https://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/issue/feedJurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner2026-08-12T10:53:32+07:00Dr. Husna Nashihin, M.Pd.I.info@amorfati.idOpen Journal Systems<p>Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner <a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20220912182198052">ISSN 2962-9187</a> <a href="https://doi.org/10.59944/jipsi">DOI 10.59944</a> with SK ISSN <a href="https://drive.google.com/file/d/1yxJWFOqKHA2HlsUZ_mVOfdX8MwKUPx3Y/view?usp=sharing">BRIN Decree Letter</a> with <a href="https://drive.google.com/file/d/1heZheZLiwgZe963mbeLJUXvFMwp6N0Cu/view?usp=sharing"><strong>SINTA 4 Accredited</strong> </a> <strong><a href="https://drive.google.com/file/d/13eND_iOXheYSUQrPagYj_6D9Zkz3WN7V/view?usp=sharing">Certificate</a> is</strong> a <strong>international journal</strong> published four times a year published by <a href="https://amaayo.org/">Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta</a>. This journal is published four times a year in<strong> February</strong>,<strong> May</strong>, <strong>August</strong> and <strong>November</strong>.</p> <p>Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner is an international journal with an <a href="https://drive.google.com/file/d/1_5BnR76CZulRqPrRCdBp4Iv1O8WYmBfR/view?usp=sharing">Interdisciplinary Scope</a>. The journal's scope includes Interdisciplinary <strong>Science and Education</strong>, <strong>Islamic Education and Science</strong>, <strong>Integration of Science and Islam</strong>, <strong>Islamic Thought and Philosophy</strong>, <strong>Integration of Social Sciences</strong>, <strong>Humanities, and Islamic Studies</strong>, <strong>Islamic Economics and Business Studies</strong>, and <strong>Islamic Ethics in Science and Technology</strong>.</p>https://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1076Sistem Pembinaan Pondok Pesantren terhadap Perkembangan Karakter Santri di Ma’had Aly Al-Furqon Putri Magelang2026-06-29T17:56:50+07:00Nurunnissa Basrinissanurunnissa@gmail.comEndah Tri Wahyuningsihendaht377@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem pembinaan karakter di Ma’had Aly Al-Furqon Putri Magelang serta mengkaji peran musyrifah, organisasi mahasantri (HIMMA), santri senior, dan lingkungan asrama dalam mendukung pembentukan karakter mahasantri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan satu mudir, satu musyrifah, satu ketua HIMMA, dan dua mahasantri senior. Data dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pembinaan karakter dilaksanakan melalui pendidikan berbasis asrama selama 24 jam yang mengintegrasikan pembiasaan ibadah, keteladanan, pendampingan, pengawasan, kegiatan organisasi, dan budaya religius dalam kehidupan sehari-hari mahasantri. Musyrifah berperan sebagai pembimbing sekaligus teladan melalui pendekatan humanis dan persuasif, HIMMA berfungsi sebagai wadah pengembangan kepemimpinan dan tanggung jawab, sedangkan santri senior berperan sebagai teladan sosial dalam proses internalisasi nilai-nilai karakter. Keberhasilan sistem pembinaan didukung oleh lingkungan pesantren yang religius, konsistensi pembiasaan kegiatan, keteladanan pendidik, keterlibatan organisasi, serta kesadaran diri mahasantri. Adapun faktor penghambat meliputi perbedaan latar belakang mahasantri, kejenuhan akibat padatnya aktivitas, pengaruh media sosial, dan keterbatasan intensitas pendampingan. Secara keseluruhan, sistem pembinaan tersebut memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter religius, disiplin, tanggung jawab, kemandirian, dan kematangan sosial mahasantri.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-04T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/841Konstruksi Konseptual Pendidikan Karakter Anak dalam Pemikiran Ibnu Qayyim al-Jauziyyah: Kitab Tuhfatul Maudud 2026-06-14T21:16:07+07:00Miranda Ganimirandahigani@gmail.comEndah Tri Wahyuningsihendah377@gmail.com<p>Pendidikan karakter anak dalam pendidikan Islam semakin penting di tengah perubahan sosial, perkembangan digital, dan melemahnya peran keluarga sebagai pusat pendidikan. Kitab Tuhfatul Maudud Biahkamil Maulud karya Ibn Qayyim al-Jauziyyah memuat prinsip pendidikan karakter yang relevan, namun memerlukan pendekatan manajerial yang sistematis agar dapat diterapkan dalam pendidikan modern. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model manajemen pendidikan karakter anak berbasis fungsi POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) berdasarkan Bab 15 dan 16 kitab tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-normatif dengan metode studi kepustakaan. Data diperoleh dari teks kitab, literatur ilmiah, dan penelitian terdahulu, kemudian dianalisis secara tematik-interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep POAC telah tercermin dalam pemikiran Ibn Qayyim. Planning mencakup perumusan tujuan dan perencanaan pengasuhan anak. Organizing terlihat dalam pembagian peran keluarga dan penciptaan lingkungan pendidikan. Actuating diwujudkan melalui keteladanan, pembiasaan ibadah, nasihat, serta pengembangan potensi anak. Controlling dilakukan melalui pengawasan, evaluasi, dan perbaikan pola asuh secara berkelanjutan. Penelitian ini menghasilkan model konseptual manajemen pendidikan karakter yang dapat diterapkan secara sistematis dalam keluarga maupun lembaga pendidikan Islam.</p>2026-07-11T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/972Analysis of Traditional Market Management in Improving Millennial Consumer Services Through Cleanliness and Security from a Sharia Economic Perspective (Paiton Probolinggo New Market Study)2026-06-22T23:13:04+07:00Musthofa Syukurmusthafasyukur@gmail.comFivia Saddha Inayah fiviainayah760@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Paiton New Market in Probolinggo Regency is a strategically located traditional market that plays a vital role in meeting community needs. Amidst competition from modern markets and digital platforms, improving services, particularly in terms of cleanliness and security, is key to maintaining market attractiveness. This study aims to examine how traditional market management, particularly in terms of cleanliness and security, can contribute to service improvements and re-attract millennial consumers to shop at Paiton New Market from a sharia economic perspective. The study employed a qualitative case study approach using interviews, observation, and documentation. Data reduction, presentation, and conclusions were analyzed through triangulation of sources and techniques.</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>The results show that Paiton New Market implements strategies to attract consumers by improving its cleanliness and security services. Cleanliness is maintained through scheduled routine cleanings, the placement of trash bins in several locations throughout the market, and collaboration between market management and vendors to maintain a clean environment. Security personnel guard the market area, monitor activities, and maintain order for vendors and visitors. From a sharia economic perspective, these cleanliness and security services reflect the values of trust, responsibility, and shared well-being. With good management in both aspects, Pasar Baru Paiton provides a sense of security and comfort for visitors, attracting consumers, especially millennials, to shop at traditional markets.</p>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/971The Meaning of Blessings in Sharia-Based Online Business: A Study of Digital MSMEs2026-06-22T23:12:24+07:00Busadi1adi831456@gmial.comDesy Bariyyatul Qibtiyahdesyqibtiyah@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Economic developmentDigital technology encourages Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) to utilize digital technology in business activities, including Sharia-based businesses. This study aims to understand the meaning of blessings in Sharia-based online businesses at the Kopi Kecapi (Hani Green) MSME in Alastengah Village, Sumbermalang District, Situbondo Regency. This study also analyzes the implementation of business digitalization through the Shopee, TikTok Shop, and Tokopedia platforms, as well as the implementation of Sharia values in digital business practices. The research method used is a qualitative approach with data collection techniques such as in-depth interviews, observation, and documentation. Data analysis is carried out through data reduction, data presentation, and thematic conclusion drawing. The results show that digitalization has a positive impact on business development, especially in expanding market reach and increasing sales turnover. The Shopee platform is the most dominant marketing medium because it is considered more effective, easy to use, and has a wider consumer reach than others. Digitalization also helps business actors market Arabica coffee products to various regions in Indonesia without requiring large promotional costs. Furthermore, the implementation of Sharia values such as honesty, trustworthiness, fair pricing, and maintaining halal product certification are crucial factors in building consumer trust in digital transactions. In this study, blessings are not only interpreted as material benefits, but also encompass peace of mind, business sustainability, and benefits for the surrounding community, particularly local coffee farmers. This research demonstrates that digitalization and Sharia values can work in harmony to support the success and blessings of Sharia-based digital MSMEs.</p> <p> </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/973Analysis of the Competitive Advantage of Madura Stores in Business Competition in the Horseshoe Region: A Review of Islamic Business Ethics2026-06-22T23:13:49+07:00Ainol Yaqinainolyaqin1991@gmail.comOktavia Nur Safitrioktasafitrii1910@gmail.comAzizi Abu Bakarabazizi@uum.edu<table> <tbody> <tr> <td> <p>The dynamics of retail competition in Indonesia showcase the unique resilience of traditional businesses, one of which is Toko Madura. This study aims to analyze in depth how the application of Islamic business ethics values creates a competitive advantage for Toko Madura in facing competition, particularly in the Tapal Kuda area, East Java. Using a qualitative case study approach, data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation studies. The results reveal that Toko Madura's competitive advantage stems from the internalization and implementation of Islamic ethical values such as shiddiq (honesty), amanah (responsibility), 'adl (justice), and ta'āwun (mutual assistance) in its business operations. These values are manifested in an interest-free credit system (lending), close kinship relationships with customers, flexible operating hours, and adaptation to the socio-economic conditions of the local community. The application of these values not only builds strong customer loyalty and trust but also serves as a key factor in business resilience amidst the onslaught of modern retail. This study concludes that the integration of sharia principles and the local wisdom of Pendalungan culture creates a sustainable and competitive business model. The findings are expected to serve as a strategic foundation for the development of values-based MSMEs and contribute academically to more contextual studies of sharia economics.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/974Implementation Of The Subsidized Fertilizer Pricing Policy For Farmers And Retail Outlets In Probolinggo: An Analysis From The Perspective Of Maqasid Syariah 2026-06-22T23:14:19+07:00Saifuddinsailmuda@unuja.ac.idSiti Maryammaryamsiti7823@gmail.com<table width="586"> <tbody> <tr> <td width="417"> <p>The purpose of this study is to analyze the implementation of the subsidized fertilizer pricing policy for farmers and retail outlets in Probolinggo Regency and to evaluate it from the perspective of Maqasid al-Sharia. This study employs a qualitative case study approach through interviews, observations at fertilizer retail outlets, and analysis of sales documents. The research findings indicate that the implementation of the subsidized fertilizer pricing policy still faces uncertainty regarding pricing practices at the retail level, creating a dilemma between compliance with the Maximum Retail Price (MRP) and the sustainability of retail operations. Nevertheless, adjustments have been made to enable farmers to purchase fertilizer at prices that are relatively in line with the MRP, accompanied by transparency regarding retail operating costs. The novelty of this study lies in its integration of the analysis of subsidized fertilizer pricing policies involving farmers and retail outlets within the framework of Maqasid al-Sharia, a topic rarely addressed in previous literature, which generally focuses only on either distribution or agricultural productivity separately. The findings of this study contribute to the development of Islamic economic studies, particularly in the area of public policy in the agricultural sector. The implications of this study suggest that fertilizer subsidy policies need to strengthen mechanisms for price transparency, distribution oversight, and the balance of interests between farmers and retail outlets to align with the principles of justice (ʿadl) and public interest (maslahah) in the Maqasid al-Sharia. It is hoped that these findings will serve as a basis for policymakers to improve the fertilizer subsidy system, making it more equitable, effective, and sustainable.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/975Pembentukan Brand Awareness UMKM Kripik Pisang Untuk Meningkan Penjualan melalui Media Sosial Di Desa Gondosuli dalam Perspektif Ekonomi Syariah2026-06-22T23:14:39+07:00Usmiatul Hasanahmiacntq123@gmail.comMohammad Syaiful Su’ibsyaifulsuib@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study aims to explore the strategies used by banana chip MSMEs in Gondosuli Village to strengthen brand awareness through social media while preserving local socio-cultural values. A descriptive qualitative approach with a case study design was employed. Data were collected through in-depth interviews with ten key informants consisting of MSME owners, consumers, and village officials, supported by participant observation on WhatsApp Business and TikTok, as well as documentation of digital content and product packaging. The findings reveal three main branding strategies: utilizing social media for local product storytelling, integrating cultural symbols and local language into digital content, and promoting community collaboration in disseminating brand messages. These strategies enhance consumers’ emotional attachment while preserving local cultural identity in the digital environment. From the perspective of Islamic economics, digital marketing should uphold the principles of honesty, trustworthiness, transparency, and fairness. The novelty of this study lies in integrating local cultural values into social media-based branding strategies, providing practical implications for strengthening MSME competitiveness, expanding market reach, and supporting community-based economic empowerment through culturally rooted digital marketing.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/976Implementation of Late Payment Fines on TikTok PayLater: A Perspective of Islamic Economic Contract Law2026-06-22T23:15:28+07:00Tri Aprinia Astutikapriniaastutik@gmail.comSaifuddinsailmuda@unuja.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Study This use approach qualitative with method normative-juridical based studies bibliography . Methods This chosen because of research focus on analysis law to practice fine delay in TikTok PayLater service based on principle law Islamic economics , in particular draft ta'widh and gharamah . Study This aim analyze implementation fine delay in TikTok paylater service as one of the the growing Buy Now Pay Later (BNPL) system in ecosystem digital finance . Practice fine delay become issue important Because potential contain element usury , gharar , and cause injustice in perspective law agreement Islamic economics . Research results show that formally provisions fine has agreed in digital agreement , however in a way substantive its implementation potential Not yet fully in accordance with DSN-MUI fatwa No. 17/2000, especially related verification ability customers and transparency management of fine funds . Therefore that , is necessary more mechanisms clear and transparent so that implementation gharamah and ta'widh No deviate from principle justice in Islamic economics.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/977Protection Consumer In Pre-Order Based Transactions Salam Contract : The Role of Sharia Fintech and Mechanisms 2026-06-22T23:15:59+07:00Romzatul Widadromzatulwidad382@unuja.ac.idHanin Fara Atiqohhaninf907@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>The development of digital technology encourages changes in economic transaction practices, including the use of pre-order systems for UMKM. However, from the perspective of sharia economics, this practice still faces problems such as delays in delivery, mismatches of goods, and lack of transparency that have the potential to cause elements of gharar. Akad salam is a relevant concept in this transaction, while sharia fintech with an escrow mechanism can act as a consumer protection solution. This study aims to analyze the suitability of pre-order practices in Ayubi Hijab Kraksaan UMKM with the salam contract and examine the role of sharia fintech and escrow mechanisms. The method used is a qualitative approach with a case study design through interviews, observations, and documentation. The results of the study show that the practice of pre-ordering has fulfilled some of the principles of the salam contract, especially in advance payment and clarity of goods specifications, although there are still obstacles to the timeliness and suitability of products. The implementation of the escrow mechanism has been proven to increase transaction security, consumer confidence, and minimize the risk of default. Therefore, the integration of salam contracts, sharia fintech, and escrow is an innovative model that supports digital transactions that are transparent, fair, and in accordance with sharia principles.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/978Analysis Weather to Instability Price of Large Red Chili Using Time Series Based Prediction: The Perspective of Price Fairness in Islamic Economics2026-06-22T23:16:17+07:00Mochamad Lutfan Hafidullahmlutfanhafid@gmail.comSaifuddinsailmuda@unuja.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study was conducted to examine the influence of weather conditions on large red chili production and farmer-level price instability in Paiton District, considering that fluctuations in rainfall, temperature, and seasonal patterns often affect production and reduce farmers’ income. A quantitative approach was employed using primary data collected through questionnaires from 70 large red chili farmers and secondary data on historical weather and price records. The data were analyzed using validity and reliability tests, simple linear regression, and time series analysis to determine the relationship between weather conditions and price instability. The results reveal that weather conditions have a significant effect on price instability (p = 0.000), with a coefficient of determination of 52.5%, indicating that variations in weather contribute substantially to production changes and subsequent price fluctuations. By integrating weather-related variables with a time-series analytical approach, this study provides empirical evidence that enriches agricultural econometric research while offering practical implications for farmers in planning planting schedules, supporting policymakers in designing weather-based price stabilization strategies, and encouraging the development of early warning systems and weather-based price forecasting models.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/926The Post-Truth Phenomenon On Social Media In The Perspective Of The Qur'an: A Study Of Tafsir Al-Kasysyaf By Az-Zamakhsyari2026-06-23T19:32:25+07:00Mushollimusholliready@unuja.ac.idAbdul Karimkarimkamil22051998@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study examines the post-truth phenomenon on social media from the Qur'anic perspective using Al-Kasysyaf by Az-Zamakhshari as the primary interpretive framework. Unlike previous studies that mainly discuss post-truth from the perspectives of communication, politics, or normative Islamic ethics, this study highlights the novelty of Al-Kasysyaf as an epistemological framework for interpreting contemporary digital information disorders. A qualitative library research approach combined with digital content analysis was employed to analyze the relationship between post-truth practices and Qur'anic principles of information ethics. The findings reveal three main points. First, there is a significant gap between the Qur'anic principle of tabayyun and digital practices that prioritize virality over factual verification. Second, the Qur'an promotes critical reasoning and epistemic responsibility in receiving and disseminating information. Third, Qur'an-based digital literacy, interpreted through Al-Kasysyaf, provides an ethical framework for preventing hoaxes and disinformation while maintaining social integrity. This study contributes theoretically by extending the application of classical Qur'anic exegesis to contemporary digital communication and practically by providing a conceptual foundation for educators, digital media users, and policymakers in promoting ethical and responsible digital communication.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/991Implementasi pembiayaan mudharabah dalam meningkatkan kesejahteraan anggota koperasi pp. Islamiyah syafi’iyah 2026-06-22T23:17:01+07:00Deny Zainur Rizqidenyzainurrizqi@gmail.comMohammad Syaiful Su'ibsyaifulsuib@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p><em>This study aims to analyze the implementation of mudharabah financing at the Islamiyah Syafiiyah Islamic Boarding School Cooperative and its contribution to members’ well-being in a comprehensive manner, covering economic, social, and business sustainability aspects. Additionally, this study also examines the role of Sharia contract literacy and the effectiveness of business mentoring in supporting the success of the financing. The method used is a qualitative approach with a descriptive-analytical character. The research findings indicate that mudharabah financing has been conducted in accordance with Sharia principles and has contributed to improving members’ welfare, particularly in the economic aspect through increased income and business development. However, its effectiveness has not yet been optimal due to factors such as members’ contract literacy levels, the quality of business mentoring, and an unstructured monitoring system. The implications of this study emphasize the importance of improving contractual literacy, strengthening business mentoring, and improving the cooperative management system to optimize the role of mudharabah financing in a sustainable manner.</em>).</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1195Islamic Education And The Challenges Of Globalization2026-07-13T22:06:44+07:00Suardisuardiballa@gmail.comBahaking Ramabahaking.rama@yahoo.co.idAfifuddin Harisahafifuddin.harisah@uin-alauddin.ac.id<table width="586"> <tbody> <tr> <td width="417"> <p>Globalization has brought significant changes to various aspects of human life, including the field of education. The advancement of information technology, communication, economics, and global culture presents both opportunities and challenges for Islamic education. On the one hand, globalization provides broader access to knowledge and technology; on the other hand, it may give rise to various issues such as moral degradation, identity crises, secularization, and the weakening of Islamic values among younger generations. This article aims to examine the challenges posed by globalization to Islamic education and to explore strategies for addressing them. The study employs a library research method by analyzing relevant literature, books, and scholarly articles. The findings indicate that Islamic education needs to undergo transformation through the integration of religious and scientific knowledge, the strengthening of character education, the development of digital literacy, the enhancement of educators’ competencies, and the productive and ethical utilization of technology. Therefore, Islamic education can remain relevant in responding to global dynamics while preserving its identity and fundamental Islamic values.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1216Pengaruh Pemahaman Standar Akuntansi Pemerintah Dan Pengendalian Internal Terhadap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Negara Pada Satuan Kerja Di Lingkungan Kodam XVII/Cenderawasih2026-07-15T22:39:02+07:00Rudityana Danang Priatomodanangpriatomo@gmail.comAli Rahman Reza Zaputraali.rahman@lecture.unjani.ac.idMarlina mar.lina@lecture.unjani.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemahaman Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan pengendalian internal terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan negara pada satuan kerja di lingkungan Kodam XVII/Cenderawasih, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan metode survei melalui kuesioner skala Likert 1–5 yang disebarkan kepada 50 responden aparatur pengelola keuangan yang dipilih secara purposive sampling. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan SmartPLS, meliputi evaluasi model pengukuran (outer model) dan model struktural (inner model), serta pengujian hipotesis melalui teknik bootstrapping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh indikator penelitian valid dan reliabel. Pemahaman SAP terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap akuntabilitas pengelolaan keuangan negara (koefisien jalur 0,535; T-statistik 8,152; p 0,000), demikian pula pengendalian internal (koefisien jalur 0,553; T-statistik 8,402; p 0,000). Kedua variabel secara simultan mampu menjelaskan 77,6% variasi akuntabilitas pengelolaan keuangan negara (R² = 0,776). Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kompetensi aparatur dalam memahami SAP berbasis akrual serta penguatan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) merupakan dua faktor kunci yang saling melengkapi dalam mewujudkan akuntabilitas keuangan yang optimal, termasuk pada organisasi militer yang memiliki karakteristik komando dan kompleksitas anggaran khusus</p>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1127Rekonstruksi Hukum Keluarga Islam dalam Menjawab Tantangan Perkawinan Digital pada Praktik Nikah Online Pasca Pandemi2026-07-15T22:39:45+07:00Wiwit Musaadahwiwitmusaadah@gmail.comAfrian Sukmariyadi mafrian148@gmail.comAde Isnan Sulistiawanadeisnansulistiawan@gmail.comAbdul Aziz aziza270605@gmail.comSeki Daryantosekibarus88@gmail.com<p>Pandemi COVID-19 mempercepat normalisasi praktik akad nikah online yang sebelumnya dianggap marjinal dalam fikih munakahat klasik. Meski situasi darurat kesehatan telah berakhir, praktik nikah daring tetap berlangsung karena faktor mobilitas, migrasi tenaga kerja, dan efisiensi biaya, sementara kerangka hukum keluarga Islam di Indonesia belum memberikan kepastian yang memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis keabsahan akad nikah online pasca pandemi dan merumuskan rekonstruksi hukum keluarga Islam yang responsif terhadap fenomena tersebut. