Kusumawati, T. I. (2019). Komunikasi verbal dan nonverbal. Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling, 6(2). https://doi.org/10.30829/al-irsyad.v6i2.6618
Laoli, A. T. D., Sinambela, M., & Lumbantobing, R. (2025). Analisis makna tari Maena dalam pesta adat Falowa (pernikahan) pada masyarakat di Kecamatan Hiliduho Kabupaten Nias. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 1(4), 1363–1369. https://doi.org/10.63822/sgswwb67
Lulua, L., & Jayanti, R. (2026). Analisis simbolis makna dalam Tarian Cendrawasih tradisional budaya Maluku Kabupaten Kepulauan Aru dalam penyambutan tamu kehormatan. Pubmedia Social Sciences and Humanities, 3(3), 8. https://doi.org/10.47134/pssh.v3i3.565
Moleong, L. J. (2017). Metodologi penelitian kualitatif (Edisi Revisi). PT Remaja Rosdakarya.
Patriansyah. (2017). Analisis semiotika Charles Sanders Peirce karya patung Rajudin berjudul Manyeso diri. Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 16(2). https://doi.org/10.26887/ekse.v16i2.76
Rahmansah, E., Noe, W., Sawaludin, S., Riyanto, A., & Hasyim, R. (2024). Preserving the Mandi Safar tradition to foster social caring: A case study in South Halmahera. Waskita: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter, 8(2), 136–146. https://doi.org/10.21776/ub.waskita.2024.008.02.2
Santoso, I. (2016). Pasukan khusus Pangeran Diponegoro masih menari (Studi historis kesenian tari tradisional Reyog Bulkiyo Blitar). Jurnal Sosiologi Pendidikan Humanis, 1(1), 21–27. https://doi.org/10.17977/um021v1i12016p021
Sobur, A. (2004). Semiotika komunikasi. PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. (2019). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
Sulistiyarini, S., & Handayani, W. R. (2023). Tradisi lisan kesenian Topeng Ireng di Kabupaten Magelang: Kajian etnolinguistik. Metahumaniora, 13(2), 114. https://doi.org/10.24198/metahumaniora.v13i2.43480
Suryaningrum, N. K., & Utina, U. T. (2026). Makna simbolik gerak tari Rejang Adat Tumbu pada upacara Piodalan Ageng di Pura Batur Banjar Tumbu Kaler Karangasem, Bali. Ranah Research: Journal of Multidisciplinary Research and Development, 8(3). https://doi.org/10.38035/rrj.v8i3.2050
Syahrial, S. (2013). Guna dan fungsi tari piring Padang Magek Sumatera Barat. Greget, 12(2). https://doi.org/10.33153/grt.v12i2.495

