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan perbandingan mazhab, melalui studi kepustakaan atas bahan hukum primer, sekunder, dan tersier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perdebatan keabsahan nikah online berpusat pada konsep ittihad al-majlis yang dimaknai berbeda oleh mazhab Syafi'iyah dan Hanafiyah, serta bahwa Keputusan Ijtima' Ulama Komisi Fatwa MUI VII/2021 telah membuka ruang keabsahan bersyarat. Analisis maqashid syariah menunjukkan bahwa akad nikah daring berpotensi memenuhi kelima maqashid (hifz al-din, al-nafs, al-'aql, al-nasl, al-mal) apabila disertai verifikasi identitas digital yang ketat. Namun demikian, regulasi yang ada, yakni Peraturan Menteri Agama Nomor 20 Tahun 2019 dan Keputusan Menteri Agama Nomor 892 Tahun 2019, belum mengatur secara eksplisit akad nikah lintas tempat berbasis audio-visual. Penelitian ini menawarkan novelty berupa model "Akad Nikah Hybrid Bersyarat" yang mengintegrasikan verifikasi biometrik berbasis NIK Dukcapil, protokol autentikasi wali dan saksi digital, serta mekanisme pencatatan elektronik terintegrasi SIMKAH, sebagai kerangka rekonstruksi hukum keluarga Islam yang menjamin kepastian hukum, kemaslahatan, dan perlindungan hak-hak pihak yang rentan, khususnya perempuan.</p>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1215Pembuktian Dan Alat Bukti Pengakuan Perspektif Fuqaha Dan Hukum Perdata2026-07-15T22:39:30+07:00Baso Muhammad Nibrasbasomuhnibras@gmail.comSukmawati Markunsukmawatimarkun1@gmail.comAsniasni.azrai@uin-alauddin.ac.idAbd Halim Talliabdulhalimtalli@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Evidence is a fundamental element in dispute resolution, both from an Islamic and civil law perspective, as it serves as the basis for judges to establish certainty about the truth of a legal event before rendering a verdict. One form of evidence that holds a crucial position in both legal systems is confession (*al-iqrār*). This study aims to analyze the concept of proof, the status of confession evidence from the perspective of jurists and Indonesian civil law, and its relevance in the Indonesian judicial system. This study employed library research with a qualitative approach. Data were obtained from fiqh books, books, scientific journals, laws and regulations, and other relevant scientific sources. The results indicate that proof in Islamic law has a normative basis derived from the Qur'an and the Hadith, while Indonesian civil law regulates confession as evidence in Article 164 of the HIR and Article 1866 of the Civil Code. Islamic jurists agree that a confession has high evidentiary value if it is made by a legally competent party, voluntarily, and against a clear object. Conversely, civil law places greater emphasis on the legal consequences of a confession in the evidentiary process. Despite differences in philosophical foundations and application requirements, both legal systems place confessions as a crucial form of evidence in achieving legal certainty and justice.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1130Reinterpretasi Fikih Munakahat tentang Kesetaraan Gender dalam Pembagian Harta Bersama di Era Modern2026-07-15T22:40:17+07:00Padiyana padiyana701@gmail.comWiwit Musaadahwiwitmusaadah@gmail.comIrman irman.wera@gmail.com<p>Pembagian harta bersama akibat perceraian atau kematian salah satu pihak masih banyak diselesaikan secara kaku melalui Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menetapkan pembagian seragam satu berbanding satu (1:1) tanpa mempertimbangkan variasi kontribusi riil suami dan istri selama perkawinan. Ketentuan tersebut merupakan produk ijtihad ulama klasik yang dibangun di atas konstruksi fikih munakahat yang menempatkan suami sebagai pencari nafkah tunggal (breadwinner) dan istri sebagai pengelola domestik, sebuah konstruksi yang semakin tidak relevan dengan realitas keluarga modern yang ditandai oleh menguatnya peran ekonomi perempuan, kepemilikan aset digital, dan skema tabungan pensiun bersama. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara kritis konstruksi fikih munakahat klasik tentang harta bersama, mengidentifikasi bias gender di dalamnya, dan merumuskan tawaran reinterpretasi berbasis maqashid syariah dan prinsip musawah (kesetaraan). Penelitian ini menggunakan metode yuridis-normatif dengan pendekatan konseptual dan komparatif, menelaah kitab-kitab fikih munakahat klasik, peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan agama, serta praktik reformasi hukum keluarga Islam di Maroko, Tunisia, dan Malaysia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa doktrin syirkah yang menjadi basis fikih harta bersama sesungguhnya bersifat lebih cair dan berorientasi kontribusi dibandingkan pembagian rigid 50:50 yang berlaku dalam praktik. Sebagai novelty, penelitian ini menawarkan Model Kontribusi Multidimensional (MKM), yakni kerangka penilaian kontribusi suami dan istri yang mengintegrasikan empat dimensi—kontribusi finansial, domestik, reproduktif, dan emosional-manajerial keluarga—sebagai basis penentuan proporsi harta bersama yang lebih adil secara substantif, tanpa meninggalkan kepastian hukum. Model ini diajukan sebagai alternatif ijtihad kontemporer yang dapat diadopsi oleh hakim pengadilan agama dan menjadi bahan pertimbangan pembaruan Pasal 97 KHI.</p>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1227Living Madhhab Moderation In Modern Islamic Boarding Schools: Dynamics Of Islamic Legal Thought At Pondok Modern Darussalam Gontor 11 Poso2026-07-17T21:35:31+07:00Irsyad Abd Raziqirsyadraziq6@gmail.comUsman Jafarjafarusman1958@gmail.comAbdul Wahid Haddadewahid.haddade@uin-alauddin.ac.idRian Hidayatriann1699@gmail.com<p>Diversity of legal schools is an inherent characteristic of Islamic legal tradition, yet its management in Islamic educational institutions has largely been examined from a normative perspective. Limited attention has been given to how madhhab moderation is institutionalized as an educational culture. This study investigates the implementation of Living Madhhab Moderation in Pondok Modern Darussalam Gontor 11 Poso, the dynamics of Islamic legal thought cultivated within the institution, and its implications for the intellectual character formation of students. This research employed a qualitative approach within the framework of empirical Islamic law. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis involving school leaders, teachers, and students. Thematic analysis was conducted using the theoretical perspectives of wasatiyyah, fiqh al-ikhtilaf, and living Islamic law. The findings demonstrate that madhhab moderation is institutionalized through curriculum integration, comparative jurisprudence learning, academic dialogue, teacher role modeling, and the daily educational culture of the boarding school. The dynamics of Islamic legal thought are developed through mastery of classical Islamic texts, principles of Islamic legal methodology, structured scholarly discussions, and continuous training in legal reasoning. These processes cultivate students who appreciate methodological diversity in Islamic jurisprudence, demonstrate critical legal reasoning, respect the ethics of scholarly disagreement, and respond constructively to contemporary Islamic legal issues. The study further reveals that the sustainability of madhhab moderation depends on an integrated institutional culture that combines academic excellence, religious values, and social responsibility. This study proposes Living Madhhab Moderation as a conceptual framework explaining madhhab moderation as a lived practice of Islamic law embedded within the educational system of modern Islamic boarding schools. The framework contributes to the development of empirical Islamic legal studies and provides a theoretical foundation for designing more inclusive, dialogical, and context-responsive Islamic education.</p>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1129Dispensasi Kawin Anak Pasca Putusan MK Nomor 22/PUU-XV/2017 dalam Perspektif Maqashid Syariah terhadap Perlindungan Hak Anak di Indonesia2026-07-15T22:39:59+07:00Wiwit Musaadahwiwitmusaadah@gmail.comHidayatullahhidayatullah.kalimati@gmail.comFaridawatiida.direksi@gmail.comEis Rahmawatieis.rahmawati0110@gmail.com<table width="633"> <tbody> <tr> <td width="447"> <p>Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 22/PUU-XV/2017 yang mengubah batas usia minimal perkawinan perempuan dari 16 tahun menjadi 19 tahun, sebagaimana diadopsi dalam Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, dimaksudkan untuk memperkuat perlindungan hak anak perempuan dari perkawinan dini. Namun, kenaikan batas usia tersebut justru diikuti oleh lonjakan permohonan dispensasi kawin ke Pengadilan Agama, sehingga dispensasi kawin berfungsi sebagai “pintu darurat” yang berpotensi menggerus tujuan protektif regulasi itu sendiri. Artikel ini menganalisis paradoks tersebut melalui pendekatan maqashid syariah, khususnya kerangka sistem lima pilar (hifz al-din, al-nafs, al-‘aql, al-nasl, al-mal) yang dikembangkan Jasser Auda, untuk menilai sejauh mana praktik dispensasi kawin pascaputusan MK sejalan dengan prinsip kepentingan terbaik anak. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, didukung data kuantitatif dari Badan Peradilan Agama, Kementerian Agama, Badan Pusat Statistik, dan UNICEF Indonesia periode 2019-2025. Hasil penelitian menunjukkan disharmoni struktural antara Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2019 dan implementasinya di lapangan, karena kehamilan tidak dikehendaki tetap menjadi alasan dominan permohonan. Sebagai kontribusi orisinal, artikel ini menawarkan model Maqashid-Based Best Interest Test (MBIT), sebuah instrumen penilaian berjenjang yang mengintegrasikan uji lima pilar maqashid dan mizan maslahah-mafsadah ke dalam pertimbangan hakim, sebagai pelengkap operasional atas kekosongan metodologis dalam PERMA Nomor 5 Tahun 2019.</p> <p> </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1231Konstruksi Akad Kafalah dalam Polis Asuransi Syari'ah: Studi Kritis atas Transparansi Akad Produk PRULink Syari'ah PT Prudential Life Assurance2026-07-19T17:22:24+07:00Sani Muhammad Haidar sanimuhammadhaidar@gmail.com<p>PT Prudential Life Assurance merupakan perusahaan asuransi yang menawarkan produk asuransi syariah berbasis sistem unit link, yaitu PRULink Syari'ah. Namun, implementasi produk tersebut masih menuai kritik, terutama terkait transparansi akad, yang tercermin dari pengaduan peserta asuransi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Beberapa kajian dan fatwa DSN-MUI mengindikasikan adanya ketidaksesuaian antara akad yang tercantum dalam polis dengan praktik operasional yang dijalankan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi konstruksi akad yang tidak dideklarasikan secara eksplisit dalam polis produk asuransi syariah, khususnya akad kafalah, serta implikasinya bagi para pihak yang terkait. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus tunggal, menggunakan metode analisis klausul polis produk PRULink Syari'ah serta wawancara mendalam dengan empat informan, terdiri dari dua agen (Informan Agen 1 dan Informan Agen 2) dan dua peserta asuransi (Informan Peserta 1 dan Informan Peserta 2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi akad dalam produk PRULink Syariah secara substantif tidak hanya terdiri atas akad yang dinyatakan secara eksplisit dalam dokumen polis, tetapi juga mencakup akad yang diimplementasikan dalam operasional produk. Penelitian ini menemukan adanya fungsi kafalah dalam mekanisme penjaminan manfaat kesehatan (rider) yang tidak dideklarasikan secara eksplisit dalam struktur akad polis, sehingga menimbulkan kesenjangan antara akad yang dideklarasikan dengan akad yang diimplementasikan. Temuan ini menegaskan perlunya reformulasi standar penyusunan akad produk asuransi syariah unit link di Indonesia, serta penguatan regulasi oleh DSN-MUI dan OJK terkait kewajiban deklarasi akad secara lengkap di dalam polis.</p>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1234Transforming MBKM Learning to Enhance Political Science Student Competencies at Soedirman University2026-07-19T17:22:46+07:00Neneng Sobibatu Rohmahneneng.sobibatu@unsoed.ac.idTitis Perdanititisperdani@unsoed.ac.idMuhammad Riyan Ramdlanimuhariyan@gmail.comValina Salzabila salzabilavalina@gmail.com<p><em>The Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) policy is a government initiative aimed at reforming higher education to better align with labor market demands and socio-political dynamics. In the context of political science education, MBKM has the potential to transform learning patterns while shaping students’ political competencies. This study aims to analyze the implementation of MBKM as a form of learning transformation in political science education and its contribution to the development of cognitive, affective, and psychomotor competencies among students of the Political Science Department at Jenderal Soedirman University. This research employs a descriptive qualitative approach, with data collected through interviews, observations, questionnaires, and documentation. Data analysis was conducted interactively by applying source and method triangulation. The analytical framework is based on the Competency-Based Education (CBE) approach and Bloom’s Taxonomy to assess students’ competency achievements.</em> <em>The findings indicate that the implementation of MBKM encourages a shift from classroom-based learning to more contextual experiential learning.The MBKM program in the Department of Political Science at Jenderal Soedirman University functions as a strategic mechanism for producing students’ political competencies by integratively developing cognitive, affective, and psychomotor domains through the integration of practical experience and theoretical reflection within real political contexts. Nevertheless, the implementation of MBKM still faces several challenges, particularly related to limited partnerships and technical coordination. Overall, MBKM has proven to be an effective instrument for transforming political science learning; however, it requires stronger governance to avoid being confined to a purely technocratic orientation.</em></p>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1196Internalizing Islamic Education Values in Saman Dance as Acehnese Cultural Heritage: Efforts to Shape the Character of the Young Generation in the Digital Era.2026-07-13T22:07:18+07:00Teuku Muhammad Husni teukuhusni@isbiaceh.ac.idIchsan ichsanteuku@yahoo.comBerlian Denada berliandenada@isbiaceh.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p><em>The rapid development of digital technology has brought significant changes to the values, lifestyles, and behaviors of the younger generation, creating challenges for Islamic character education. One strategic effort to address this issue is by utilizing local cultural heritage as a medium for value internalization. This study aims to analyze the internalization of Islamic educational values embedded in the Saman Dance as an intangible cultural heritage of Aceh and its contribution to strengthening the character of the younger generation in the digital era. The study employed a qualitative approach through library research supported by content analysis. Data were collected from scientific journal articles, books, official documents, and relevant literature concerning Islamic education, character education, local wisdom, and the Saman Dance. The findings reveal that the Saman Dance embodies various Islamic educational values, including religiosity, discipline, responsibility, cooperation, mutual respect, leadership, sincerity, and social solidarity. These values are internalized through synchronized movements, poetic lyrics containing Islamic messages, collective learning processes, and the ethical norms practiced during performances. Furthermore, the integration of Islamic values with local cultural traditions offers an innovative and contextual model of character education that is relevant to the challenges faced by today's youth. The study concludes that the Saman Dance functions not only as a cultural performance but also as an effective educational medium for strengthening Islamic character while preserving Acehnese cultural identity amid the rapid transformation of the digital era.</em></p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1241Konstruksi Sosial Peran Domestik Perempuan dalam Unggahan Instagram Produk Rumah Tangga di Indonesia2026-07-19T21:18:02+07:00Rr. Siti Kurnia Widiastutirrsiti.widiastuti@uin-suka.ac.id<p>Digital media serves as both a tool for marketing communication and a social environment where ideas about gender are formed and continually reinforced. While gender representation in television advertising or digital campaigns has been the primary focus in previous studies, there is little research on how household product brands construct women's domestic roles on Instagram. This study tackles that gap by looking at how gender is represented through the viewpoints of Social Construction Theory and Gender Performativity. The study employs a qualitative interpretive method to examine official Instagram posts from household product brands in Indonesia, such as detergents, dishwashing liquids, cooking seasonings, children's milk, and baby diapers. The analysis examines visual images, the individuals depicted, everyday household tasks, and the underlying gender ideas present in online content. The study shows that women are still mostly shown as the main people doing household cleaning, cooking meals, and taking care of children, while men are more often depicted as helpers, people who benefit from these tasks, or only sometimes involved in housework. Despite this, there are several posts that show men taking part in cooking, taking care of children, and doing household tasks, which suggests a growing effort to achieve more equal gender roles. The results indicate that Instagram posts serve as both commercial channels and a means for Indonesians to perpetuate and reestablish their gender roles in the digital age. The study adds value to the field of gender and media research by building on earlier work about digital advertising, specifically through an analysis that compares different categories of Instagram content related to household products. The results also offer useful guidance for advertisers and digital content creators to create more balanced and gender-inclusive portrayals in their digital marketing messaging</p>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1250Reposisi Konsep Khalifah Dalam Merespons Krisis Ekologis Pada Era Antroposen Berbasis Ekoteologi Qur'ani2026-07-20T21:52:10+07:00Abd Jabbarjabbarabd811@gmail.comRahmatul Qadri rhmtlqdr15@gmail.com<p>Krisis ekologis pada era Antroposen menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya dipicu oleh eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga oleh cara pandang antroposentris yang menempatkan manusia sebagai penguasa absolut atas alam. Penelitian ini bertujuan mereposisi pemaknaan khalifah menuju paradigma amanah ekologis berbasis ekoteologi Qur'ani sebagai respons terhadap krisis ekologis era Antroposen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan library research. Data dianalisis menggunakan pendekatan hermeneutik Qur'ani melalui interpretasi dan kontekstualisasi ayat-ayat yang berkaitan dengan relasi manusia dan lingkungan serta didukung oleh berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis ekologis pada era Antroposen juga mencerminkan krisis dalam pemaknaan khalifah, sehingga konsep tersebut perlu dipahami sebagai amanah ekologis yang menempatkan manusia sebagai subjek etis dalam menjaga keseimbangan ekosistem, bukan sebagai legitimasi dominasi atas alam. Reposisi ini dibangun melalui prinsip tauhid, amanah, mīzān, larangan berbuat kerusakan (lā tufsidū fī al-arḍ), dan fiqh al-bī'ah sebagai landasan normatif etika ekologis Islam. Dengan demikian, reposisi khalifah berbasis ekoteologi Qur'ani menawarkan paradigma etik yang lebih kontekstual dalam merespons krisis ekologis pada era Antroposen.</p>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1251Transformasi Budaya Ilmiah : Strategi Program Karya Tulis Ilmiah sebagai Media Penguatan Kompetensi Berpikir Kritis di Sekolah2026-07-20T21:53:59+07:00Lia Aulal Farahaulalfarah2711@gmail.comMuhammad Shabibur Rahmatshabibrahmat1991@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perubahan literasi akademik melalui program Karya Tulis Ilmiah (KTI) sebagai sarana peningkatan kemampuan literasi di tingkat sekolah menengah. Minimnya budaya membaca di antara siswa dan kebutuhan keterampilan abad ke-21 menjadi alasan utama dalam penelitian ini. Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif yang mengandalkan jenis penelitian kepustakaan. Data sumber meliputi artikel jurnal ilmiah terakreditasi, dokumen kebijakan, serta buku teks dan referensi teoretis yang mendukung. Metode analisis data memakai analisis isi (<em>content analysis</em>) dilaksanakan dalam tiga langkah: pengurangan data, presentasi data, dan pengambilan kesimpulan. Kepastian data dijamin melalui triangulasi sumber.<br>Temuan penelitian mengindikasikan bahwa KTI memiliki dasar teori yang kokoh dalam konstruktivisme dan sejalan dengan kebijakan Gerakan Literasi Sekolah serta Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran berbasis proyek. Secara empiris, pelaksanaan KTI terbukti memberikan dampak positif pada peningkatan literasi ilmiah dan kemampuan berpikir kritis siswa, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian di SMA Negeri Kotabaru, SMA Negeri 1 Baktiraja, dan MA Al-Ittihad Belung. Faktor-faktor yang mendukung keberhasilan program terdiri dari: (1) dukungan dalam penyediaan sumber belajar, (2) pelatihan dan pendampingan guru yang berkelanjutan, dan (3) koordinasi yang terstruktur serta kolaborasi dengan perguruan tinggi. Tantangan utama yang dihadapi meliputi rendahnya pemahaman tentang metodologi penelitian di kalangan guru, bimbingan yang tidak konsisten, serta akses yang terbatas terhadap referensi ilmiah yang berkualitas.<br>Kesimpulan penelitian ini menekankan bahwa program KTI tidak hanya menjadi persyaratan administratif kelulusan, tetapi juga merupakan investasi strategis untuk memperkuat kompetensi akademik, kemampuan berpikir kritis, dan integritas ilmiah siswa. Diperlukan komitmen sistemik sekolah, peningkatan kapasitas guru yang berkelanjutan, dan penyesuaian kompleksitas KTI sesuai dengan kemampuan siswa. Studi lanjutan disarankan untuk mengevaluasi pengaruh jangka panjang program KTI terhadap persiapan akademis mahasiswa di universitas.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1256Structured Oral Corrective Feedback in Business English Job Interview Simulations2026-07-20T21:54:09+07:00Zaenul Wafa zaenulwafa@unan.ac.idEndang Susilowati zaenulwafa@unan.ac.idEka Fanti Sulistiyaningsih zaenulwafa@unan.ac.id<p>Job interview speaking requires grammatical control, appropriate professional register, organized self-presentation, and confidence under time pressure. This study investigated the implementation and classroom outcomes of structured oral corrective feedback (OCF) in a Business English course. The study conducted from April to June 2026 at Universitas An Nuur, Indonesia, the study involved 61 second semester Management students from two intact classes. A classroom-based explanatory mixed methods design combined a one-group pretest posttest procedure with observation of feedback episodes, an eight-item confidence questionnaire, written reflections, and semi-structured interviews. During six 90-minute meetings, students completed progressively less scripted job interview simulations and received explicit correction, recasts, clarification requests, metalinguistic prompts, and delayed group feedback. The overall speaking mean rose from 63.12 to 78.46, with the largest gain in professional expression. The improvement was statistically significant, t(60) = 12.97, p < .001, Cohen’s dz = 1.66. Of 194 observed feedback episodes, 69.6% produced successful uptake. Explicit correction generated the largest number of successful repairs, whereas delayed feedback was preferred during complete responses because it protected fluency and concentration. Qualitative evidence indicated greater awareness of recurring errors, more appropriate workplace wording, and stronger readiness to speak without full scripts. The findings suggest that structured OCF in Business English should integrate linguistic accuracy with register, relevance, answer organization, and strategic self-presentation.</p>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1252Iman, Akal, Dan Kemanusiaan: Titik Temu Pendidikan Kristen Dan Fikrah Islamiyyah Dalam Penguatan Moderasi Beragama2026-07-20T21:54:33+07:00Urbanus Sukriurbanussukri9@gmail.com<p>The increasing challenges of intolerance, radicalism, and identity polarization in pluralistic societies call for the development of an educational paradigm capable of strengthening religious moderation in a substantive and sustainable manner. This article aims to analyze the common ground between Christian education and Fikrah Islamiyyah through the concepts of faith, reason, and humanity as the foundation for promoting religious moderation. This study employs a qualitative approach using library research and a philosophical-comparative analysis of primary and secondary literature related to the philosophy of Christian education, Islamic educational thought, and the concept of religious moderation. The findings reveal that both educational traditions share fundamental perspectives in viewing faith as the source of values and moral orientation, reason as an instrument for seeking truth and developing knowledge, and humanity as the sphere for actualizing religious values in social life. The concept of <em>imago Dei</em> in Christian education and <em>karāmah al-insān</em> in Fikrah Islamiyyah demonstrate substantial similarities in affirming human dignity. Furthermore, the integration of faith and reason in both traditions produces an educational paradigm that rejects the dichotomy between religion and science while fostering an inclusive, dialogical, and responsible religious attitude. This study concludes that faith, reason, and humanity constitute shared conceptual foundations that can be developed as a framework for religious moderation education. These findings contribute to the advancement of interfaith education studies and offer a humanistic, transformative, and relevant educational model for multicultural societies in the twenty-first century.</p>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1220Strategi Penguatan Daya Saing Bisnis Pariwisata Ramah Muslim Berkelanjutan di Kawasan Wisata Lembah Cilengkrang Kabupaten Kuningan 2026-07-16T19:53:15+07:00Hafni Khairunnisa hafnikhairunnisa@uinssc.ac.idAfgi Al Khoyr afgialkhoyr@mail.syekhnurjati.ac.idMahrun Nisa Ali mahrunnisa@uinssc.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Objek wisata Lembah Cilengkrang memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata alam yang menarik karena keanekaragaman hayati di dalamnya kemudian atraksi wisata alam seperti curug, pemandian air panas, hiking, camping dan kawasan konservasi. Selain itu, objek wisata Lembah Cilengkrang juga memiliki daya tarik untuk mendukung wisatawan muslim dengan sudah tersedianya berbagai fasilitas dasar di dalamnya. Namun, perkembangan pariwisata di kawasan ini menimbulkan sejumlah permasalahan yang menghambat pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dikarenakan terganggunya habitat flora dan fauna akibat peningkatan aktivitas wisata serta belum optimalnya fasilitas dan keterbatasan layanan yang memenuhi kebutuhan wisatawan muslim secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengelolaan pariwisata, serta merumuskan strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan dan ramah muslim di kawasan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis SWOT untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengembangan pariwisata di kawasan tersebut. Data diperoleh dengan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa objek wisata Lembah Cilengkrang memiliki kekuatan dari sisi keindahan alam dan potensi pariwisata berkelanjutan akan tetapi masih terdapat kelemahan pada pengelolaan lingkungan dan fasilitas pendukung pariwisata ramah muslim.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1254Peluang dan Tantangan Pemanfaatan Papan Interaktif Digital dalam Mendukung Pembelajaran Mendalam di Sekolah Dasar2026-07-20T21:55:15+07:00Harum Sunya Iswaraharumsunyaiswara@markandeyabali.ac.idPande Putu Yogi Arista Pratama yogi_a@mahadewa.ac.id<p>Program Digitalisasi Pembelajaran di Indonesia mendorong pemanfaatan Papan Interaktif Digital (PID) sebagai upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar. Namun, <strong>pemanfaatan PID dalam mendukung Pembelajaran Mendalam bergantung pada kemampuan guru mengintegrasikan teknologi ke dalam praktik pembelajaran</strong><strong>. </strong>Penelitian ini bertujuan menganalisis peluang dan tantangan pemanfaatan PID dalam mendukung Pembelajaran Mendalam di sekolah dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus pada dua sekolah dasar penerima Program Digitalisasi Pembelajaran. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap dua kepala sekolah dan empat guru, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan pengujian keabsahan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PID berpeluang mendukung <em>meaningful learning</em>, <em>mindful learning</em>, dan <em>joyful learning</em> melalui pemanfaatan multimedia interaktif, visualisasi konsep, dan sumber belajar digital, termasuk pada pembelajaran Seni. Namun, implementasinya masih menghadapi kendala berupa keterbatasan infrastruktur, kompetensi guru, desain pedagogis, dan tata kelola sekolah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan digitalisasi pendidikan tidak ditentukan oleh ketersediaan perangkat digital, tetapi oleh kemampuan guru mentransformasikan teknologi menjadi pengalaman belajar yang mendukung Pembelajaran Mendalam.</p>2026-07-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1281Pertemuan Antara Pedagogi Kristen Dan Fikrah Islamiyyah: Menuju Pendidikan Agama Yang Inklusif2026-07-26T15:45:07+07:00Urbanus Sukri urbanussukri9@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This article examines the intersection between Christian pedagogy and fikrah Islamiyyah as a conceptual foundation for developing inclusive religious education within a pluralistic society. This study is motivated by the increasing challenges of intolerance, exclusivism, and religion-based social polarization, which indicate that religious education has not yet fully succeeded in fostering a culture of dialogue and respect for diversity. This research employs a qualitative approach using a literature study method and a conceptual-comparative analysis of various relevant academic sources on Christian pedagogy, Islamic education, multicultural education, and interfaith dialogue. The findings reveal that Christian pedagogy and fikrah Islamiyyah share common ground in values such as love, compassion (rahmah), justice, respect for human dignity, and a humanistic as well as transformative orientation in education. Both paradigms view education as a holistic process of human development, encompassing spiritual, moral, intellectual, and social dimensions. The study also finds that inclusive religious education requires curriculum reconstruction, dialogical pedagogical approaches, and the strengthening of students’ interreligious competencies. Therefore, the integration of values from Christian pedagogy and fikrah Islamiyyah can serve as an important foundation for developing religious education that is tolerant, peaceful, and contextually relevant in contemporary multicultural societies.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1288Tradition and Modernization in the Transformation of Ma'had Aly in Indonesia2026-07-26T15:45:56+07:00Doni Setyawandonivirust12@gmail.comAnanda Qomaruzzamananandaqomaruzzaman@gmail.comRobiul Ngalimrobiulngalim1@gmail.comIfada Retno Ekaningrumifadaretnoekaningrum@unwahas.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study analyzes the role of Ma'had Aly as a guardian of Islamic traditions and scholarly authority, identifies contemporary educational challenges, and formulates strategies for institutional strengthening through a qualitative approach utilizing a library research method. Data were obtained from regulations governing pesantren and religious higher education, as well as Scopus-indexed and Sinta-accredited journal articles published in the past decade. Data analysis involved content and thematic analysis, including data reduction, coding, categorization, cross-source comparison, and conclusion drawing. Findings indicate that Ma'had Aly maintains scholarly authority through mastery of classical Islamic texts (kitab kuning), chains of transmission (sanad), specialized fields (takhassus), the kiai-student relationship, deliberation (musyawarah), legal discourse (bahtsul masail), and the development of the istinbat method. These traditions are dynamic, evolving through methodological, contextual, critical, and maqasidi approaches. Key challenges include higher education standardization, curriculum relevance, limited research culture, human resource quality, digital transformation, and quality assurance. Institutional strengthening should prioritize an integrative curriculum, faculty competency enhancement, research development, digitization of scholarly sources, network expansion, and quality assurance that integrates formal indicators with the epistemic characteristics of pesantren. The study underscores the importance of selective modernization that reinforces, rather than displaces, the traditions and scholarly authority of Ma'had Aly.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1297Tradisi Ngalaksa sebagai Media Pembelajaran pada Pendidikan Karakter Masyarakat Sunda di Rancakalong, Sumedang, Jawa Barat2026-07-26T15:46:46+07:00Budi Yasri budiyasri@akmet.ac.id<p>Tradisi Ngalaksa merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Sunda di Rancakalong, Sumedang, yang mengandung nilai religius, sosial, dan ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran tradisi Ngalaksa sebagai media pembentukan karakter religius masyarakat melalui pendekatan kualitatif berbasis budaya lokal. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat, serta studi pustaka dari berbagai sumber ilmiah terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Ngalaksa tidak hanya berfungsi sebagai ritual syukuran pascapanen, tetapi juga sebagai sarana internalisasi nilai-nilai Islam seperti syukur, tawakal, gotong royong, kepedulian sosial, serta kesadaran ekologis. Nilai-nilai tersebut ditanamkan melalui praktik budaya yang dijalankan secara kolektif dan diwariskan secara turun-temurun, sehingga membentuk karakter masyarakat yang religius dan berorientasi pada kebersamaan. Di sisi lain, terdapat dinamika reinterpretasi terhadap unsur-unsur tradisi agar tetap selaras dengan prinsip keislaman. Dengan demikian, Ngalaksa dapat dipahami sebagai model pendidikan karakter berbasis kearifan lokal yang kontekstual dan relevan dalam menghadapi tantangan modernitas yang cenderung individualistik</p>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1316Musyawarah Sebagai Model Pembelajaran Kooperatif Pada Kajian Kitab Fathul Qorib Dilingkungan Pesantren2026-07-28T09:37:52+07:00Fangki Wildanafangkiwildana@gmail.comImam Fahrurrozi shema1705@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model pembelajaran kooperatif melalui kegiatan musyawarah (syawir) dalam kajian kitab Fathul Qorib di Pondok Pesantren Minhajut Thullab Banyuwangi. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya inovasi metode pembelajaran di pesantren yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kerja sama santri. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan musyawarah dalam pembelajaran kitab Fathul Qorib di Pondok Pesantren Minhajut Thullab Banyuwangi berlangsung secara terstruktur melalui pembagian kelompok, pembacaan materi, diskusi, tanya jawab, serta klarifikasi oleh ustadz sebagai mushohih. Proses ini mendorong keterlibatan aktif santri dalam memahami materi fiqih secara mendalam. Selain itu, musyawarah terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, keberanian menyampaikan pendapat, serta membangun kerja sama antar santri. Pembelajaran juga menjadi lebih kontekstual karena dikaitkan dengan permasalahan kehidupan sehari-hari.</p> <p>Dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif melalui musyawarah efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran kitab kuning di pesantren, khususnya dalam aspek pemahaman materi, interaksi sosial, dan penguatan karakter santri.</p>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1308Ketahanan Keluarga Qur'ani dalam Mengurangi Kerentanan terhadap Radikalisasi: Sintesis Tafsir Tematik dan Literatur Empiris2026-07-26T15:47:02+07:00Mabda Dzikaramabda.dzikara@iiq.ac.idHana Natasyahana@iiq.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Artikel ini menyusun ulang konsep ketahanan keluarga Qur'ani sebagai faktor pelindung dari proses radikalisasi menuju ekstremisme kekerasan. Penelitian menggunakan studi kepustakaan kualitatif dengan metode tafsir tematik yang dipadukan dengan literatur empiris. Tujuh kelompok ayat dipilih karena relevan dengan perlindungan keluarga, dasar keyakinan, komunikasi, pengasuhan, pemeriksaan informasi, dan lingkungan sosial. Penafsiran al-Tabari, al-Razi, Nawawi al-Bantani, al-Maturidi, dan Quraish Shihab dibaca secara berdampingan, lalu digabungkan dengan kerangka family resilience dan hasil penelitian tentang radikalisasi di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa keluarga tidak otomatis menjadi benteng pencegah radikalisasi. Keluarga bisa berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga bisa menjadi saluran penyebaran ideologi kekerasan ketika hubungan di dalamnya tertutup, komunikasi berjalan satu arah, dan jaringan sosialnya terisolasi. Model yang dihasilkan memuat enam kemampuan: sistem makna berbasis tauhid dan rahmah, komunikasi dua arah, pembagian peran keluarga yang adil dan luwes, kemampuan membaca sumber agama dan informasi, keterhubungan dengan lingkungan yang kredibel, serta ketahanan sosial-ekonomi. Enam kemampuan tersebut bekerja dengan mengurangi kerentanan pada tiga unsur radikalisasi, yaitu kebutuhan akan makna diri, narasi pembenaran, dan penguatan jaringan. Kontribusi artikel terletak pada penggabungan hasil tafsir dan bukti empiris ke dalam mekanisme yang dapat diuji, bukan pada klaim normatif bahwa keluarga religius pasti kebal dari ekstremisme. Model ini relevan untuk pendidikan keluarga, pencegahan dini, dan reintegrasi sosial, tetapi masih memerlukan pembuktian di lapangan.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1348Efektivitas Media Edpuzzle Dalam Meningkatkan Maharah Istimā' Mahasiswa2026-07-29T16:33:32+07:00Arif Widodoarif_widodo@unsuda.ac.id<p>This study examined the effectiveness of Edpuzzle in improving university students’ Arabic listening skills (maharah istimā’). A quantitative pre-experimental one-group pretest-posttest design was employed. The participants were 20 second-semester students of the Arabic Language Education Program at Universitas Sunan Drajat Lamongan. Data were collected using listening tests, a student-response questionnaire, and an observation sheet. Test data were analyzed using descriptive statistics, the Shapiro-Wilk test, the Wilcoxon signed-rank test, rank-biserial correlation, and normalized gain. The mean score increased from 80.50 in the pretest to 84.00 in the posttest, while the median increased from 85.00 to 92.00. Nineteen students improved and one student declined. Because the score differences were not normally distributed (W = 0.297, p < .001), the Wilcoxon test was used and indicated a significant difference between pretest and posttest scores (W = 20.00, p = .001), with a large rank-biserial effect size of .810. The mean normalized gain was .296 (low), whereas the median was .467 (moderate), a discrepancy driven by one extreme posttest decline. Across 14 analyzable questionnaire items, the average positive response was 93.3%. Classroom observation yielded 40 out of 40 points (100%), categorized as very good. Edpuzzle was therefore associated with improved Arabic listening performance and positive learning responses. Nevertheless, causal interpretation is limited by the absence of a control group, the small sample, and one score pair requiring verification.</p>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1358Digital Marketing Education for Islamic Entrepreneurship: A Systematic Literature Review2026-07-31T20:23:07+07:00Muhammad Fadheel Djamaly muhammad.fadheel@cic.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>The rapid advancement of digital technology has transformed entrepreneurship education, making digital marketing competencies increasingly essential for entrepreneurs in the digital economy. Simultaneously, Islamic entrepreneurship has gained growing attention because of its emphasis on ethical business practices, social responsibility, and Sharia-compliant economic activities. However, studies integrating digital marketing education and Islamic entrepreneurship remain fragmented. Therefore, this study aims to systematically review the existing literature by identifying publication trends, dominant research themes, methodological characteristics, research contributions, and future research directions. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted using the PRISMA 2020 framework. Literature was retrieved from Google Scholar through Publish or Perish, yielding 348 initial records. After the identification, screening, eligibility, and inclusion stages, 18 studies published between 2020 and 2025 were selected for analysis. Bibliometric mapping using VOSviewer and qualitative synthesis were employed to interpret the findings. The results indicate a steady increase in research interest, with digital marketing emerging as the central theme linking entrepreneurship education, business development, digital innovation, and Islamic values. Digital marketing education contributes to strengthening digital competencies, entrepreneurial capabilities, and the integration of Islamic ethical values while supporting business sustainability and competitiveness. Nevertheless, the literature remains limited in theoretical integration, methodological diversity, and educational contexts. This review offers theoretical and practical implications for researchers, educators, curriculum developers, and policymakers while providing directions for future research on sustainable Islamic entrepreneurship.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1357Implementing the Jigsaw Cooperative Learning Model to Suport Mathematics Learning Outcomes: A Qualitative Study at Eighth-Grade Student SMP Muhammadiyah Lumajang2026-07-30T19:43:31+07:00Anisa Desti Ramadhani anisadestiramadhani@gmail.comFahmi Abdul Halimfahmi.fastco@gmail.comDevi Rahayu Agustin devira9626@gmail.comFatqurhohmanfrohman86@unmuhjember.ac.idZaenal Arifinzaenal.arifin021101@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Mathematics learning in secondary schools is often characterized by teacher-centered instruction, resulting in limited student participation and suboptimal learning outcomes. This study aims to investigate the implementation of the Jigsaw Cooperative Learning Model in mathematics learning at SMP Muhammadiyah Lumajang. A qualitative descriptive approach was employed involving an eighth-grade mathematics teacher and students as research participants. Data were collected through classroom observations, semi-structured interviews, and documentation, and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings indicate that the Jigsaw Cooperative Learning Model was implemented systematically through lesson planning, expert-group discussions, peer teaching, and classroom evaluation. The implementation promoted active student participation, collaborative learning, and improved conceptual understanding of mathematics. Teacher competence, students' learning motivation, collaborative classroom interactions, and adequate learning facilities supported the implementation, while limited instructional time, differences in students' academic abilities, and varying levels of self-confidence were identified as the main challenges. The study concludes that the Jigsaw Cooperative Learning Model provides an effective student-centered learning environment that supports active engagement and contributes positively to mathematics learning in junior secondary education.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1261Pengaruh Pembelajaran Berbasis Speed reading Terhadap Kemampuan Membaca Pada Siswa Kelas V2026-07-26T15:45:27+07:00luluk makrufahlulukmakrufah2@gmail.comSyamsul Ghufron syamsulghufron@unusa.ac.idRudi Umar Susanto rudio@unusa.ac.idPance Mariatipance_mariati@unusa.ac.id<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan membaca siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan hasil observasi awal, khususnya dalam hal memahami isi bacaan secara mendalam serta mengidentifikasi kosakata bermakna denotatif, konotatif, dan kiasan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan ke terlaksanaan pembelajaran, mendeskripsikan kemampuan membaca siswa sebelum dan sesudah menerapkan metode Speed Reading, serta menganalisis pengaruh keefektifan metode tersebut terhadap kemampuan membaca siswa kelas V di SDN Tenggilis Mejoyo 1 Surabaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Pre-Experimental Design tipe One Group Pretest-Posttest. Sampel penelitian adalah siswa kelas VA yang berjumlah 20 siswa dengan instrumen berupa tes esai sebanyak 10 soal serta lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran menggunakan metode Speed Reading terlaksana dengan kategori sangat baik dengan persentase sebesar 100%. Kemampuan membaca siswa sebelum menggunakan metode Speed Reading tergolong rendah dengan nilai rata-rata sebesar 56,75 dan persentase ketuntasan sebesar 5%. Setelah penerapan metode Speed Reading, kemampuan membaca siswa mengalami peningkatan yang signifikan dengan nilai rata-rata sebesar 82,25 dan persentase ketuntasan sebesar 95%. Lebih lanjut, hasil analisis N-Gain menunjukkan nilai rata-rata sebesar 0,6068 (60,68%) yang mengindikasikan bahwa metode pembelajaran Speed Reading efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca siswa. Berdasarkan hasil tersebut, disarankan agar guru mengoptimalkan penggunaan metode Speed Reading dalam pembelajaran membaca, sekolah memberikan dukungan terhadap penyediaan fasilitas dan bahan bacaan yang memadai, siswa memanfaatkan metode ini untuk aktif berlatih secara mandiri, serta peneliti selanjutnya mengembangkan penelitian serupa pada cakupan materi atau konteks yang lebih luas. Dengan demikian, penggunaan metode pembelajaran Speed Reading dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif inovatif dalam meningkatkan kemampuan membaca pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. </p> <p> </p>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1352Problems and Solutions in Creating a Language Environment in Public Junior High Schools in Taliwang2026-07-31T11:26:32+07:00Muhammad Mufti Imam Suyantomuftiimam2004@gmail.comSubliansyahsubliansyah26@gmail.comAulia Naufalaulia@usim.edu.my<table> <tbody> <tr> <td> <p>This research aims at the problems and challenges of public secondary schools in Taliwang in creating a language environment during the process of teaching the Arabic language. Therefore, research focuses on the problems and challenges experienced by the public school and purpossing the concept, components, and strategies for creating an effective language environment based on an integrated environment. This study employs the qualitative approach in which the data are collected mainly by observation, interview, and written documents. The results of the research shows some problems facing by public schools, including minor portions of Arabic subjects taught, student’s motivation, pride in using a language other than Arabic, and the lack of a supportive language environment. This research suggested some ways to solve the problems: including setting the goal and the general vision of creating the environment, designing language activities in and outside the classroom, designing systems that ensures the language activities and their application being organized in desirable ways, preparing facilities and means that support the educational process, and cooperating with the teachers of religious sciences on designing teaching materials in the Arabic language.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1263Transformational and Ethical Leadership in Islamic Schools: Strengthening Teachers' Professional Ethics and Religious Character among Generation Z Students at MA Subhanah Subah Batang2026-08-01T18:52:33+07:00Affix Ihsan Madaniaffixihsan@gmail.comM. Sugeng Solehuddin sugeng.solehuddin@uingusdur.ac.idNiken Rahmawati niken.rahmawati@uingusdur.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study examines the integration of transformational and ethical leadership in strengthening teachers' professional ethics and fostering the religious character of Generation Z students within the Islamic school environment. Employing a qualitative approach with an interpretive single-case study design, the research was conducted at MA Subhanah Subah Batang, Central Java, Indonesia. Data were collected through semi-structured interviews, participant observation, and document analysis, and subsequently analyzed using Reflexive Thematic Analysis. The findings reveal that the integration of both leadership styles produces a holistic organizational ecosystem, conceptualized as the "Transformational-Ethical Leadership Based on Uswah (T-EU) Model." This model strengthens teachers' professional ethics through value internalization and multi-layered exemplarity, transcending mere administrative compliance. Furthermore, authentic professional ethics transform into a primary catalyst in shaping the religious character of Generation Z students through the "Transformational-Ethical Exemplarity-Based Religious Character Formation (PKR-KTE) Model," which effectively navigates the challenges of digital disruption and contemporary moral crises. This study provides significant theoretical and practical contributions to the literature on Islamic educational leadership, asserting that value-based leadership is a fundamental prerequisite in responding to the complexities of character education in the modern era.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1356Islamic Religious Education Lecturers' Strategies for Improving Students' Qur'an Reading Ability at Nahdlatul Ulama Islamic College of Purworejo2026-08-01T18:49:57+07:00Hafiz Syahrizalkinglembu871@gmail.comM. Nurul Huda alhuda0801@gmail.com<p>The ability to read the Qur'an is a fundamental competency that must be<br>possessed by students of Islamic Religious Education as prospective<br>teachers. However, students' Qur'anic reading abilities vary considerably<br>due to differences in educational background, prior learning experiences,<br>and the intensity of Qur'anic instruction before entering higher<br>education. This study aimed to explore the strategies employed by Islamic<br>Religious Education lecturers to improve students' Qur'anic reading<br>abilities at Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU)<br>Purworejo. A qualitative approach with a case study design was<br>employed. The participants consisted of Islamic Religious Education<br>lecturers, Qur'an Reading and Writing (BTQ) instructors, and students<br>selected through purposive sampling. Data were collected through<br>observations, in-depth interviews, and documentation, and analyzed<br>using the Miles, Huberman, and Saldaña interactive model, including<br>data reduction, data display, and conclusion drawing. Data validity was<br>ensured through source and method triangulation. The findings indicate<br>that the lecturers implemented a systematic strategy beginning with an<br>initial assessment of students' abilities, followed by ability mapping, the<br>application of the Jibril method, talqin, repetitive drills, peer tutoring,<br>individual mentoring, and continuous evaluation. These strategies<br>contributed to improvements in students' pronunciation accuracy<br>(makharij al-huruf), understanding of tajwid, reading fluency, and<br>habitual Qur'an reading. This study proposes a Cyclical Qur'anic Reading<br>Development Strategy Model, integrating diagnostic assessment, staged<br>instruction, reinforcement, and continuous evaluation into a<br>comprehensive learning process. The proposed model provides a<br>conceptual framework that may support Islamic higher education<br>institutions in developing more systematic and sustainable Qur'anic<br>reading development programs.</p>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1124Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan Nilai Kejujuran pada Siswa Tunagrahita di SDLB Muhammadiyah Purworejo2026-08-01T22:50:28+07:00Aura Latifa Adhintylatifatama29@gmail.comNur Rohmah Hayatinur.rohmah.noma@gmail.com<p><span class="fontstyle0">Penanaman nilai kejujuran pada siswa tunagrahita merupakan salah satu tantangan dalam pendidikan karakter karena keterbatasan kemampuan intelektual yang memengaruhi pemahaman mereka terhadap konsep-konsep abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi strategi guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menanamkan nilai kejujuran pada siswa tunagrahita kelas IV di SDLB Muhammadiyah Purworejo serta menganalisis faktor pendukung dan penghambat dalam penerapannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan. Penelitian dilaksanakan di SDLB Muhammadiyah Purworejo dengan subjek penelitian guru PAI, wali kelas, dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI menerapkan strategi pembiasaan, keteladanan, nasihat berulang, dan pendampingan individual yang disesuaikan dengan karakteristik siswa tunagrahita. Nilai kejujuran ditanamkan melalui aktivitas pembelajaran dan pembiasaan sehari-hari di sekolah. Faktor pendukung meliputi komitmen guru, lingkungan sekolah yang religius, dukungan fasilitas sekolah, serta kerja sama antara sekolah dan orang tua. Adapun faktor penghambat meliputi keterbatasan intelektual siswa, perbedaan tingkat ketunagrahitaan, kurang optimalnya pembiasaan di lingkungan keluarga, dan belum adanya program khusus penanaman nilai kejujuran. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter bagi siswa tunagrahita memerlukan strategi yang konkret, berkelanjutan, dan melibatkan kolaborasi antara sekolah dan keluarga untuk mendukung pembentukan perilaku jujur.</span> </p>2026-08-01T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1309Pengaruh Literasi Digital Siswa Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di Sma Al-Ghazaly Bogor2026-08-02T11:04:25+07:00Butet Ginaghinashafiyah7@gmail.comRahendra Mayarahendra.maya76@gmail.comSamsuddinsamsuddin@staiabogor.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Literasi Digital terhadap Hasil Belajar Siswa dalam Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Karakter di kalangan siswa kelas X SMA Al-Ghazaly Bogor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan desain <em>ex post facto</em>. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner literasi digital dan mendokumentasikan nilai pembelajaran PAI dari 95 responden. Teknik analisis data yang diterapkan meliputi uji statistik deskriptif, uji prasyarat analisis (normalitas dan linearitas), serta uji regresi linier sederhana menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi digital siswa berada dalam kategori baik, sedangkan hasil belajar mereka dalam Pendidikan Agama Islam tergolong tinggi. Berdasarkan pengujian hipotesis, ditemukan bahwa literasi digital memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar Pendidikan Islam siswa, sehingga hipotesis penelitian diterima. Namun, koefisien regresi menunjukkan hubungan negatif atau berbanding terbalik. Temuan ini menyiratkan bahwa intensitas keterampilan literasi digital mandiri yang lebih tinggi tanpa pengawasan yang tepat cenderung menyebabkan penurunan hasil belajar Pendidikan Islam mereka di sekolah. Selain itu, kontribusi literasi digital terhadap variasi hasil belajar sebesar 4,3 persen, sedangkan 95,7 persen sisanya ditentukan oleh faktor-faktor lain di luar model penelitian ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun kontribusinya relatif kecil dan berarah terbalik, literasi digital tetap menjadi instrumen pendukung yang nyata bagi dinamika akademik siswa di era modern.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/937Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (Ctl) Dalam Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Berbasis Al-Qur’an Siswa Kelas Viii Di Sekolah Menengah Pertama Al Irsyad Surakarta Tahun Ajaran 2025/20262026-08-02T11:50:19+07:00Fatwa Konabifknb1852003@gmail.comEdy Muslimin edymuslimin@iimsurakarta.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan model pembelajaran </span></span></span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Contextual Teaching and Learning</span></span></span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> (CTL) berbasis Al-Qur'an dalam menstimulasi kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Akidah Akhlak. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus di SMP Al Irsyad Surakarta. Data primer diperoleh melalui observasi kelas dan wawancara mendalam bersama guru, kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, serta sepuluh siswa sampel kelas VIII B dan VIII C, yang kemudian diuji keabsahannya menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan perencanaan dan pelaksanaan CTL berbasis Al-Qur'an telah berjalan efektif melalui pengintegrasian materi dengan pengalaman empiris dan realitas iman siswa, didukung oleh media proyektor digital serta metode pemodelan kontemporer. Namun, ditemukan anomali struktural pada aspek evaluasi berupa penerapan ujian dadakan ( </span></span></span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">pop kuis</span></span></span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> ) yang memicu kecemasan kognitif akibat siswa belum menyelesaikannya siklus pengalaman-refleksi. Lebih lanjut, terjadi polarisasi kemampuan berpikir kritis siswa; peserta didik mencapai kinerja </span></span></span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Higher Order Thinking Skills</span></span></span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> (HOTS) yang unggul pada kluster materi konkret-aplikatif, tetapi mengalami degradasi ke tingkat hafalan tekstual pada kluster materi teologis-abstrak seperti </span></span></span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">nifaq</span></span></span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> dan </span></span></span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">kufur</span></span></span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> . Secara esensial, sinergitas komponen CTL berbasis Al-Qur'an ini terbukti efektif berperan sebagai katalis spiritual-kognitif yang mengondisikan penalaran kontekstual siswa melalui penguatan aspek afektif-spiritual dan argumentasi ilmiah. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya guru merestrukturisasi materi teologis-abstrak agar pembelajaran kontekstual PAI dapat berjalan secara holistik.</span></span></span></span></p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1164Nafs al-Lawwāmah as a Moral-Spiritual Awareness Framework in Islamic Religious Education2026-07-14T20:31:35+07:00Gigih Hadi Nugroho Saidgihhadi86@gmail.comRahman Zaki Rizaldyzakirizaldy144@gmail.comYusuf Qardhawi Ridho Sarkyyusufqardhawi807@gmail.comFajar Ardyansahardyansahfajar5@gmail.comSuhartonogihhadi86@gmail.com<p><em>This This study aims to construct the Nafs al-Lawwāmah Moral-Spiritual Awareness Model as a conceptual framework for strengthening moral-spiritual awareness in Islamic Religious Education. The study employed an integrative qualitative conceptual design supported by empirical evidence collected from 25 undergraduate students of the Islamic Religious Education program selected through purposive sampling. Primary data were derived from the thematic interpretation of Qur'an 75:2 and Tafsir Ibn Kathir, while secondary data were obtained from contemporary literature on Islamic Religious Education, Islamic psychology, and moral psychology. Empirical data were collected using an online questionnaire consisting of Likert-scale items and open-ended questions, then analyzed through thematic content analysis, thematic synthesis, descriptive statistics, thematic coding, and conceptual mapping. The findings identified five interconnected dimensions of moral-spiritual awareness, namely spiritual guilt, self-reflection (muhasabah), repentance (tawbah), accountability before Allah, and behavioural improvement. Qualitative analysis further revealed six overarching themes that explain how students interpret moral awareness as a dynamic process of spiritual transformation. Based on the integration of Qur'anic interpretation, literature synthesis, and empirical findings, this study proposes the Nafs al-Lawwāmah Moral-Spiritual Awareness Model, which repositions nafs al-lawwāmah from a theological concept into a pedagogical framework for Islamic Religious Education. The proposed model contributes to the development of reflective and transformative learning by integrating spiritual awareness, self-regulation, repentance, and transcendental accountability into a coherent educational framework.</em></p>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1262Komunikasi Preventif Dosen Melalui Sosialisasi Bahaya Penyalahgunaan Narkotika Pada Mahasiswa Sains Kepolisian Universitas Rokania 2026-07-22T22:36:46+07:00Arfika Nurvita Sariarfikanurfitasari@gmail.comRabiuladawiyyah uul.nasti1981@gmail.comResti Hefriyenni restyhefriyenni21@gmail.com<p>Penyalahgunaan narkotika merupakan persoalan serius yang mengancam generasi muda, khususnya mahasiswa yang berada pada usia produktif dan rentan terhadap pengaruh lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi preventif yang dilakukan dosen kepada mahasiswa melalui sosialisasi terhadap tingkat pemahaman terkait bahaya narkotika, mengidentifikasi faktor penyebab penyalahgunaan, serta merumuskan upaya pencegahan yang efektif di lingkungan perguruan tinggi.</p> <p>Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus pada mahasiswa sains kepolisian Universitas Rokania. Informan penelitian terdiri dari dosen,mahasiswa,serta pengurus organisasi mahasiswa yang dipilih secara purposive. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi preventif yang dilakukan dosen kepada mahasiswa melalui sosialisasi masih bersifat umum dan belum mendalam. Faktor utama penyebab penyalahgunaan meliputi pengaruh lingkungan pergaulan, keterbatasan edukasi, serta faktor individu. Upaya preventif yang dinilai efektif meliputi edukasi berkelanjutan, keterlibatan dalam kegiatan positif, serta kerja sama dengan lembaga terkait.</p>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1243Pengaruh Strategi Think Problem Solving Share (TPSS) terhadap Pemahaman Siswa pada Pembelajaran Administrasi Infrastruktur Jaringan di SMK2026-07-22T22:36:29+07:00Albianawww.albiana46@gmail.comWahyudinwahyudin_sanusi@upi.edu Latifahny Aridia Alfitrilatifahny_aridia@upi.edu<table> <tbody> <tr> <td> <p>Pendidikan kejuruan menuntut pemahaman konseptual dan kemampuan pemecahan masalah, namun pembelajaran Administrasi Infrastruktur Jaringan (AIJ) di SMK masih cenderung berpusat pada guru. Penelitian ini mengembangkan strategi <em>Think Problem Solving Share </em>(TPSS), yaitu <em>Think Pair Share</em> yang dimodifikasi dengan menambahkan tahapan pemecahan masalah, untuk meningkatkan pemahaman siswa pada pembelajaran AIJ. TPSS tidak berhenti pada tahap berbagi pendapat seperti pada TPS konvensional, melainkan menuntun siswa untuk terlebih dahulu menganalisis permasalahan, merumuskan solusi, dan mengevaluasinya secara eksplisit sebelum hasil pemikiran tersebut dipresentasikan oleh siswa, sehingga pemahaman yang dibentuk diharapkan lebih mendalam. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode <em>quasi eksperimen</em> dan desain <em>Posttest-Only Control Group Design</em>. Sampel penelitian berjumlah 60 siswa kelas XI Teknik Komputer dan Jaringan yang dipilih menggunakan <em>cluster random sampling</em>, dikelompokkan menjadi kelas eksperimen yang menerapkan TPSS dan kelas kontrol yang menerapkan pembelajaran konvensional. Data pemahaman siswa diperoleh melalui tes <em>posttest</em>, kemudian dianalisis menggunakan uji <em>Mann-Whitney U</em> dan <em>effect size</em>. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,001 (kurang dari 0,05), yang berarti terdapat perbedaan pemahaman yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, dengan capaian pemahaman kelas eksperimen lebih tinggi. Meskipun nilai <em>effect size</em> sebesar 0,44 tergolong lemah, hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan strategi TPSS memberikan pengaruh yang signifikan, namun dengan besaran efek yang masih terbatas. Strategi TPSS berpengaruh signifikan terhadap pemahaman siswa pada pembelajaran AIJ dan dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran pada mata pelajaran kejuruan lain dengan karakteristik serupa. Terbatasnya besaran efek ini menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman siswa tidak semata-mata ditentukan oleh strategi pembelajaran, tetapi juga oleh faktor lain seperti karakteristik individu siswa dan lamanya waktu penerapan, sehingga TPSS sebaiknya diterapkan secara berkelanjutan agar dampaknya dapat terlihat lebih optimal di kelas kejuruan.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1186Pengaruh Model Pembelajaran Picture and Picture Berbasis Media Digital PowerPoint terhadap Kemampuan Menulis Narasi Siswa Kelas V SDN Balonggabus, Sidoarjo2026-08-02T13:00:30+07:00Reza Wika Octavianioctavianireza1@gmail.comMohammad Setyo Wardonomsetyowardono.psd@unusida.ac.idNur Asitahnurasitah@unusida.co.idMachfudzil Asrormachfudzilasror.pgsd@unusida.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Kemampuan menulis narasi merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang penting dikembangkan pada jenjang sekolah dasar karena berperan dalam membantu siswa mengungkapkan gagasan, menyusun alur berpikir secara sistematis, serta meningkatkan kemampuan komunikasi tertulis. Namun, kemampuan menulis narasi siswa masih menghadapi berbagai kendala, seperti kesulitan mengembangkan ide, menyusun unsur cerita, menggunakan kosakata yang tepat, serta menerapkan ejaan dan tanda baca. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan model pembelajaran <em>Picture and Picture</em> berbasis media digital <em>PowerPoint</em> terhadap kemampuan menulis narasi siswa kelas V SDN Balonggabus, Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-experimental melalui desain <em>One-Group Pretest–Posttest Design</em>. Sampel penelitian berjumlah 29 siswa yang ditentukan menggunakan teknik sampling jenuh. Pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan menulis narasi yang diberikan sebelum dan sesudah perlakuan. Data dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji normalitas <em>Shapiro–Wilk</em>, dan uji hipotesis <em>Paired sample t-test</em> dengan bantuan SPSS versi 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan menulis narasi siswa meningkat dari 75,48 pada <em>pretest</em> menjadi 83,72 pada <em>posttest</em>. Hasil uji hipotesis memperoleh nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,000 (<0,05), sehingga menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran <em>Picture and Picture</em> berbasis media digital <em>PowerPoint</em> memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan menulis narasi siswa kelas V SDN Balonggabus, Sidoarjo. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi model pembelajaran berbasis visual dengan media digital dapat menjadi alternatif pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan keterampilan menulis narasi pada siswa sekolah dasar.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1060Inovasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Teknologi Digital dan Kearifan Lokal Minangkabau2026-08-02T13:17:30+07:00Soibatul Aslamiah Nasutionaslamiahs114@gmail.comSupratman Zakirsupratman@uinbukittinggi.ac.idSalmansalman141084@gmail.comSesra Budiobudiosesra24@gmail.comRamadhoni Aulia Gusliramadhoniauliagusli98@gmail.com<table style="font-weight: 400;" width="586"> <tbody> <tr> <td width="417"> <p>Penelitian ini mengkaji inovasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang mengintegrasikan teknologi digital dan kearifan lokal Minangkabau di tingkat Sekolah Menengah Atas. Latar belakang penelitian didasarkan pada tantangan era Revolusi Industri 4.0 yang mengikis nilai-nilai karakter dan kearifan lokal peserta didik. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sintesis literatur dan analisis deskriptif terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kearifan lokal Minangkabau seperti <em>Sumbang Duo Baleh</em>, <em>Kato Nan Ampek</em>, petatah-petitih, dan tradisi surau memiliki keselarasan kuat dengan ajaran Islam melalui filosofi <em>Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah</em> (ABS-SBK); (2) teknologi digital berupa media video, buku digital, e-modul, dan platform media sosial terbukti valid, praktis, dan efektif sebagai media pembelajaran terintegrasi; (3) integrasi dapat dilakukan melalui pendekatan intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan pemanfaatan teknologi sebagai media penyampaian; (4) tantangan utama meliputi keterbatasan infrastruktur teknologi, kompetensi guru, dan ketersediaan bahan ajar terintegrasi. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model pembelajaran PAI yang kontekstual dan bermakna bagi peserta didik di era digital.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> inovasi pembelajaran; pendidikan agama Islam; teknologi digital; kearifan lokal; Minangkabau</p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> <p> </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1299Qur’anic Education on Financial Intelligence2026-07-26T14:42:32+07:00Muh mustakimmustakimjw@gmail.comFitria Nur Farida9mulia@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This article examines the Quranic indications regarding financial intelligence from a Quranic Education perspective using a qualitative research method with a thematic interpretation approach (tafsīr al-mawḍū'ī). The research findings show that financial intelligence in the Qur'an is implied in the terms māl, which implies financial awareness, rizq (wealth mindset), infaq (financial allocation), dayn (responsible financing), tabżīr (financial self-control) and isrāf (moderate consumption). These findings confirm that financial intelligence from a Quranic Education perspective is not merely the ability to accumulate wealth, but also to manage it to realize ḥifẓ al-māl, as the primary objective of maqāṣid al-shari'ah. This study implies that financial intelligence from the perspective of Qur'anic education is an educational system that can shape financial behavior that integrates spirituality, morality, and managerial aspects. This concept can be the basis for curriculum development, family education, educational institution governance, Islamic financial literacy, and public policy. The main principle of this research finding suggests that financial intelligence from the perspective of Qur'anic education is not only oriented towards improving economic welfare, but also towards realizing trustworthy, just, sustainable wealth management, and in line with the objectives of maqāṣid al-sharī'ah, especially ḥifẓ al-māl.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1329Aktualisasi Potensi Belajar Dalam Perspektif Al-Qur’an Dan Relevansinya Terhadap Pendidikan Modern2026-07-30T21:30:50+07:00Abdul Aziz Ridha abd.azizridha@gmail.comAbdul Fattah AbdulFattah95@gmail.comAlamsyah Alamsyah789@gmail.comWahdaniya wahdaniya54@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Krisis dehumanisasi dan reduksionisme teknokratis dalam pendidikan modern menuntut adanya reorientasi paradigma belajar yang tidak hanya berfokus pada capaian kognitif-materialis, melainkan juga menyentuh dimensi spiritual dan fitrah manusia. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kembali konsep potensi belajar dalam Al-Qur’an serta mengelaborasi relevansi praksisnya bagi pembaruan pendidikan abad ke-21. Menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka (<em>library research</em>) dengan pendekatan tafsir tematik (<em>maudhu‘i</em>), data dianalisis secara kritis dari ayat-ayat Al-Qur’an, kitab tafsir klasik-kontemporer, serta literatur pendidikan terkait. Kebaruan (<em>novelty</em>) penelitian ini terletak pada sintesis konseptual yang melampaui kajian normatif-teologis terdahulu, yakni dengan menyelaraskan secara eksplisit epistemologi pencerapan Qur’ani (<em>al-sam‘, al-absar, al-af’idah</em>) dengan temuan neurosains pembelajaran (<em>prefrontal cortex dan sistem limbik</em>) serta teori-teori pendidikan modern (<em>Experiential Learning Kolb dan Konstruktivisme Vygotsky</em>). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an memosisikan potensi belajar sebagai fitrah bawaan (<em>innate potential</em>) yang berorientasi pada proses <em>ta’dib</em> (pembentukan manusia beradab). Melalui analisis kisah Nabi Musa AS dan Khidr AS (QS. Al-Kahfi: 60–82), ditemukan kerangka pedagogi berbasis pengalaman dan konstruktivisme spiritual yang menghadirkan konsep literasi maknawi (<em>Iqra'</em>), <em>MKO Transendental</em>, dan <em>divine scaffolding</em>. Implikasi praktis dari penelitian ini menawarkan model transformasi pendidikan kontemporer pada tiga domain utama: (1) penerapan <em>Interconnected Curriculum</em> yang mengeliminasi dikotomi sains-agama melalui pembelajaran berbasis masalah/proyek (2) reorientasi peran guru dari sekadar instruktur pengetahuan menjadi <em>mu’addib</em> yang merespons diferensiasi modalitas belajar siswa; serta (3) pembentukan budaya sekolah berbasis asesmen otentik holistik yang mengukur keseimbangan antara nalar kritis, adab, dan kesadaran spiritual.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1339Studi Etnomatematika Konsep Volume Wadah Air Standar Fikih dalam Pembelajaran Matematika Kelas V SD2026-07-29T16:33:57+07:00Siti Dinartidinarti.matem@gmail.comFaridatul Masrurohfaridatulm.upjb@gmail.comSiti Munawarohsitimunawaroh.stkipjb@gmail.comSelsa Amilia Rosidaselsaamiliar@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Pembelajaran matematika di sekolah dasar memerlukan konteks yang dekat dengan kehidupan peserta didik agar konsep-konsep abstrak dapat dipahami secara lebih bermakna. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah etnomatematika melalui integrasi praktik budaya dan keagamaan ke dalam pembelajaran. Berbeda dengan penelitian etnomatematika yang umumnya mengkaji artefak budaya lokal, penelitian ini mengeksplorasi wadah air standar fikih (dua qullah) sebagai konteks etnomatematika untuk mengungkap konsep volume dalam praktik keagamaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi konsep-konsep matematika yang terdapat pada wadah air standar fikih serta menganalisis implikasinya dalam pembelajaran matematika kelas V Sekolah Dasar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi. Data dikumpulkan melalui studi literatur, observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap wadah air yang digunakan dalam praktik bersuci, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wadah air standar fikih merepresentasikan konsep-konsep matematika berupa volume, kapasitas, pengukuran, konversi satuan, rasio, serta hubungan antara bentuk geometri dan isi wadah. Wadah tersebut dapat dimodelkan ke dalam bangun ruang, terutama balok dan tabung, sehingga relevan dengan materi volume pada pembelajaran matematika kelas V Sekolah Dasar. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan dapat menjadi sumber belajar kontekstual yang membantu peserta didik menghubungkan konsep matematika dengan pengalaman nyata. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan pembelajaran matematika berbasis etnomatematika serta menyediakan alternatif konteks pembelajaran yang dapat dimanfaatkan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara lebih kontekstual dan bermakna.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1349Emotional Exhaustion: Study Penelitian Perbedaan Peserta Didik Sma Yang Ikut Ekstrakulikulikuler Dan Nonkulikuler 2026-07-29T17:03:04+07:00Taqyah Muthmainnah Azzamitaqyahazzami2@gmail.comCici Yulia Ciciyulia@uhamka.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Penelitian ini dilatarbelakangi untuk mengeksplorasi perbedaan kondisi <em>emotional exhaustion</em> antara peserta didik yang mengikuti dan tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. <em>Emotional exhaustion</em> merupakan kondisi yang ditandai dengan terkurasnya energi fisik, emosional, dan mental sehingga individu mengalami kesulitan dalam menghadapi berbagai tuntutan akademik maupun nonakademik. Penelitian ini menerapkan Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain studi komparatif deskriptif. Populasi penelitian berjumlah 288 responden dengan jumlah sampel penelitian 168 responden yang dipilih berdasarkan teknik <em>proportionate stratified random sampling.</em> Dari 168 responden tersebut, sebanyak 113 responden merupakan siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, sedangkan 55 responden lainnya merupakan siswa yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Data diperoleh menggunakan skala <em>emotional exhaustion</em> berbentuk likert yang terdiri atas 32 butir pernyataan. Dalam penelian ini uji validitas instrumen dinyatakan valid sebanyak 32 pernyataan. lalu untuk uji realibitas, instrumen dinyatakan layak untuk digunakan. kelayakan instrumen kemudian dianalisis melalui <em>independent samples t-test</em>. Penelitian menunjukkan adanya perbedaan rata-rata tingkat <em>emotional exhaustion </em>antara siswa yang mengikuti dan tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, akan tetapi secara statistik penelitian tersebut tidak signifikan sehingga tidak terdapat perbedaan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa keikutsertaan dalam kegiatan ekstrakurikuler belum tentu membedakan tingkat <em>emotional exhaustion</em> siswa, sehingga terdapat faktor lain yang kemungkinan turut memengaruhi kondisi tersebut.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1343The Role of Brand Authenticity in Building Consumer Loyalty Toward Islamic Brands: A Literature Review2026-07-31T20:11:17+07:00Berry Dhiyashavanaberrydhiyashavana@usu.ac.idAyulita Ramadhaniayulita@usu.ac.idHaryaji Catur Putera Hasmanharyaji@usu.ac.id<p>This article examines the role of brand authenticity in building consumer loyalty toward Islamic brands. The study responds to the growing use of halal labels, Islamic symbols, and religious narratives in marketing, where consumers increasingly evaluate whether brand claims are consistent with actual practices. A narrative literature review was conducted by synthesizing peer-reviewed international and national journal articles on brand authenticity, Islamic branding, brand trust, perceived value, repurchase intention, and consumer loyalty. The review shows that brand authenticity strengthens loyalty through four interrelated dimensions: continuity, credibility, integrity, and symbolism. In Islamic brands, these dimensions are reflected in consistent halal identity, credible halal claims, ethical and transparent business conduct, and the ability of the brand to represent consumers' religious and social values. The synthesis also indicates that brand trust and perceived value are important mechanisms that connect authenticity with loyalty. Consumers are more likely to repurchase, recommend, and defend Islamic brands when they perceive the brands as honest, value-consistent, and able to deliver functional, emotional, social, and spiritual benefits. This article proposes a conceptual framework in which brand authenticity influences consumer loyalty both directly and through brand trust and perceived value, while religiosity and halal awareness may strengthen the relationship. The review contributes to Islamic marketing literature by integrating brand authenticity theory with Islamic branding and offers practical implications for managers of halal-oriented brands.</p>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1359Digital Community Marketing dan Customer Engagement terhadap Loyalitas Pelanggan UMKM: Perspektif Etika Bisnis Islam2026-07-31T20:13:20+07:00Nelly Chandrawati Manalunelly.manalu@puterabatam.ac.idMuhammad Haldymuhammad.haldy@puterabatam.ac.idPoppy Oktafianapoppy.putri@puterabatam.ac.id<p>Perkembangan platform interaktif membuka peluang bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), termasuk usaha yang dikelola wirausaha Muslim, untuk membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Penelitian ini menganalisis pengaruh Digital Community Marketing dan Customer Engagement terhadap Loyalitas Pelanggan serta menafsirkan temuan empiris melalui perspektif etika bisnis Islam. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 100 pelanggan UMKM yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert lima poin dan dianalisis dengan SPSS melalui uji validitas, reliabilitas, asumsi klasik, regresi linear berganda, uji t, uji F, dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Digital Community Marketing dan Customer Engagement secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Loyalitas Pelanggan. Secara simultan, kedua variabel juga berpengaruh signifikan dengan nilai R Square sebesar 69,2% dan Adjusted R Square sebesar 68,8%. Dalam perspektif bisnis Islam, komunitas digital dan keterlibatan pelanggan berpotensi memperkuat loyalitas apabila dikelola berdasarkan prinsip sidq, amanah, keadilan, transparansi, komunikasi yang bertanggung jawab, serta menghindari klaim menyesatkan dan manipulasi interaksi. Etika bisnis Islam dalam penelitian ini berfungsi sebagai kerangka interpretatif, bukan sebagai variabel yang diuji secara statistik. Penelitian ini berkontribusi pada Islamic Economics and Business Studies dengan menghubungkan pemasaran relasional digital dan pedoman etis bagi UMKM serta wirausaha Muslim.</p>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1362Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Membentuk Karakter Siswa di SMK Bina Mandiri Al-Qodiriyah Srono Banyuwangi2026-07-31T20:12:15+07:00Siti Mutamimatul Jamaliah tamimtalia20@gmail.comAbdul Roufabdulrouf@staidu.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter siswa di SMK Bina Mandiri Al-Qodiriyah Srono Banyuwangi serta upaya yang dilakukan dalam proses pembentukannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam berperan sebagai pendidik, pembimbing, keteladanan, serta kegiatan keagamaan yang bertujuan menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, sopan santun, dan religius pada siswa. Kontrubusi penelitian ini memberikan gambaran mengenai pelaksanaan pembentukan karakter yang diterapkan di SMK Bina Mandiri Al-Qodiriyah Srono Banyuwangi melalui perpaduan kegiatan pembelajaran, pembiasaan, dan kegiatan keagamaan yang dilaksanakan secara berkelanjutan.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1363Ambivalensi Gawai dalam Pola Komunikasi Anak Autis : Studi Autoetnografi2026-07-31T20:15:39+07:00Ezra Dwi Epriputra epriputraed25e@student.unhas.ac.idMuliadi Mau muliadimau@gmail.comAlem Febri Sonni alemfebris@unhas.ac.id<p>Penggunaan gawai dalam kehidupan anak autis menghadirkan persoalan yang tidak dapat direduksi menjadi dikotomi manfaat dan bahaya. Gawai dapat menyediakan prediktabilitas visual, membantu regulasi sensorik, dan memunculkan bentuk kebahasaan yang tidak terduga, tetapi juga berpotensi mengurangi interaksi timbal balik, memperkeras transisi, dan membentuk ketergantungan situasional. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana penggunaan gawai berkelindan dengan pola komunikasi seorang anak autis minim verbal dalam kehidupan keluarga sehari-hari. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis-interpretatif dengan rancangan autoetnografi evokatif-analitis. Subjek penelitian adalah seorang anak laki-laki berusia 11 tahun yang belum menggunakan bahasa lisan secara fungsional, sedangkan peneliti merupakan ayah kandung subjek. Data dikumpulkan selama enam bulan di rumah keluarga di Makassar melalui catatan harian reflektif, observasi naturalistik, memo interaksi, artefak digital, serta percakapan reflektif dengan ibu, terapis homeschooling, pengasuh, dan anggota keluarga. Data dianalisis melalui analisis tematis refleksif yang dilanjutkan dengan pembacaan diskursif terhadap episode komunikasi terpilih. Temuan menunjukkan bahwa gawai berfungsi secara ambivalen sebagai sarana regulasi sensorik, dinding isolasi, jembatan linguistik, dan objek mediasi relasional. Kontribusi penelitian terletak pada pembacaan komunikasi anak autis sebagai praktik kontekstual, multimodal, dan fluktuatif yang tidak sepenuhnya dapat ditangkap melalui pengukuran laboratorium maupun durasi layar semata.</p>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1372Evaluasi Pembelajaran: Menafsir Ulang 'Rendah' dalam TKA Matematika - Sebuah Kritik Metodologis terhadap Pengukuran Kompetensi Abad 212026-08-02T12:45:52+07:00Eli Agustinah aishaummkhurayya@gmail.comSukiyanto sukiyanto.math@ust.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Penafsiran tunggal terhadap rerata skor Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika yang berada pada kategori "rendah" sering kali secara prematur disimpulkan sebagai krisis kompetensi siswa, tanpa mengevaluasi kualitas psikometrik instrumen yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kritik metodologis dan menafsirkan ulang label skor "rendah" melalui analisis psikometrik modern dan dekonstruksi keselarasan konstruk kompetensi abad ke-21 (4C). Penelitian kuantitatif deskriptif berdesain evaluatif-kritikal ini menganalisis respons sekunder 1.250 siswa SMP/MTs di Kabupaten Malang terhadap 40 butir soal TKA Matematika berbasis Higher-Order Thinking Skills (HOTS). Analisis data menggunakan Item Response Theory (IRT) model Rasch (1-PL) dan Two-Parameter Logistic (2-PL) untuk menguji item fit, tingkat kesukaran (b), daya beda (a), serta Differential Item Functioning (DIF), yang dilanjutkan dengan pemetaan konten-kritis terhadap indikator 4C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30,0% butir soal dikategorikan misfit, 37,5% memiliki kesukaran sangat tinggi (b > 2,0), 22,5% berdaya beda buruk (a < 0,5), dan 27,5% terbukti memuat bias lokasi (DIF) yang merugikan siswa dari daerah rural. Selain itu, hanya 42,5% butir soal yang memiliki keselarasan konstruk secara valid dengan indikator 4C, di mana mayoritas soal yang dilabeli HOTS sejatinya hanya menguji kompleksitas kalkulasi (procedural complexity), bukan kedalaman penalaran kritis (Critical Thinking) atau fleksibilitas strategi (Creativity). Temuan ini membuktikan bahwa label skor "rendah" pada TKA Matematika bukan murni mencerminkan ketidakmampuan akademis siswa (true low competence), melainkan akibat dari artefak pengukuran (assessment artifacts) dan kecacatan desain instrumen. Penelitian ini merekomendasikan penghentian praktik menyalahkan kapasitas siswa (blaming the learner) dan mendesak digelarnya kalibrasi psikometrik serta standardisasi instrumen tes sebelum instrumen dijadikan dasar formulasi kebijakan pendidikan.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1379Development of Smart Andragogical LMS–Padlet Based on Behavioral Learning Analytics in the Course of Student Understanding and Automotive Indonesia's Teacher Professional Education (PPG) Program Learning2026-08-02T16:54:24+07:00Dani Irawandani.irawan.ft@um.ac.idCitra Kurniawan citra.kurniawan.fip@um.ac.idMahfudi Sahly Subandimahfudi.sahly.ft@um.ac.idAhmadahmad.fip@um.ac.idNike Aulia Septianisnike.aulia.septians.ft@um.ac.idAhmat Nurion Makkiahmd.nuron.makki.pps@um.ac.id<p>This research is motivated by the suboptimal Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) competency of Automotive Professional Teacher Education (PPG) students in designing meaningful, contextual, and technology-integrated learning. The use of Learning Management Systems (LMS) in the Student Understanding and Learning course is still limited to material distribution and assignment collection, thus not supporting data-based reflective, collaborative, and adaptive learning. This condition encourages the need to develop an andragogy-based digital learning system that utilizes Behavioral Learning Analytics to improve students' TPACK competency.<br>This study aims to develop a valid, practical, and effective Smart Andragogical LMS–Padlet based on Behavioral Learning Analytics in improving the TPACK competency of Automotive PPG students. The research method used Design and Development Research (DDR) which includes the stages of model development, model validation, and model implementation. The development stage includes needs analysis, andragogy-based LMS architecture design, Padlet integration as a collaborative reflection medium, and the development of a learning analytics dashboard. Data collection was carried out through document review, interviews, questionnaires, TPACK pretest–posttest, and analysis of LMS and Padlet activity logs. Data were analyzed using thematic analysis, descriptive statistics, N-Gain test, and learning analytics analysis. The results showed that the developed product met the criteria of being valid, practical, and effective. The product consists of an andragogy-based LMS, a Padlet collaborative reflection space, a learning analytics dashboard, TPACK-based learning tools, and an evaluation instrument. Product implementation increased the average TPACK competency of students from 61.83 to 86.47 with an N-Gain value of 0.65 (moderate category). The student engagement level reached 93.86% (very high category), while the analytics dashboard was able to monitor the development of student competencies and engagement in real time, thus supporting data-based learning decision-making.</p>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1365Implementasi Microteaching Berbasis Critical Thinking Pedagogy pada Calon Guru PAUD2026-07-31T20:17:22+07:00Gina Asri Ruwaida ginaruwaida@pelitabangsa.ac.idMariana Panji Ramadan marianapanjir@pelitabangsa.ac.idListian Indriyani Achmad listian.achmad@pelitabangsa.ac.idSiti Kholifaholifkh14@gmail.com<p>Critical-thinking-oriented learning in early childhood education requires prospective teachers to translate reasoning skills into developmentally appropriate dialogue and exploration. This study aimed to describe the implementation of <em>microteaching</em> based on <em>Critical Thinking Pedagogy</em> among prospective early childhood teachers. Unlike conventional <em>microteaching</em> that commonly emphasizes general teaching performance, this approach positioned <em>open-ended questioning</em>, response elaboration, feedback, reflection, and <em>re-teach</em>ing as the core of the practice cycle. A descriptive qualitative case study involved 20 students in a one-month program consisting of four meetings. Data were collected through classroom observations, learning-activity plans, reflective responses, and group interview notes, then analyzed thematically. The findings showed that <em>open-ended questioning</em> became the main feature of practice. Student engagement was evident in active participation, note-taking, revision of activity plans, and willingness to repeat teaching segments. Reflection strengthened their orientation toward improving teaching, while time management remained the primary challenge. Students also perceived the approach as applicable to future field practice. The study concludes that <em>Critical Thinking Pedagogy</em>-based <em>microteaching</em> provides a structured space for dialogic practice, feedback, reflection, and preparation for classroom implementation. Practically, <em>teacher education</em> programs can integrate this cycle into learning-design, <em>microteaching</em>, and teaching-practicum courses and assess the quality of interaction alongside general teaching skills.</p>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1351Optimalisasi Sistem Digital dalam Manajemen Ekosistem Zakat di Provinsi Jambi2026-07-29T17:50:27+07:00Midhat Husinmidhathusin@gmail.comD.I. Ansusa Putraansusa@uinjambi.ac.idAbdullah Firdausabd.firdaus@uinjambi.ac.idHusin Bafadhalhusinbafadhal@uinjambi.ac.id<p>This study aims to analyze how digital systems operate in zakat ecosystem management in Jambi Province. Zakat ecosystem management encompasses planning, collection, allocation, and distribution of zakat funds, or logistics. Zakat is also used for consumption (consumptive) and utilization (productive). This research uses a qualitative, empirical law-based method (field research) using a questionnaire administered in Jambi City, Sarolangun Regency, and Tebo Regency. The sample size for this study was 100 people, including representatives from the National Zakat Agency (BAZNAS) and the local community. This study yielded three pieces of information: (1) The digital system at the National Zakat Collection Agency (BAZNAS) is already in place, but its utilization is not yet optimal because this zakat system is dominated by Muslim Civil Servants (ASN), who have regulations governing income deductions allocated for Zakat, Infaq, and Shadaqah (ZIS) using the payroll method from each Muslim Civil Servant's bank account. (2) The digital system at the National Zakat Agency (BAZNAS) is very helpful in saving energy, time, thought, and costs. (3) The digital system at the National Zakat Agency (BAZNAS) also plays a role in empowering or fulfilling the social and economic needs of the community. This can be seen in MSMEs, livestock centers, food barns, and so on. The research concludes that BAZNAS continues to maximize the potential of the digital system to increase zakat fund collection. Furthermore, religious and digital literacy among the community are also being improved to raise awareness of zakat payers and implement community empowerment and regional development in stages.</p>2026-08-04T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1380Development of Asoka-Based Smart Pedagogy Edukit to Strengthen TPACK of Automotive PPG Students in the Student Understanding and Learning Course2026-08-04T16:33:44+07:00Dani Irawandani.irawan.ft@um.ac.idM. Anas Tohir m.anas.tohir.fip@um.ac.idMuhammad Alfan muhammad.alfan.fis@um.ac.idAhmad ahmad.fip@um.ac.idPutri Dwi Kartiniputri.dwikartini.ft@um.ac.idNia Arlika nia.arlika.pasca@um.ac.id<p>This research is motivated by the suboptimal Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) competency of PPG automotive study students in designing meaningful, contextual learning that is in accordance with the characteristics of vocational high school students. The results of the needs analysis indicate that the teaching materials in the Student Understanding and Learning course are still generic and have not integrated the automotive vocational context, reflective learning experiences, and the systematic use of learning technology. This condition has an impact on the tendency of students to be oriented towards the administrative fulfillment of learning devices without in-depth pedagogical design. Therefore, an innovative product-based learning device that is implementable is needed to facilitate the strengthening of TPACK in an integrated manner. This study aims to: (1) develop an ASOKA-based Smart Pedagogy Edukit that is contextual to automotive vocational learning; (2) analyze the level of validity and practicality of the product; and (3) test the effectiveness of edukit in improving PPG students' TPACK competency in designing meaningful and reflective learning. The study used a mixed method approach with the ADDIE development model which includes the stages of needs analysis, product design, development through expert validation and limited trials, implementation using quasi-experiments, and evaluation for product refinement. Data collection was carried out through questionnaires, interviews, observations, assessment of learning tools, and documentation, with descriptive statistical analysis, Aiken's V, MANOVA, and qualitative analysis assisted by NVivo. The results of the study indicate that the ASOKA-based Edukit Smart Pedagogy was successfully developed as a learning tool that integrates pedagogical competencies, vocational content, and technology to strengthen the TPACK competencies of Automotive PPG students. The resulting product includes an implementation guide, learning modules, automotive case studies, interactive digital media, TPACK instruments, pedagogical reflection sheets, and is integrated with the Learning Management System (LMS). The results of expert validation show that the product is categorized as very valid, while the practicality test received very positive responses from lecturers and students. Product implementation is proven to increase learning engagement, pedagogical reflection skills, and student TPACK competencies compared to conventional learning.time, thus supporting data-based learning decision making.</p>2026-08-04T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1373Merekonstruksi Paradigma Pendidikan Islam dalam Pemikiran Ibnu Miskawaih: Analisis Filosofis tentang Pembentukan Insan Kamil2026-08-02T12:44:03+07:00Aidil Fitriaidilfitri515@gmail.comNita Lestari lestarinita321@gmail.comRatihratihkama1998@gmail.comFitria Wahud fitriawahud123@gmail.comM. Rizkoni Salisrizkonisalis89@gmail.comArdian Al Hidayaardwall99@gmail.com<p>Perkembangan pendidikan pada era kontemporer menghadirkan tantangan yang semakin kompleks, terutama berkaitan dengan penguatan karakter, integritas moral, dan pembentukan kepribadian peserta didik di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya rekonstruksi paradigma pendidikan Islam yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan manusia yang utuh. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan merekonstruksi paradigma pendidikan Islam dalam pemikiran Ibnu Miskawaih melalui analisis filosofis mengenai pembentukan insan kamil. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data penelitian berupa data sekunder yang bersumber dari karya-karya utama Ibnu Miskawaih, khususnya <em>Tahdzīb al-Akhlāq wa Ta</em><em>ṭ</em><em>hīr al-A‘rāq</em>, serta artikel jurnal nasional terakreditasi, jurnal internasional bereputasi, buku ilmiah, prosiding, dan berbagai literatur yang membahas filsafat pendidikan Islam. Analisis data dilakukan menggunakan analisis isi kualitatif yang dipadukan dengan analisis filosofis melalui kajian ontologis, epistemologis, dan aksiologis untuk menginterpretasikan konsep-konsep pendidikan yang dikembangkan oleh Ibnu Miskawaih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paradigma pendidikan Islam menurut Ibnu Miskawaih bertumpu pada pembentukan manusia secara holistik melalui integrasi dimensi intelektual, moral, spiritual, dan sosial. Pendidikan dipahami sebagai proses penyempurnaan jiwa yang diarahkan pada pembentukan insan kamil melalui pengembangan akal, pembiasaan akhlak, dan internalisasi nilai-nilai kebajikan. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa integrasi antara akal, akhlak, dan kebajikan menjadi landasan utama dalam membangun sistem pendidikan yang mampu menghasilkan manusia berkarakter, bijaksana, dan bertanggung jawab. Rekonstruksi paradigma pendidikan Islam berdasarkan analisis filosofis terhadap pemikiran Ibnu Miskawaih juga menunjukkan relevansi yang kuat dalam menjawab tantangan pendidikan Islam kontemporer, khususnya dalam mengintegrasikan pengembangan kompetensi akademik dengan pembentukan karakter dan spiritualitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Ibnu Miskawaih memberikan kontribusi filosofis yang signifikan bagi pengembangan paradigma pendidikan Islam yang holistik, integratif, dan kontekstual, sehingga dapat dijadikan landasan konseptual dalam merumuskan sistem pendidikan Islam yang berorientasi pada pembentukan insan kamil.</p>2026-08-04T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1253Konsep Sikap Ekologis Manusia Terhadap Lingkungan Hidup Perspektif Al-Qur’an: Pendekatan Tafsir Mauḍū‘ī2026-07-20T21:55:06+07:00M. Zia Al-Ayyubiziamuhammad15@uin-malang.ac.id<p>Tulisan ini menggunakan metode tafsir tematik (<em>mau</em><em>ḍū‘ī</em>) dengan menggunakan pendekatan historis untuk membahas ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang sikap ekologis manusia terhadap lingkungan hidup. Adapun pemilihan ayat yang digunakan pada tulisan ini didasarkan pada kriteria tematik yang merepresentasikan dua aspek utama relasi manusia-lingkungan, yaitu aspek destruktif (QS. Al-Baqarah: 205 dan Al-Rum: 41) dan aspek konstruktif (QS. Hud: 61 dan Al-Rum: 9), sehingga keempat ayat ini saling melengkapi dalam membentuk kerangka sikap dan etika lingkungan yang komprehensif berdasarkan ayat Al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep sikap ekologis manusia terhadap lingkungan hidup dalam perspektif Al-Qur’an. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep ekologi dan lingkungan dalam Al-Qur’an memiliki banyak terminologi. Di antaranya adalah kata atau terma <em>al-‘alamin, al-sama’, al-ard, dan al-bi’ah</em>. Kemudian penjelasan mengenai ayat-ayat ekologi tidak jauh dari nilai moral yang dimuat dalam Al-Qur’an, yakni manusia diharuskan untuk menjaga, melestarikan, dan tidak merusak alam apapun latarbelakangnya. Dari nilai moral tersebut, muncul sikap ekologis manusia terhadap lingkungan hidup, yaitu menjadi <em>khalifah</em> yang memakmurkan bumi, menjauhi kerusakan dan kemunafikan, menegakkan keseimbangan (<em>mizan</em>) dan menghindari pemborosan, mengakui hubungan simbiosis antara manusia dan alam, bertaubat dan introspeksi.</p>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1332The Parenting Learning Process Among Mothers with Motherless Experiences Raising Children with Special Needs2026-07-29T19:30:42+07:00Noerma Kurnia Fajarwatimuma.kurnia@gmail.comHenny Setianihennysetian@gmail.comRatu Yustika Riniratu.yustika.rini@binabangsa.ac.id<p>Mothers with motherless experiences face unique challenges in developing parenting competencies while raising children with special needs because the intergenerational transfer of parenting knowledge is disrupted. This study aimed to analyze the parenting learning process among mothers with motherless experiences. A qualitative study using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) was conducted with eight purposively selected mothers who served as the primary caregivers of children with professionally diagnosed special needs. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and documentation, and analyzed using IPA procedures. The findings indicate that mothers reconstructed parenting knowledge through direct caregiving experiences, reflective learning, interactions with professionals and parent communities, and the internalization of Islamic family education values. These processes developed through the experiential learning cycle, leading to adaptive parenting competencies and meaningful parenting practices. The study proposes the Motherless Parenting Learning Process as a conceptual model integrating Experiential Learning Theory and Islamic family education, contributing to family education research and parenting education programs</p>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1390Syukur dalam Perspektif Psikologi Islam terhadap Kesejahteraan Psikologis Anak dan Remaja: Kajian Narasi Literatur2026-08-04T19:28:30+07:00Heidisa Alauddina25930017@students.uii.ac.idNita Tri Mulyaningsih 093200103@uii.ac.id<p style="font-weight: 400;">Kesejahteraan psikologis anak dan remaja merupakan isu krusial dalam konteks masyarakat Muslim Indonesia. Syukur (<em>gratitude</em>) dalam perspektif psikologi Islam dipandang sebagai konstruk multidimensional yang mencakup penghayatan hati (<em>qalb</em>), ekspresi lisan (<em>lisan</em>), dan manifestasi perbuatan (<em>jawarih</em>) yang berpotensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis. Namun, kajian integratif yang memadukan pendekatan Bayani dengan literatur empiris masih terbatas. Kajian ini bertujuan menganalisis peran syukur dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis anak dan remaja berdasarkan perspektif psikologi Islam dengan landasan epistemologi Bayani. Kajian menggunakan pendekatan narrative literature review dengan paradigma epistemologi Bayani. Penelusuran literatur dilakukan melalui lima <em>database</em> akademik: Google Scholar, Scopus, DOAJ, SINTA, dan Consensus. Sebelas artikel yang memenuhi kriteria inklusi (rentang tahun 2015-2026, berbahasa Indonesia atau Inggris, fokus pada syukur dan kesejahteraan psikologis anak/remaja) disintesis. Delapan dari sebelas studi menemukan hubungan positif dan signifikan antara syukur dan kesejahteraan psikologis remaja (r = 0,462-0,752). Tiga dimensi syukur Islam <em>(qalbiyah, lisaniyah, jawarihiyah)</em> berkorespondensi kuat dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, dan hubungan positif dalam model kesejahteraan psikologis oleh Ryff. Integrasi nilai syukur dalam kurikulum pendidikan Islam, program konseling berbasis spiritual, dan pola pengasuhan Islami berpotensi signifikan meningkatkan kesejahteraan psikologis generasi Muslim.</p>2026-08-02T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1181Etika Bermedia Sosial Dalam Perspektif Al-Qur'an: Analisis Tafsir Qs. Al-Hujurat Ayat 6, 11 Dan 12 2026-08-06T16:56:06+07:00Selpi Indramayaselpiindramaya@stiq-kepri.ac.idFaiz Tsabitul Aqdamtsabbitulaqdamfaaiz@gmail.comMuhammad muhydiinmuhammadmuhyiddn@gmail.comRadhi Pratamaradhi0375@gmail.comLailatul Mardiahlailatulmardhiyah301@gmail.comMiftahul Rizkymiftahulrizky.2512@gmail.comFitra Khairul Dzakwankhairuldzakwan11@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>The development of social media has brought significant changes to the communication patterns of modern society, but it has also generated various ethical issues, such as the spread of unverified information, hate speech, insults, prejudice, and the disclosure of personal matters in digital spaces. This study aims to analyze the concept of social media ethics from the perspective of the Qur’an through a tafsir study of QS. Al-Hujurat verses 6, 11, and 12. This research employs a qualitative approach using a library research method and a thematic interpretation (tafsir maudhu’i) approach. The research data were obtained from primary sources, including the Qur’an and classical as well as contemporary tafsir works, and secondary sources consisting of scholarly articles and relevant literature on Islamic communication ethics and digital literacy. Data analysis was conducted using content analysis techniques by identifying the ethical values contained in these verses and relating them to contemporary digital communication phenomena. The findings reveal that QS. Al-Hujurat verses 6, 11, and 12 establish a paradigm of social media ethics based on three main principles: information verification through the concept of tabayyun, respect for human dignity through the prohibition of insulting and degrading others, and social responsibility through controlling prejudice, tajassus, and ghibah. This study demonstrates that social media ethics from the Qur’anic perspective is not merely normative but can be developed as an Islamic digital literacy framework that integrates technological competence with moral and spiritual values. This study contributes to contemporary Qur’anic studies by offering a model of digital communication ethics based on Qur’anic principles that is relevant to the challenges of today’s information society. </p> <p> </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-06T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1446Edukasi Lingkungan sebagai Strategi Pemberdayaan Sosial: Meningkatkan Partisipasi Pedagang dalam Pengelolaan Sampah di Pasar Induk Gedebage 2026-08-06T21:48:34+07:00Monica Sundawati Susanto monicasundawati@uinsgd.ac.idShofiyah Khoirunnisa shofiyahkh123@gmail.comAlma Nayla Putrian almanaylaputrian@gmail.comDiwananta Az-zikradiwanantaazzi@gmail.comTania Tri Wardanitaniawardani879@gmail.com<p>Pengelolaan sampah di pasar tradisional masih menghadapi berbagai tantangan, terutama rendahnya kesadaran dan partisipasi pedagang dalam melakukan pemilahan sampah sejak dari sumber. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permasalahan pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan sarana dan prasarana, tetapi juga dipengaruhi oleh aspek perilaku dan kapasitas masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran edukasi lingkungan sebagai strategi pemberdayaan sosial dalam meningkatkan partisipasi pedagang terhadap pengelolaan sampah di Pasar Induk Gedebage, Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain penelitian lapangan (<em>field research</em>). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara informal, diskusi dengan pedagang dan pengelola pasar, serta dokumentasi selama pelaksanaan edukasi lingkungan berbasis <em>door-to-door</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan edukasi lingkungan berbasis <em>door-to-door</em> mampu membangun proses pembelajaran yang lebih dialogis, kontekstual, dan partisipatif sehingga meningkatkan pemahaman pedagang mengenai pemilahan sampah, menumbuhkan kesadaran lingkungan, dan memperkuat partisipasi dalam menjaga kebersihan pasar. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak hanya dipengaruhi oleh penyampaian informasi, tetapi juga oleh proses komunikasi interpersonal dan pembelajaran sosial yang berlangsung selama kegiatan edukasi. Temuan penelitian menegaskan bahwa edukasi lingkungan merupakan strategi pemberdayaan sosial yang efektif dalam mendorong pengelolaan sampah berbasis partisipasi pada komunitas pasar tradisional serta berkontribusi dalam pengembangan model edukasi lingkungan berbasis <em>door-to-door</em> yang adaptif terhadap karakteristik masyarakat pasar.</p>2026-08-06T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1416Evaluasi Pembelajaran Berbasis Budaya Ketamansiswaan dalam Menumbuhkan Kemandirian dan Budi Pekerti Anak Usia Dini2026-08-06T18:43:02+07:00Lita Isnatun litaisnatun07@gmail.comRahayu Retnaningsih litaisnatun07@gmail.comSuyono litaisnatun07@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Artikel ini membahas pembelajaran berbasis budaya Ketamansiswaan sebagai kerangka konseptual dalam menumbuhkan kemandirian dan budi pekerti anak usia dini. Latar belakang kajian ini berangkat dari tantangan pendidikan anak usia dini kontemporer yang cenderung menitikberatkan pada capaian akademik dan keterampilan kognitif, sementara dimensi karakter, kemandirian, dan nilai kemanusiaan sering kali terpinggirkan. Budaya Ketamansiswaan, yang berakar pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara, menawarkan pendekatan pendidikan yang humanistik, berorientasi pada kemerdekaan belajar, keteladanan, dan pembentukan budi pekerti sebagai tujuan fundamental pendidikan. Tujuan artikel ini adalah untuk mengkaji dan menganalisis secara teoretis peran pembelajaran berbasis budaya Ketamansiswaan dalam menumbuhkan kemandirian dan budi pekerti anak usia dini, serta mengevaluasi relevansi dan kontribusinya dalam diskursus pendidikan anak usia dini. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-teoretis melalui kajian pustaka kritis, analisis konseptual, dan sintesis teori dari literatur ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis budaya Ketamansiswaan secara konseptual mampu mendukung pengembangan kemandirian anak melalui prinsip kemerdekaan belajar dan sistem among, serta membentuk budi pekerti melalui keteladanan dan pembiasaan nilai dalam praktik pendidikan. Kesimpulan kajian ini menegaskan bahwa budaya Ketamansiswaan memiliki relevansi teoretis yang kuat sebagai landasan pembelajaran anak usia dini yang holistik dan berorientasi pada nilai. Implikasi praktis dari kajian ini mengarah pada pentingnya revitalisasi nilai-nilai Ketamansiswaan dalam perancangan pembelajaran anak usia dini guna memperkuat pendidikan karakter yang kontekstual dan berkelanjutan.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-06T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1388Kepemimpinan Instruksional Kepala Sekolah Dalam Membangun Budaya Sekolah Adiwiyata Pada Sekolah Baru2026-08-07T05:42:23+07:00Aris Broto2576046073@webmail.ac.idMuhammad Zuhaery muhammad.zuhaery@mp.uad.ac.idDian Hidayati dian.hidayati@mp.uad.ac.id<p><em>This study employed a qualitative approach using a case study design at SMP Negeri 28 Balikpapan. The participants consisted of three informants, including one principal and two teachers, who were selected through purposive sampling based on their involvement in the implementation of the Adiwiyata School program. Data were collected through in-depth interviews and observations and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings identified three major dimensions of instructional leadership in fostering an Adiwiyata School culture: the management of environment-based learning programs, the development of a supportive school climate, and the transformation of school culture through the strengthening of vision, role modeling, habituation, and active participation of all school members. These three dimensions functioned in an integrated manner to internalize environmental values and develop them into a sustainable school culture. The study demonstrates that, within the context of a newly established school, instructional leadership not only enhances the quality of teaching and learning but also serves as an integrative mechanism that aligns the school's vision, instructional management, and school climate to cultivate a sustainable Adiwiyata School culture.</em></p>2026-08-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1437Empowering Women in the Transmission of the Qur'anic Traditions: A Case Study of the Traditions Program at STIU Wadi Mubarak Bogor 2026-08-07T07:59:17+07:00Muhammad Azizan Fitrianaazizan@iiq.ac.idFaldi Naviz Suardifaldinavizsuardi@alumni.iiq.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study aims to analyze the process of taḥammul (acquisition) of Qur’anic sanad among female students, examine the genealogy of the sanad they possess, identify the role of women in preserving Qur’anic sanad, and formulate strategies for developing an inclusive sanad program at STIU Wadi Mubarak Bogor. The research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, observations, and document analysis involving program administrators, sanad instructors, female students, and relevant sanad documents. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the taḥammul process is carried out through several stages, including participant selection, talaqqi, musyafahah, memorization recitation (‘arḍ), reinforcement of mutūn (classical texts), sanad examination, and the granting of sanad certification (ijazah). The genealogy of the female students’ sanad was found to be continuously connected (muttasil) to the Prophet Muhammad (PBUH) through the transmission of Hafṣ ‘an ‘Āṣim, providing strong scholarly and spiritual legitimacy. The study also demonstrates that women play significant roles as recipients of sanad, Qur’anic teachers, guardians of scholarly authority, agents of knowledge transmission, and contributors to the regeneration of Qur’anic education. To strengthen the sustainability of the program, the study proposes four main strategies: strengthening an adab and sanad based curriculum, developing flexible learning models, enhancing the competencies of female instructors, and reinforcing institutional support. These findings indicate that sanad programs can serve as an effective instrument for preserving the authenticity of Qur’anic transmission while simultaneously empowering women within the contemporary Islamic scholarly tradition. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1438Sinergisitas Kepemimpinan Kepala Madrasah Dan Komite Sekolah Berbasis Prinsip Kolegalitas Islami 2026-08-07T08:12:52+07:00Edi Wardaniediwardani2@gmail.comSukandar Hadisukandarhadi2023@gmail.comTabranitabraniidris095@gmail.comMasrurimasruriilhamalif@gmail.comZaharudinzahar.unu92@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study aims to develop a conceptual model of Synergistic Leadership between Madrasah Principals and School Committees Based on Islamic Collegiality Principles as an alternative approach to strengthening madrasah governance and improving educational quality. This study employed a qualitative approach using a library research method through a systematic synthesis of relevant academic literature on educational leadership, collaborative leadership, school governance, and Islamic leadership. Data analysis was conducted through thematic identification, conceptual categorization, and integration of previous research findings to construct a contextual framework for Islamic educational institutions. The findings reveal that leadership synergy between madrasah principals and school committees is formed through five main components: shared vision, strategic communication and coordination, participatory decision-making, shared accountability, and partnership networking. This study introduces the concept of Islamic Collegiality as a new framework that integrates the principles of syūrā (consultation), amanah (trust and responsibility), ‘adl (justice), mas’uliyyah (moral accountability), and ta‘āwun (cooperation) as the foundation of leadership relationships between madrasah principals and school committees. This model expands the perspective of collaborative leadership by incorporating ethical, social, and spiritual dimensions that characterize Islamic education. The study contributes theoretically to the development of Islamic educational leadership studies and provides practical implications for strengthening madrasah governance that is participatory, transparent, accountable, and sustainable. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1439Analisis Stakeholder Dan Pengembangan Kemitraan Pendidikan Islam di MAN 1 Merangin 2026-08-06T13:45:38+07:00Ahmad Fauziafdikaprawira12@gmail.comMuhammad Aminullahmuhammadaminullah2017@gmail.comYalhadiyalhadi298@gmail.comSaidi Muzakirsaidimuzakkir2015@gmail.comNuraini Arifah Fitrianinurainiarifahfitriani1@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study aims to analyze the role of stakeholders and the development of Islamic education partnerships in improving the quality of education at MAN 1 Merangin. This study used a descriptive approach supported by quantitative data from respondents consisting of students’ parents, teachers, school committee members, and other stakeholders. Data were collected through questionnaires, interviews, observation, and documentation. The data were analyzed through validity testing, reliability testing, normality testing, heteroscedasticity testing, simple linear regression, and the coefficient of determination. The results show that the research instruments were valid and reliable. The stakeholder partnership variable had a positive and significant effect on education quality, with a regression coefficient of 0.653 and a significance value of 0.000. The R Square value of 0.347 indicates that stakeholder partnerships contributed 34.7% to education quality. The findings also show that stakeholders’ perceptions of educational services were in the fairly good category. The school-parent relationship strategy was dominated by routine communication, parent meetings, involvement in school activities, and educational consultation. Support from the business sector and Corporate Social Responsibility programs also contributed to improving education quality through facilities assistance, educational activities, training programs, and scholarships. This study confirms that the development of Islamic education partnerships requires open communication, active participation, resource support, shared commitment, and continuous evaluation so that the quality of madrasah education can improve systematically and sustainably. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1441Development of Science Learning Models Based on Islamic Values for Strengthening Scientific Literacy and Religious Character of Elementary School Students 2026-08-06T14:04:39+07:00Saukani Nur Akbar Saputrasaukanisaputra7@gamil.comKhamam Khosiinkhamamkhosiin95@gmail.comBenny Prasetyaprasetiyabenny@gmail.com<p>This study aims to develop an Islamic values-based science learning model to strengthen scientific literacy and religious character among elementary school students. The study employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE development model, consisting of analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. The research participants included science education experts, Islamic education experts, elementary school teachers, and students selected purposively according to the research objectives. Data were collected through expert validation sheets, observations, interviews, questionnaires, scientific literacy tests, and religious character assessment instruments. The data were analyzed using descriptive statistics, effectiveness testing, and qualitative thematic analysis. The findings revealed that the developed model was valid, practical, and effective for elementary science learning. The model integrates scientific inquiry activities with Islamic values through five learning stages: orientation toward natural phenomena, scientific exploration, evidence-based explanation, Islamic value reflection, and application of scientific concepts in daily life. The implementation of the model improved students’ scientific literacy, particularly in explaining phenomena, interpreting evidence, analyzing information, and making scientific conclusions. In addition, the model strengthened students’ religious character through honesty, responsibility, environmental awareness, gratitude, and collaborative attitudes. This study contributes a comprehensive instructional framework that integrates scientific competence and Islamic character development within elementary science education. </p>2026-08-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1442The Role Of Mastermind Leader In Building Islamic Culture At Muhammadiyah Tanjung Redeb Senior High School 2026-08-06T14:15:19+07:00Rahmat Hidayatullahrahmat24hidayatullah94@gmail.comKhamam Khosiinkhamamkhosiin95@gmail.comAhsan Hakimahsanhakim1988@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study aims to analyze the role of the mastermind leader in developing Islamic school culture at SMA Muhammadiyah Tanjung Redeb. The study responds to the increasing need for educational leadership models that are not only managerial but also capable of designing, transforming, and sustaining Islamic values within school organizations. This research employed a qualitative case study approach. Data were collected through semi-structured interviews, observation, and document analysis involving the principal, vice principals, Islamic education teachers, teachers, and students. Data were analyzed using thematic analysis through the stages of data familiarization, coding, theme development, interpretation, and verification. The findings reveal that the mastermind leader plays five strategic roles: (1) as an Islamic cultural architect who formulates institutional vision, (2) as a value transformer who integrates Islamic principles into school practices, (3) as a moral role model who demonstrates exemplary leadership behavior, (4) as a mobilizer who develops collective participation through distributed leadership, and (5) as a sustainability builder who institutionalizes Islamic culture through continuous evaluation and regeneration. This study contributes to Islamic educational leadership literature by proposing the mastermind leader concept as an integrative framework combining transformational, instructional, distributed, strategic, and Islamic value-based leadership perspectives. The study implies that sustainable Islamic school culture requires visionary leadership supported by collaboration, institutional commitment, and value internalization. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1370Lived Moral Pedagogy: Enacting Moral Education Through Experience, Culture, and Religion in Indonesian Early Childhood Classrooms2026-08-02T12:46:07+07:00Jumiatmoko jumiatmoko@staff.uns.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Moral stimulation in early childhood education has received growing attention. However, relatively little is known about how teachers construct and enact moral pedagogy beyond the boundaries of formal educational theory. This study explores how Indonesian early childhood teachers foster children’s moral development through experience, culture, and religion. Using a qualitative approach, data were collected from 46 teachers enrolled in a Recognition of Prior Learning (RPL) program. Participants responded to a series of open-ended questions administered through an online questionnaire. The data were analyzed using thematic analysis. Four interrelated themes emerged from the analysis. First, teachers viewed moral values as principles that must be personally embodied and practiced before being taught to children. Second, moral values were enacted through everyday pedagogical practices, including habituation, modeling, storytelling, dialogue, and play. Third, teachers drew upon lived experience, cultural traditions, and religious teachings as the primary foundations for moral education. Finally, they emphasized that the sustainability of moral education depends on consistency across home, school, and digital environments. This study proposes Lived Moral Pedagogy as a contextual, embodied, and practice-based framework for understanding moral education in early childhood settings. The framework extends conventional models of moral education by shifting attention from the mere transmission of moral values and curriculum implementation toward the lived enactment of morality in everyday life, mediated through teachers’ identities and experiences, cultural traditions, and religious values. The findings have implications for teacher education, early childhood curriculum development, and educational policy by highlighting the importance of cultivating teachers’ moral identity and relational capacity, as well as the significance of culturally grounded pedagogical judgment.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-07T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1319Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Moderasi Beragama Untuk Meningkatkan Pemahaman Membaca Siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di Madrasah Ibtidaiyah2026-07-30T21:31:54+07:00Fatihatur Rahmifatihaturrahmi462837@gmail.comNurul Hidayahnurul.hidayah@radenintan.ac.idAyu Reza Ningrum ayurezaningrum@radenintan.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum tersedianya bahan ajar Bahasa Indonesia kelas IV MI/SD yang menarik, sesuai dengan karakteristik peserta didik, dan mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama secara sistematis. Penelitian ini bertujuan bahan ajar mengembangkan berbasis moderasi beragam yang layak dan menarik untuk mendukung pembelajaran pemahaman membaca. Kebaruan produk terletak pada pengintegrasian nilai toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, kerja sama, komitmen pengabdian, dan sikap antikekerasan ke dalam teks bacaan, ilustrasi, kegiatan berdiskusi, menulis, berbicara, asesmen, serta refleksi. Berbeda dari bahan ajar yang sebelumnya digunakan, produk ini tidak hanya menyajikan materi kebahasaan, tetapi juga memadukan penguatan literasi dan pendidikan karakter sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Penelitian menggunakan metode Research and Development dengan model ADDIE yang meliputi tahap Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Subjek penelitian terdiri atas guru serta siswa kelas IV MIN 4 Bandar Lampung, dengan uji coba kelompok kecil yang melibatkan 15 siswa dan kelompok besar 25 siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, angket validasi ahli, dan angket respon peserta didik. Hasil validasi menunjukkan kategori sangat layak, dengan persentase 96%–98,6% dari ahli media, 95% dari ahli materi, dan 95% dari ahli bahasa. Respon peserta didik memperoleh kategori sangat menarik, yaitu 88% pada kelompok kecil dan 90% pada kelompok besar. Dengan demikian, bahan terbuka dinyatakan layak dan menarik digunakan. Namun, efektivitasnya dalam meningkatkan pemahaman membaca belum dapat disimpulkan karena penelitian belum menyajikan data pretest dan posttest. Oleh karena itu, penelitian perlu menguji keefektifan produk melalui desain eksperimen dan analisis peningkatan skor pada sampel yang lebih luas agar pengaruhnya terhadap pemahaman membaca dapat dibuktikan secara empiris.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-08T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1418Implementasi Realistic Mathematics Education (RME) Berbasis Etnomatematika Congklak Dalam Mengembangkan Kemampuan Penalaran Matematis Siswa Materi Peluang2026-08-08T22:07:13+07:00Lisa Melindalysamelinda2468@gmail.comMaylita Hasyimmaylita.hasyim@ubhi.ac.id<p>Kemampuan penalaran matematis siswa Sekolah Menengah Pertama pada materi peluang masih tergolong rendah karena pembelajaran cenderung disajikan secara abstrak dan terlepas dari pengalaman keseharian siswa. Salah satu upaya untuk mengatasi persoalan tersebut adalah dengan menghadirkan konteks budaya lokal ke dalam pembelajaran melalui pendekatan <em>Realistic Mathematics Education</em> (RME) yang dipadukan dengan etnomatematika permainan congklak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi RME berbasis etnomatematika congklak dan menganalisis perkembangan kemampuan penalaran matematis siswa pada materi peluang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek satu kelas X di SMK SORE Tulungagung, yang selanjutnya difokuskan pada enam siswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Data dikumpulkan melalui observasi selama tiga kali pertemuan pembelajaran, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji dan lubang congklak yang dimanipulasi secara langsung oleh siswa membantu mereka mengaitkan konsep ruang sampel, titik sampel, dan peluang kejadian dengan pengalaman bermain yang telah dikenal sejak kecil. Siswa berkemampuan tinggi mampu memenuhi seluruh indikator penalaran matematis, yaitu mengajukan dugaan, melakukan manipulasi matematika, dan menarik kesimpulan secara logis, sedangkan siswa berkemampuan sedang dan rendah menunjukkan peningkatan bertahap terutama pada indikator mengajukan dugaan dan manipulasi matematika. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran RME berbasis etnomatematika congklak berpotensi menumbuhkan penalaran matematis sekaligus melestarikan kearifan budaya lokal dalam pembelajaran matematika di sekolah.</p>2026-08-08T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1465Formation of Students' Religious Identity Through the Integration of Islamic Values and the Local Wisdom of the Dayak Punan Tribe 2026-08-09T12:26:32+07:00 Maimunah Maimunahmaimunah.spdi79@gmail.comKhamam Khosiinkhamamkhosiin95@gmail.comBenny Prasetyaprasetiyabenny@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study examines the formation of religious identity among Dayak Punan students through the integration of Islamic values and local cultural wisdom. The study is based on the assumption that religious identity is not formed solely through religious instruction but through continuous interaction between religious teachings, cultural experiences, social relationships, and educational environments. This research employed a qualitative approach with an interpretive phenomenological design. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis involving Islamic Religious Education teachers, students, school administrators, parents, religious leaders, and indigenous community representatives. Data were analyzed using thematic analysis to identify patterns related to Islamic values, Dayak Punan cultural wisdom, identity negotiation, and educational practices. The findings reveal that religious identity formation among Dayak Punan students occurs through four main processes: value recognition, value internalization, identity negotiation, and identity expression. The integration of Islamic values, including tauhid, amanah, social responsibility, and environmental stewardship, with local values such as solidarity, respect for nature, and communal responsibility enables students to construct a balanced identity as Muslims and members of the Dayak Punan community. This study contributes to Islamic education by emphasizing the importance of culturally responsive, dialogical, and community-based approaches in strengthening religious identity while preserving indigenous cultural heritage. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1395Reconstructing Gender Equality in Islamic Law From a Human Rights Perspective2026-08-08T21:58:24+07:00M. Wildan Murtadho Al Idruswildan_alidrus@yahoo.co.idDedy Syahputra dedymobrig42@gmail.comYusrizal Amri yoesrizalwpc@gmail.comRobinhot Siagian robinhotsgn@gmail.comDedi Sumanto dedisumanto@uinjambi.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study aims to analyze the concept of gender equality within the framework of Islamic law and its relation to Human Rights. The issue of gender equality has become a significant debate due to the differences between normative values in Islamic teachings and their implementation in various Muslim countries. This research employs a normative juridical method with conceptual, statutory, and comparative approaches. The data sources consist of primary, secondary, and tertiary legal materials, which are analyzed qualitatively. The results indicate that, normatively, Islamic law upholds the principles of justice (al-‘adl), equality (al-musawah), and public interest (maslahah), which are in line with human rights values. However, in practice, there are still gaps caused by textual interpretations, patriarchal cultural influences, and state policies that are not yet fully responsive to gender issues. Comparative studies in several Muslim countries reveal variations in the implementation of gender equality, where more contextual and progressive approaches tend to produce more inclusive policies. The maqashid sharia approach can serve as a solution in bridging Islamic law and human rights through adaptive reinterpretation in accordance with contemporary developments. Therefore, gender equality can be realized through the comprehensive and just integration of Islamic values and human rights.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-08T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1466Teachers' Strategies in Internalizing Awareness of Dzuhur Prayer Worship 2026-08-09T13:12:30+07:00Mastora Mastora mastora.spdibarraw@gmail.comKhamam Khosiinkhamamkhosiin95@gmail.comAhsan Hakimahsanhakim1988@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study examines teachers’ strategies in internalizing students’ awareness of Dhuhr prayer worship within the context of Islamic Religious Education. The study is based on the assumption that religious practice in schools should not only emphasize behavioural compliance but also develop students’ understanding, personal commitment, and spiritual awareness. A qualitative case study approach was employed to explore how teachers plan, implement, and evaluate strategies for strengthening students’ prayer awareness. Data were collected through semi-structured interviews, non-participant observations, and document analysis involving Islamic Religious Education teachers, school leaders, and students. Data were analysed using reflexive thematic analysis to identify patterns related to teacher practices and students’ religious development. The findings reveal five main strategies: teacher exemplarity, structured habituation, meaning-oriented religious instruction, supportive supervision, and collective involvement. These strategies contribute to a gradual transformation from externally controlled participation toward autonomous and meaningful worship practices. The study highlights that effective prayer internalization requires integration between consistent teacher modelling, school religious culture, reflective learning, and cooperation among school stakeholders. This research contributes to Islamic Religious Education studies by proposing an integrated framework for understanding how teachers transform Dhuhr prayer from a compulsory school activity into a personally meaningful religious commitment. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1472Islamic Spiritual Pedagogy and Digital Mental Health: Examining the Influence of Tazkiyatun Nafs on Students' Digital Anxiety 2026-08-09T13:54:35+07:00Yulis Sutianiyulistyani12@gmail.comKhamam Khosiinkhamamkhosiin95@gmail.comBenny Prasetyaprasetiyabenny@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study examines the influence of tazkiyat al-nafs on digital anxiety among Muslim secondary-school students. It employed a quantitative explanatory design with a cross-sectional survey involving 326 students selected through multistage stratified random sampling. Data were collected using a tazkiyat al-nafs scale and a digital anxiety scale covering self-evaluation, awareness of divine supervision, remembrance of God, self-control, patience, gratitude, ethical responsibility, fear of missing out, connection overload, approval anxiety, and online vigilance. The data were analyzed using descriptive statistics, correlation analysis, confirmatory factor analysis, and structural equation modelling. The results showed that tazkiyat al-nafs had a significant negative effect on digital anxiety, with a standardized coefficient of -0.48 and p < 0.001. The model explained 31% of the variance in students’ digital anxiety. Self-control, ethical responsibility, patience, and spiritual awareness emerged as the strongest protective dimensions. These findings indicate that Islamic spiritual pedagogy can strengthen students’ emotional regulation, digital resilience, and responsible technology use. The study recommends integrating muhasabah, muraqabah, dhikr, patience, gratitude, digital ethics, and counselling into Islamic Religious Education. This approach should complement digital literacy and professional mental health services in schools. Future research should employ longitudinal designs and test mediating roles of self-control, resilience, and social support. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1473Humanistic Religious Model of Islamic Character Internalization among Broken Home Students: The Transformative Role of Islamic Religious Education Teachers in Integrated Islamic Schools 2026-08-09T14:22:41+07:00Pusparinirinipuspa826@gmail.comKhamam Khosiinkhamamkhosiin95@gmail.comBenny Prasetyaprasetiyabenny@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study aims to develop a Humanistic-Religious Character Internalization Model for students from broken home families through the guidance of Islamic Religious Education (PAI) teachers at SDIT Ash Shohwah. The study is motivated by the increasing challenges faced by students experiencing family dysfunction, which affects their emotional stability, moral development, and religious identity formation. This research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis involving principals, PAI teachers, homeroom teachers, students from broken home backgrounds, and parents or guardians. Data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña through data condensation, data display, and conclusion verification. The findings reveal that PAI teachers experience a transformation of roles from religious knowledge transmitters into spiritual mentors, emotional companions, moral exemplars, and agents of character transformation. The study formulates the Humanistic-Religious Character Internalization Model consisting of four interconnected stages: (1) humanistic acceptance, (2) religious modeling, (3) religious habituation, and (4) spiritual internalization. This model demonstrates that religious character formation among vulnerable students requires integration between emotional support, teacher exemplary behavior, religious school culture, and spiritual guidance. Theoretically, this study contributes to Islamic education by offering a contextual model that integrates humanistic pedagogy, character education, and Islamic spirituality. Practically, the model provides an alternative framework for Islamic schools in developing responsive character education programs for students with complex family backgrounds. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1427Nilai Kejuangan Jenderal Achmad Yani Sebagai Dasar Pembentukan Kesadaran Hukum Melalui Pendidikan Karakter Perguruan Tinggi2026-08-09T14:31:09+07:00Niken Wahyuning Retno Mumpuninikenmumpuni@gmail.comMochamad Cholilmoch.cholil15@gmail.comDeni Santi Pertiwidenisantipertiwi@gmail.com<p>Kesadaran hukum mahasiswa merupakan salah satu indikator penting dalam mewujudkan warga negara yang bertanggung jawab dan berkarakter. Namun demikian, pembentukan kesadaran hukum di lingkungan perguruan tinggi masih menghadapi tantangan karena pendekatan pembelajaran yang cenderung menitikberatkan aspek kognitif dibandingkan internalisasi nilai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai kejuangan Jenderal Achmad Yani sebagai landasan moral dan hukum dalam pembentukan kesadaran hukum mahasiswa melalui pendidikan karakter di perguruan tinggi, serta mengkaji strategi implementasinya dalam proses pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian hukum dengan menggunakan pendekatan peraturan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Bahan hukum dianalisis secara preskriptif melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, doktrin, dan hasil penelitian yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kejuangan Jenderal Achmad Yani yang diklasifikasikan ke dalam dimensi nasionalis, patriotik, dan heroik memiliki relevansi yang kuat dengan indikator kesadaran hukum, yaitu pengetahuan, pemahaman, sikap, dan perilaku taat hukum. Integrasi nilai-nilai tersebut melalui pendidikan karakter, khususnya dalam pembelajaran berbasis proyek, keteladanan dosen, serta budaya akademik yang menjunjung integritas, mampu memperkuat internalisasi kesadaran hukum mahasiswa secara lebih efektif dibandingkan pendekatan normatif semata. Dengan demikian, pendidikan karakter berbasis Nilai Kejuangan Jenderal Achmad Yani dapat menjadi model penguatan kesadaran hukum di perguruan tinggi yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila serta tujuan pendidikan nasional.</p>2026-08-08T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1476Transforming Islamic Religious Education in the Artificial Intelligence Era: Developing a Digital Literacy Integration Framework for Strengthening Students’ Character in Primary Schools2026-08-09T15:03:35+07:00Devifawwazdevi@gmail.comKhamam Khosiinkhamamkhosiin95@gmail.comBenny Prasetyaprasetiyabenny@gmail.com<p>The rapid development of Artificial Intelligence (AI) and digital technology has transformed educational practices, including Islamic Religious Education (PAI). However, technological integration in education requires a value-based pedagogical approach to ensure that digital transformation contributes to students’ character development. This study aims to analyze the role of digital literacy-based PAI learning in strengthening students’ character in the era of Artificial Intelligence and to develop an integrative framework connecting digital competence, AI utilization, teacher readiness, and Islamic character education. This research employed a mixed-methods approach using a sequential explanatory design. Quantitative data were collected through questionnaires measuring students’ digital literacy, teacher digital readiness, and character strengthening, while qualitative data were obtained through interviews, classroom observations, and document analysis. The quantitative results showed that digital literacy had a positive and significant relationship with students’ character strengthening (r = 0.610, p < 0.01), while teacher digital readiness demonstrated a stronger contribution to character development (β = 0.420, t = 5.230, p < 0.01). Qualitative findings revealed that AI-supported PAI learning becomes effective when technology is mediated through teachers’ pedagogical strategies and Islamic values. This study proposes the PAI Digital Literacy Integration Framework, which emphasizes that AI should function as a pedagogical medium for ethical, reflective, and character-based learning. The findings contribute to the development of digital Islamic education by integrating technological innovation with moral and spiritual dimensions. </p>2026-08-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1433Dari Nirkekerasan menuju Keadilan Sosial: Dialektika QS. Al-Baqarah [2] 256, Yunus [10] 99, dan Al-Mumtahanah [60] 8 dalam Tafsir Hidâyah al-Qur’ân2026-08-09T15:45:27+07:00Moh Alimoh.aly654@gmail.comAlisa Qodrun Nada alisaqodrunnada416@gmail.comFina Faiqatun Nazilah annazilahfina@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketegangan antara prinsip kebebasan beragama dan menguatnya arus eksklusivisme akibat pembacaan teks suci yang kaku, parsial, dan ahistoris. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dialektika QS. Al-Baqarah [2]: 256, Yunus [10]: 99, dan Al-Mumtahanah [60]: 8 dalam Tafsir Hidâyat al-Qur’ân karya KH. Muhammad Afifuddin Dimyathi (Gus Awis) guna merumuskan konstruksi etika sosial lintas iman. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan kualitatif dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu'i) dan interpretasi teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi metode penafsiran al-Qur’ân bi al-Qur’ân melahirkan trikotomi pilar keberagamaan yang solid. Pertama, penafsiran QS. Al-Baqarah 256 menegaskan prinsip anti-koersi (nirkekerasan) sebagai prasyarat mutlak integritas keimanan. Kedua, QS. Yunus 99 memberikan landasan teologis bahwa kebebasan tersebut berakar pada pengakuan atas keragaman sebagai ketetapan ilahi (sunnatullah). Ketiga, QS. Al-Mumtahanah 8 mentransformasikan kesadaran teologis tersebut ke ranah praksis sosiologis melalui kewajiban memadukan empati moral (birr) dan keadilan hukum (qisth) terhadap non-Muslim yang damai. Kesimpulannya, metodologi tafsir khas Nusantara ini tidak hanya mendelegitimasi nalar radikalisme dari akar doktrinalnya, tetapi juga mempromosikan kewarganegaraan aktif (active citizenship) untuk mewujudkan keadilan dan kedamaian di ruang publik.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-08T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1475Paradoks Hiperkoreksi: Strategi Mobilitas Sosial melalui Penguasaan Modal Budaya dan Prestise Bahasa 2026-08-09T17:12:00+07:00Adelia Putri Febriyantiadeliaputrifebriyanti1002@gmail.comR Panji Hermoyopanjihermoyo@um-surabaya.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Language functions not only as a communication tool but also as a social resource with symbolic value in shaping identity, recognition, and social mobility. This study aims to examine linguistic hypercorrection as a social strategy for achieving legitimacy through the acquisition of cultural capital, linguistic capital, and language prestige. This research employed a qualitative approach with a social phenomenological design. Data were collected through in depth interviews, observation of language practices, and documentation, while analysis was conducted using thematic analysis based on Pierre Bourdieu’s concepts of cultural capital, habitus, field, linguistic capital, and symbolic capital. The findings indicate that hypercorrection is not merely a linguistic mistake but a social practice related to identity construction, social acceptance, and efforts to improve social position. The use of prestigious language can enhance perceptions of competence, education, and professionalism, particularly in academic and professional environments. However, excessive and inappropriate language use may produce social stigma and reveal a gap between linguistic capital and social habitus. This study introduces the concept of the “Hypercorrection Paradox,” demonstrating that language can function both as an instrument of social mobility and as a source of social distance. The findings contribute to sociolinguistic studies by highlighting language as a social practice connected to power, prestige, and symbolic resources. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1448Model Problem Based Learning (PBL) & Berbantuan Media Pop Up Book dalam Pembelajaran PPKn di SMPN 01 Lebong untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis dan Kesadaran Demokratis Siswa2026-08-09T17:13:46+07:00Yesi Susilawati yesisusilawati22@gmail.comApriza Fitriani aprizafitriani@umb.ac.idSusiyanto susiyanto@umb.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan hasil belajar siswa yang memperoleh model Problem Based Learning (PBL) berbantuan media Pop Up Book, PBL tanpa Pop Up Book, dan pembelajaran konvensional terhadap keterampilan berpikir kritis dan kesadaran demokratis dalam pembelajaran PPKn di SMP Negeri 01 Lebong. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuasi eksperimen dan desain Nonequivalent Control Group Design. Sampel berjumlah 96 siswa kelas VIII yang terbagi dalam tiga kelompok, masing-masing 32 siswa. Kelas VIII A memperoleh PBL berbantuan Pop Up Book, VIII B memperoleh PBL, dan VIII C memperoleh pembelajaran konvensional. Data keterampilan berpikir kritis diperoleh melalui tes uraian, sedangkan kesadaran demokratis melalui angket. Analisis dilakukan menggunakan uji prasyarat dan One Way ANOVA. Hasil menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada keterampilan berpikir kritis dengan nilai signifikansi 0,007 < 0,05. Rata-rata posttest tertinggi diperoleh kelompok PBL berbantuan Pop Up Book sebesar 23,38, diikuti PBL sebesar 21,75 dan kontrol sebesar 19,38. Sementara itu, kesadaran demokratis tidak menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai signifikansi 0,268 > 0,05. Temuan menunjukkan bahwa integrasi PBL dan Pop Up Book lebih menonjol dalam pengembangan keterampilan berpikir kritis, sedangkan kesadaran demokratis memerlukan pembiasaan dan penguatan yang berkelanjutan.</p>2026-08-08T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1477Dinamika Pemerolehan Bahasa Anak Usia 0–3 Tahun Di Kota Lhokseumawe: Kajian Psikolinguistik Dan Sosiolinguistik Urban 2026-08-09T17:36:59+07:00Husina Humaira husinahumaira50@gmail.comR Panji Hermoyopanjihermoyo@um-surabaya.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study aims to describe the dynamics of language acquisition among children aged 0 to 3 years in Lhokseumawe City through psycholinguistic and urban sociolinguistic perspectives. The study focuses on children’s language development stages, the use of Indonesian and Acehnese, and the family, social, and digital factors that influence early language acquisition. This research used a descriptive qualitative approach with a case study method. The participants consisted of eight children aged 0 to 3 years living in urban and suburban areas of Lhokseumawe. Data were collected through naturalistic observation, recordings of children’s conversations, interviews with parents, and vocabulary development notes. The data were analyzed through speech transcription, classification of language development stages, and interpretation of bilingual patterns. The findings show that children pass through the stages of cooing and babbling, holophrastic speech, two-word utterances, and telegraphic or multi-word speech. Children in urban areas tend to acquire Indonesian as their first language, while children in suburban areas receive simultaneous exposure to Indonesian and Acehnese. The study also reveals code-mixing, family influence, daycare interaction, and gadget exposure in children’s vocabulary development. These findings confirm that language acquisition in Lhokseumawe is shaped by biological development, family language practices, and urban social change. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1449Pengembangan Aplikasi Android 3DChem pada Materi Ikatan Kimia sebagai Media Visualisasi Konsep Abstrak bagi Siswa SMK Berbasis Multiple Representation2026-08-09T18:22:13+07:00Sofia Satriani Krisen sofiakrisen@unima.ac.idJakub Saddam akkbar jakubakbar@unima.ac.idDjakariah djakariah@staf.undana.ac.idAyu Febrianti Akbar ayu.akbar@staf.undana.ac.id<p>Chemistry learning, particularly on chemical bonding material, is often confronted with abstract and mathematical concepts that lead to low conceptual understanding and learning interest among vocational high school (SMK) students. Conventional one-way teaching methods tend to fail in connecting the macroscopic, submicroscopic, and symbolic levels of representation, causing fragmented understanding. This study aims to develop and evaluate the feasibility of the 3DChem Android application as a visualization medium for abstract concepts in chemical bonding material based on a Multiple Representation approach. The research employed Research and Development (R&D) methodology with the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) and a qualitative-descriptive approach involving validation sheets and student response questionnaires. The subjects were one media expert, one material expert, and 20 students of SMK Madani Manado. The results showed that the 3DChem application received a feasibility percentage of 96.74% from the media expert (highly feasible), 93.33% from the material expert (highly feasible), and 88.44% positive student responses (highly positive). It is concluded that the 3DChem application is highly feasible as a visualization medium for abstract concepts of chemical bonding for SMK students</p>2026-08-08T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1478Pendekatan Hermeneutika dalam Menafsirkan Al-Qur’an: Telaah Metodologis atas Makna Teks dan Konteks 2026-08-09T18:28:49+07:00Nursyafiqah Nursyafiqah nursyafiqahbintinahlil.mhs@stiq-kepri.ac.idMuhith Muhithmuhith@stiq-kepri.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study aims to analyze the hermeneutical approach in interpreting the Qur’an through a methodological examination of textual meaning and context. This study is motivated by the need to develop contemporary Qur’anic interpretation that can respond to modern issues while maintaining the authority of revelation and the principles of Islamic scholarship. This research uses a qualitative approach with library research as its design. Data were collected through documentation studies of academic literature on hermeneutics, Qur’anic interpretation, contextual interpretation, and interpretive methodology. The data were analyzed using content analysis and hermeneutical analysis. The findings show that hermeneutics can help interpreters understand the relationship between text, historical context, and reader. Hermeneutics also provides opportunities for developing Qur’anic interpretation that is more critical, contextual, and responsive to contemporary issues. However, its use must be limited by the principles of ulum al-Qur’an, Arabic language, asbab al-nuzul, munasabah of verses, hadith, and the authority of revelation. This study concludes that hermeneutics can enrich the methodology of Qur’anic interpretation when positioned as an analytical tool, not as a replacement for tafsir science. </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1479Dialektika Al-Qur’an dan Budaya Lokal: Analisis Pengaruh Kearifan Lokal terhadap Corak Tafsir Ulama Nusantara 2026-08-09T19:03:42+07:00Indra Kusdianaindrakusdiana.mhs@stiq-kepri.ac.idZaimah Zaimahzaimah.mhs@stiq-kepri.ac.idSri Rahayu Lestari Putrisrirahayulestariputri.mhs@stiq-kepri.ac.idSyarifah Normawatisyarifah.normawati72@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study aims to analyze the dialectical relationship between the Qur’an and local culture in shaping the interpretive patterns of Nusantara scholars. The study is based on the assumption that Qur’anic interpretation is not merely a textual understanding of revelation but is also influenced by the social, cultural, and intellectual contexts of interpreters. This research employs a qualitative approach using a library research method. The data sources include classical and modern works of Nusantara Qur’anic exegesis, such as Tafsir Al-Azhar by Hamka, Tafsir Al-Ibriz by Bisri Mustofa, and Marāḥ Labīd by Nawawi al-Bantani, along with relevant academic literature on Nusantara tafsir and local wisdom. Data were analyzed through content analysis using the sociology of tafsir and contextual hermeneutic approaches. The findings reveal that local culture significantly influences the characteristics of Nusantara tafsir through three main aspects: the use of local languages, the integration of cultural values, and the contextualization of Qur’anic messages within community life. Hamka represents a socio-moral interpretive approach influenced by Malay-Minangkabau culture, Bisri Mustofa reflects Javanese cultural expressions through language and symbols, while Nawawi al-Bantani demonstrates the influence of pesantren traditions through fiqh-oriented and educational approaches. This study confirms that local culture is not merely a social background of interpretation but an epistemological element that shapes how Nusantara scholars understand and communicate Qur’anic messages contextually.</p> <p> </p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1315Transformasi Hubungan Sosial Di Lingkungan Madrasah Aliyah Al Muawanah Pada Pembelajaran Hybrid2026-08-09T19:07:33+07:00Nihlah Kamilah nihlakamilah14@gmail.comAslimah aslimaima777@gmail.comMuh. Ainun Najib muhainunnajib40@gmail.comAan Setiawan aansetiawan@stainmajene.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi hubungan sosial murid pada era pembelajaran <em>hybrid</em> di sekolah, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya, serta menjelaskan dampaknya terhadap proses pembelajaran dan pembentukan karakter murid. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Informan penelitian ini terdiri atas guru Sosiologi dan murid yang dipilih secara <em>purposive</em>. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman melalui tahap kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, teknik dan waktu.</p> </td> </tr> </tbody> </table> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran <em>hybrid</em> telah mentransformasi hubungan sosial murid dari interaksi yang didominasi tatap muka menuju interaksi berbasis teknologi digital. Transformasi tersebut tampak pada pola komunikasi dengan guru dan antarmurid, kerja sama kelompok, dan solidaritas serta hubungan pertemanan yang semakin memanfaatkan media digital. Faktor-faktor yang memengaruhi transformasi tersebut meliputi penggunaan teknologi digital, berkurangnya intensitas tatap muka dan peran guru sebagai fasilitator. Transformasi hubungan sosial memberikan dampak positif berupa meningkatnya kemampuan adaptasi sosial, kemandirian, tanggung jawab dan kemudahan kolaborasi melalui media digital. Namun pembelajaran <em>hybrid</em> juga menyebabkan berkurangnya kedekatan emosional, menurunnya intensitas interaksi langsung serta munculnya tantangan dalam membangun komunikasi interpersonal dan partisipasi aktif sebagian murid. Oleh karena itu, pelaksanaan pembelajaran <em>hybrid</em> perlu dirancang secara seimbang dengan mengoptimalkan integrasi antara tatap muka dan komunikasi digital agar perkembangan sosial, proses pembelajaran, dan pembentukan karakter murid dapat berlangsung secara optimal.</p>2026-08-08T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1413Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama dalam Pembelajaran Agama Islam di Perguruan Tinggi Vokasi: Studi Kasus di Politeknik Industri Petrokimia Banten2026-08-07T19:53:34+07:00Nurhasanah nurhasanah.nurhasanah@poltek-petrokimia.ac.idSilvia Febrianisilvia.febriani@poltek-petrokimia.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p><em>Penelitian ini bertujuan menganalisis internalisasi nilai moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Politeknik Industri Petrokimia Banten. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus deskriptif-analitis, penelitian melibatkan 155 mahasiswa. Data dikumpulkan melalui studi dokumen (RPS dan modul ajar), observasi kelas, lembar refleksi, serta wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama: (1) redesain kurikulum mikro PAI berhasil mentransformasi pembelajaran dari Teacher-Centered Learning (TCL) menuju Student-Centered Learning (SCL) berbasis Case-Based Learning (CBL) dan Higher Order Thinking Skills (HOTS); (2) pengangkatan kasus lokal dinamika rumah ibadah di Cilegon sebagai trigger diskusi efektif mengurai polarisasi pemikiran mahasiswa melalui intervensi dosen berprinsip At-Tawassut; dan (3) terjadi pergeseran kognitif (cognitive shift) mahasiswa dari toleransi simbolik yang kaku menuju toleransi substansial yang inklusif. Pembelajaran PAI vokasi terbukti efektif saat mampu menyelaraskan doktrin keagamaan dengan etika profesionalisme dunia kerja industri multikultural. </em></p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-09T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1347Pola Komunikasi Orang Tua dalam Membentuk Karakter Anak di Kelurahan Tanjung Agung Kota Bandar Lampung2026-07-28T22:32:16+07:00Muhammad Rayendrarayendramuhammad72@gmail.comFariza Makmunfarizamakmun@radenintan.ac.idSiti Wuryansiti@radenintan.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Komunikasi dalam keluarga memegang peranan penting dalam membentuk karakter anak melalui interaksi yang berlangsung secara berkesinambungan antara orang tua dan anak. Perbedaan pola komunikasi yang diterapkan orang tua dapat memengaruhi efektivitas proses pembentukan karakter. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola komunikasi orang tua dalam membentuk karakter anak di RT 03 Kelurahan Tanjung Agung, Kota Bandar Lampung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (<em>field research</em>). Informan dipilih menggunakan teknik <em>purposive sampling</em> yang melibatkan lima kepala keluarga sesuai dengan kriteria penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi nonpartisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua pola komunikasi utama, yaitu komunikasi terbuka dan komunikasi tertutup. Komunikasi terbuka ditandai dengan dialog dua arah, penyampaian pesan secara persuasif, pengelolaan emosi, serta keteladanan, sedangkan komunikasi tertutup lebih didominasi oleh perintah, larangan, dan interaksi satu arah. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pembentukan karakter anak tidak hanya dipengaruhi oleh pola komunikasi, tetapi juga oleh praktik komunikasi yang diterapkan secara konsisten melalui penyampaian pesan yang persuasif, pengelolaan emosi, keteladanan, dan pembiasaan. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik komunikasi berfungsi sebagai mekanisme yang menghubungkan pola komunikasi orang tua dengan pembentukan karakter anak, sehingga memperluas kajian komunikasi keluarga yang selama ini lebih banyak menitikberatkan pada jenis pola komunikasi dibandingkan proses implementasinya. Temuan ini juga memberikan implikasi praktis bagi pengembangan pendidikan pengasuhan dan pendidikan karakter berbasis keluarga melalui komunikasi yang dialogis, persuasif, dan konsisten.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-10T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1462Hermeneutika Terminologis: Studi Analisis Pemikiran Asy-Syahid Al-Busyaikhi Tentang Feminisme Al-Qur’an2026-08-08T19:27:46+07:00Dimas Surya Hanafidimasgoo84@gmail.com<p>This research discusses the discourse of gender and the Qur’an. The discourse on gender has been promoted by academics as a continuing effect of the normative interpretation of the Qur’an during the classical era, which seemingly positioned women at a lower level than men. One of the figures who emerged in response to the normative readings of the classical period is Asy-Syahid Al-Busyaikhi. This study aims to uncover the hermeneutical approach and feminist perspectives on the Qur’an proposed by Asy-Syahid Al-Busyaikhi. Through a holistic and structural reading of the sacred text, this study finds that Al-Busyaikhi successfully deconstructs the hierarchy of gender dominance without relying on western sociological frameworks. He demonstrates that the ontological construction of male and female relations is bound by the principles of istikhlāf (shared vicegerency) and takāmul (complementarity). This article concludes that Al-Busyaikhi's methodology offers a highly authentic emancipatory path for the effort to uphold gender justice within the Islamic scholarly tradition.</p>2026-08-03T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1383Implementasi Kurikurum Berbasis Cinta Pada Materi Hadist di PAS Baitu Al-Qur’an Ponorogo2026-08-08T18:52:10+07:00Muhammad Ilman Hafizhul Huda Ilmanmuhammadilman@staff.unida.gontor.ac.idIdam Mustofa idammustofa@unida.gontor.ac.idHafizh Raafi hafizhraafi04@gmail.comWahyu Setiawanwswahyus14@gmail.com<p>This study proposes a conceptual model of love-based hadith learning that integrates teacher role modelling, humanistic interaction, and value internalization to strengthen students' character formation. The Love-Based Curriculum (LBC) is an educational paradigm that emphasizes the internalization of compassion, empathy, respect, and responsibility as the foundation for students' character development. In hadith learning, the implementation of the LBC is essential because the learning process should not only focus on knowledge acquisition but also on the internalization and practice of Islamic values in everyday life. This study aims to analyze the implementation of the Love-Based Curriculum in hadith learning at Pesantren Anak Sholeh Baitul Al-Qur'an Ponorogo, identify teachers' strategies for internalizing the values of love, and examine the supporting and inhibiting factors affecting its implementation. This study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through participant observation, semi-structured interviews, and document analysis, and were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, which consists of data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The findings reveal that the implementation of the Love-Based Curriculum is reflected through exemplary behavior (uswah hasanah), humanistic educational communication, contextual explanation of hadith, and the habituation of good manners within the pesantren culture. Its successful implementation is supported by a strong religious culture, harmonious teacher–student relationships, and teachers' pedagogical competence, while the main challenges include the predominance of lecture-based instruction, limited use of digital learning media, and the lack of collaborative learning practices. The study implies that the conceptual model integrating hadith learning, teacher role modeling, humanistic educational interaction, and the internalization of love-based values can serve as a practical framework for developing character-oriented hadith instruction that promotes religiosity, empathy, responsibility, and noble character in Islamic boarding schools and other Islamic educational institutions.</p>2026-08-03T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1354Adaptation of Transformational Leadership Models to Overcome Organizational Stagnation in the Era of Disruption: A Case Study of the Darul Falah Batam Islamic Boarding School2026-08-08T18:53:34+07:00Nur Hafidzohnur_hafidzoh@student.stainkepri.ac.idMuhammad Faisalfaisal@stainkepri.ac.idRia Kurniawatyriakurniawaty99@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>The organizational stagnation at the Darul Falah Batam Islamic Boarding School emerged in the transition from charismatic-centralistic leadership to collective-managerial governance that has not been followed by equalization of vision, clarity of authority, effective coordination, financial supervision, and data-based work systems. This research aims to analyze leadership conditions and organizational stagnation dynamics, explain the adaptation of transformational leadership dimensions in encouraging change, and formulate a contextual model for strengthening pesantren governance in the era of disruption. The research uses a qualitative approach with an instrumental case study design. Data were collected through in-depth interviews, moderate participatory observations, and documentation studies of leaders, administrators, managers of educational units, ustaz, and education staff. Data is analyzed interactively through condensation, presentation, withdrawal, and conclusion verification; Credibility is maintained through triangulation, member examinations, peer discussions, and audit trails. The results of the study show that transformational leadership adaptation requires the integration of ideal influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, and individual consideration with the values of trust, deliberation, ukhuwah, and example. The study concludes that the adaptive model consists of the diagnostic stage and release of old patterns, the implementation of structural and work system updates, and institutionalization through procedures, evaluation, supervision, documentation, and regeneration. The model strengthens organizational responsiveness, governance accountability, quality of educational services, and the sustainability of pesantren identity in facing the demands of social, technological, and societal changes in an adaptive, participatory, measurable, and sustainable and inclusive manner.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-10T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1301The Shift In Religious Authority And The Emergence Of New Public Spaces For Nonformal Pie: A Comparative Analysis Between Traditional Kiai And Hijrah Ustaz On Social Media2026-08-08T18:53:24+07:00Titi Sartinititisartini99@gmail.comSuci Ramadhaniucisuci70@gmail.comMarhamahmaybungo06@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>The development of social media has changed the pattern of production, distribution, and reception of religious knowledge, thus forming a new public space for non-formal Islamic Religious Education (PAI) in Indonesia. These changes have given rise to a contest of authority between traditional kiai based on scientific sanad, mastery of the book of turats, and community recognition, and ustaz hijrah who take advantage of digital popularity, communicative proximity, and thematic content packaging. This study aims to analyze shifts in religious authority, differences in learning models, and patterns of contestation, adaptation, and convergence of the two actors on social media. The research uses a qualitative approach with a comparative netnography design through observation of content, audience interaction, and religious representation on Instagram, YouTube, and TikTok platforms during the period 2024–2026. The results of the study show that traditional kiai maintain legitimacy through depth of argumentation, textual reference, and continuous pedagogical relations, while hijrah ustaz gains legitimacy through visibility, personal narrative, practical relevance, and follower involvement. This study concludes that digitalization does not remove traditional authority, but rather results in the hybridization of religious authority. The novelty of the research lies in the relational analysis between the two actors in the context of digital non-formal PAI. The implication is that the development of non-formal PAI needs to integrate scientific validity, media creativity, digital-religious literacy, and dialogue ethics to build moderate, inclusive, critical, and responsible Islamic learning.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-10T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1300Analysis of Education Quality Development Policy in Islamic Boarding Schools in the Digital Transformation Era at Al Barokah Dharmasraya Islamic Boarding School2026-08-08T18:53:14+07:00Zulfa Nabilanabilazulfachozien@gmail.comSuci Ramadhaniucisuci70@gmail.comAljhon Herialzon.dp2255@gmail.comSoni Yudasoniyuda05@gmail.comMuhammad Sholihinmsolihinbungo@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Digital transformation requires Islamic boarding schools to improve the quality of education without ignoring Islamic values, traditions, and manners as institutional foundations. This study aims to analyze the formulation, implementation, and evaluation of education quality development policies in the era of digital transformation at the Al Barokah Dharmasraya Islamic Boarding School. The research uses a qualitative approach with a descriptive-analytical case study design. Primary data was obtained through in-depth interviews and observations of pesantren leaders, madrasah heads, teachers, education staff, students, and guardians, while secondary data was collected through the review of policy documents, curriculum, operational standards, and evaluation reports. Data is analyzed interactively through data condensation, data presentation, and conclusion drawing and verification. The results of the study show that policies are formulated integratively through the alignment of the Islamic boarding school curriculum, the need for digital competencies, and the principles of moral development. Its implementation includes the use of education management information systems, blended learning, educator digital competency training, and ethical supervision of technology use. The success of the implementation is supported by the spiritual-transformative leadership of the kiai, policy communication, participation of Islamic boarding school residents, and strengthening of resources. However, limited infrastructure, maintenance budgets, digital literacy disparities, and the risk of technology misuse are still obstacles. Evaluations are carried out periodically through monitoring learning, administrative order, use of information systems, and stakeholder feedback. In conclusion, digital transformation can strengthen the quality of pesantren education if it is managed gradually, accountably, participatory, and based on Islamic values.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-10T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1460Implementation of the Spiral Curriculum Principle in Akidah and Akhlak Learning to Strengthen Student Character in Islamic Junior High Schools2026-08-08T19:27:23+07:00Taupik Prihatin Marpaungtaufikmarpaung62@gmail.com<p>This study aims to analyze the implementation of the spiral curriculum principle in Akidah and Akhlak learning and examine its contribution to strengthening student character in Islamic junior high schools. A qualitative approach with a descriptive design was employed. The research was conducted in several Islamic junior high schools in Pekanbaru, Indonesia, involving Akidah and Akhlak teachers, principals, and curriculum developers selected through purposive sampling. Data were collected through semi-structured interviews, participant observations, and document analysis, then analyzed using the interactive model of data reduction, data display, and conclusion drawing with thematic analysis. The findings indicate that the spiral curriculum principle has been implemented through the progressive organization of learning materials, meaningful repetition of core concepts, contextual integration of Islamic values, and teachers' roles as facilitators of moral and spiritual development. These practices contribute to strengthening students' responsibility, honesty, discipline, and moral awareness. However, implementation remains constrained by the absence of explicit spiral curriculum guidelines, limited teacher training, administrative workload, and insufficient curriculum synchronization across educational levels. The study implies that effective implementation of the spiral curriculum requires systematic curriculum planning, continuous professional development for teachers, and stronger institutional support to ensure sustainable character education based on Islamic values. These findings provide practical guidance for educators, curriculum developers, and policymakers in improving the quality of Aqidah and Akhlak learning in Islamic schools.</p>2026-08-11T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1415A Systematic Analysis of the Effect of the Contextual Teaching and Learning (CTL) Approach on Improving Critical Thinking Skills in Civics Education at the Elementary School2026-08-08T18:53:53+07:00Asmita Syifa Nopi Yuliantisyifaasmita@gmail.comIda Fiteriani ida.fiteriani@radenintan.ac.idDeri Firmansahderifirmansah@radenintan.ac.id<p>The Contextual Teaching and Learning (CTL) approach has been widely applied in primary school education, particularly to enhance the quality of the learning process by making it more meaningful and contextual. However, previous research has generally focused on improving learning outcomes in a broad sense, whereas systematic studies specifically analyzing the impact of CTL on critical thinking skills within Pancasila and Civic Education (PPKn) lessons in primary schools (SD/MI) remain limited. Therefore, this study aims to systematically analyze research trends, study characteristics, and empirical findings regarding the impact of CTL on students' critical thinking skills in PPKn instruction during the 2021–2026 period. The study employs a Systematic Literature Review (SLR) method based on the PRISMA 2020 guidelines. Literature was sourced from Google Scholar and Scopus databases using the Publish or Perish application, then selected and managed through stages of identification, screening, eligibility, and inclusion. Data analysis was conducted using a descriptive-qualitative approach with narrative synthesis to identify patterns of findings across studies. Out of 1,248 identified articles, 10 met the inclusion criteria: research on CTL implementation in PPKn lessons at the primary school level, measurement of critical thinking skills, and publication in indexed scientific journals. The results indicate that the CTL approach has a positive impact on students' critical thinking skills, particularly in the areas of analysis, evaluation, argumentation, and decision-making. Keywords used included Contextual Teaching and Learning (CTL), critical thinking, PPKn instruction, and primary school. Research methodology was dominated by quantitative and experimental approaches, indicating a continued research focus on testing instructional effectiveness. Furthermore, the findings show that implementing CTL through components such as constructivism, inquiry, discussion, and reflection fosters active student engagement and connects PPKn material to real-life contexts. The uniqueness of this study lies in its specific focus on integrating the CTL approach with the development of critical thinking skills within the context of PPKn instruction in primary schools a topic that has rarely been examined systematically. These findings confirm that CTL is not only effective in improving learning outcomes but also plays a significant role in developing students' higher-order thinking skills. Therefore, future research is encouraged to broaden the scope of study, employ more diverse methodologies, and enhance research collaboration to strengthen the development of Civics education (PPKn) oriented towards 21st-century skills.</p>2026-08-11T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/915Strategi Pengembangan, Kinerja Sekolah, dan Evaluasi Sistem Pembelajaran di SMA Albanna Denpasar Bali2026-08-08T18:51:42+07:00Muhamad Faizubaydillahafatia@unsiq.ac.idRadifa Fisyanandaradifafisyananda@gmail.comAningsihaningsiih0@gmail.comLuluk Wahyunilulukwahyuuni@gmail.comVika Alea vikaaleasari5904@gmail.comFatiatunfatia@unsiq.ac.id<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya strategi pengembangan, peningkatan kinerja, dan evaluasi pembelajaran dalam mendukung mutu pendidikan sekolah. SMA Albanna Denpasar Bali menjadi objek penelitian karena menerapkan berbagai program pengembangan karakter, supervisi guru, dan evaluasi pembelajaran secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan sekolah, kinerja sekolah, serta evaluasi sistem pembelajaran yang diterapkan di SMA Albanna Denpasar Bali. Penelitian menggunakan metode <em>mixed methods</em> dengan pendekatan deskriptif evaluatif. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, guru, dan siswa sebagai subjek penelitian. Analisis data dilakukan secara kualitatif tematik dan didukung statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMA Albanna menerapkan strategi pengembangan sekolah yang berfokus pada penguatan karakter, religiusitas, nasionalisme, dan keterampilan sosial melalui berbagai program seperti tahfidz, bela negara, Bhakti Smana, dan supervisi guru berkala. Selain itu, evaluasi pembelajaran dilakukan secara menyeluruh terhadap proses belajar, kinerja guru, pelayanan sekolah, dan perkembangan siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa evaluasi dan supervisi berkelanjutan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran dan pelayanan pendidikan. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya penerapan evaluasi dan strategi pengembangan sekolah secara terpadu untuk menciptakan sistem pendidikan yang adaptif, partisipatif, dan berorientasi pada peningkatan mutu secara berkelanjutan</p>2026-08-11T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1360Habitus Moral Peserta Didik dalam Ekologi Sosial Pendidikan Islam di Era Digital2026-08-08T18:54:03+07:00Amrullahamrullah@um-palembang.ac.idAbullah Idiabdullahidi_uin@radenfatah.ac.idKaromakaroma_uin@radenfatah.ac.idYulia Trisamihayuliatrimasiha_uin@radenfatah.ac.id<p>Artikel ini bertujuan menganalisis pembentukan habitus moral peserta didik dalam ekologi sosial pendidikan Islam di era digital. Kajian dilakukan melalui pendekatan studi literatur dengan sintesis tematik terhadap berbagai penelitian mengenai pendidikan moral, budaya sekolah, keteladanan guru, keterlibatan keluarga, relasi teman sebaya, dan budaya digital. Hasil kajian menghasilkan lima arena utama pembentukan habitus moral. Pertama, budaya sekolah membentuk kebiasaan moral melalui aturan, pembiasaan, simbol, dan kegiatan religius. Kedua, guru memperkuat internalisasi nilai melalui keteladanan, relasi edukatif, kepemimpinan nilai, dan otoritas moral. Ketiga, keluarga menjaga kesinambungan nilai melalui pengasuhan, religiositas, komunikasi, dan pengawasan terhadap aktivitas digital. Keempat, teman sebaya memengaruhi penerimaan norma melalui pengakuan sosial, budaya kelompok, dan perilaku prososial. Kelima, budaya digital menjadi arena negosiasi akhlak yang menuntut kemampuan tabayyun, amanah, adab, rahmah, dan pengendalian diri. Temuan menunjukkan bahwa pembentukan moral tidak berlangsung secara instruksional dan satu arah, tetapi melalui interaksi berulang antara nilai agama, praktik keseharian, relasi sosial, dan pengalaman digital. Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu dikembangkan melalui pendekatan ekologis-transformatif yang mengintegrasikan pembelajaran, budaya sekolah, keteladanan pendidik, kemitraan keluarga, penguatan kelompok sebaya, dan literasi digital berbasis akhlak. Pendekatan tersebut menempatkan peserta didik sebagai subjek moral yang mampu memahami, menegosiasikan, dan menerapkan nilai Islam secara konsisten dalam kehidupan nyata maupun ruang digital.</p>2026-08-11T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1484Constructivism and Self-Regulated Learning in the Merdeka Curriculum: A Systematic Review of Students’ Cognitive and Participatory Engagement2026-08-12T10:53:32+07:00Adhiswar Azizi adhiswr@gmail.comAvita Aniqul Farikhah aniqulfar12@gmail.comNajwa Azizah Firdausi najwazids@gmail.comNur Jannah nurjannah250206@gmail.comGhaitsha Zahira Sofia ghaitshazahira1012@gmail.comNabilatus Salsabila nabilatussalsabila05@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>This study aims to examine the relationship between constructivism and Self-Regulated Learning (SRL) in enhancing students' cognitive and behavioral engagement and to explore its relevance to the implementation of the Merdeka Curriculum. This study employed a systematic literature review by analyzing ten peer-reviewed journal articles selected based on their relevance, credibility, and alignment with the research objectives. The collected data were synthesized using a descriptive-comparative approach to identify patterns, similarities, and differences across the selected studies. The results of this study indicate that constructivism and Self-Regulated Learning (SRL) have complementary roles in improving students' engagement. Across the ten selected studies, constructivism and SRL consistently promoted critical thinking, problem-solving, active participation, self-directed learning, and reflective learning practices. The synthesis also demonstrated that their integration supports the development of meaningful, student-centered learning environments, making it highly relevant to the implementation of the Merdeka Curriculum. This research provides a conceptual foundation for integrating constructivist learning and Self-Regulated Learning (SRL) strategies in classroom practice to enhance students' cognitive and behavioral engagement. This research also supports the implementation of the Merdeka Curriculum by highlighting the importance of student-centered, meaningful, and self-directed learning as essential components of effective educational practice.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-12T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisiplinerhttps://journal.amorfati.id/index.php/JIPSI/article/view/1486Integrasi Ilmu: Signifikansi dan Modelnya dalam Menggapai Kemajuan Peradaban Bangsa2026-08-10T11:39:18+07:00Khadijahkhadijah.nibras@gmail.comDede Rosyada dede.rosyada@uinjkt.ac.idAtabik Luthfi attabik@uid.ac.idSiti Uswatun Khasanah sitiuswatun@uid.ac.id<table> <tbody> <tr> <td> <p>Integrasi ilmu merupakan salah satu upaya strategis untuk mengatasi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum yang berkembang dalam tradisi pendidikan modern. Dikotomi tersebut tidak hanya berdampak pada perkembangan keilmuan umat Islam, tetapi juga memengaruhi kemampuan lembaga pendidikan Islam dalam merespons perkembangan sains, teknologi, dan berbagai persoalan masyarakat kontemporer. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pengertian, sejarah, signifikansi, paradigma, model, serta implementasi integrasi ilmu sebagai salah satu faktor yang dapat mendukung kemajuan peradaban bangsa. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi ilmu menempatkan berbagai disiplin keilmuan dalam suatu hubungan yang saling melengkapi dengan tauhid sebagai landasan epistemologis. Dalam perkembangannya, terdapat empat paradigma utama integrasi ilmu, yaitu islamisasi ilmu, ilmuisasi Islam, integrasi-interkoneksi, dan transdisipliner. Selain itu, berkembang berbagai model integrasi keilmuan, antara lain model IFIAS, ASASI, Islamic Worldview, Struktur Pengetahuan Islam, Bucaillisme, integrasi berbasis filsafat klasik, tasawuf, dan fikih. Implementasi integrasi ilmu di Indonesia tercermin dalam pengembangan kurikulum pendidikan serta transformasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam menjadi Universitas Islam Negeri yang mengembangkan ilmu agama, sosial-humaniora, sains, dan teknologi secara lebih terintegrasi. Integrasi ilmu dengan demikian memiliki posisi penting dalam menghapus dikotomi keilmuan, membangun kembali tradisi keilmuan Islam, serta menghasilkan sarjana Muslim yang mampu menguasai ilmu agama sekaligus sains dan teknologi. Penguatan implementasi integrasi ilmu diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan peradaban bangsa Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-08-12T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner